Cara Mengelola Stres dalam Kehidupan Sehari-hari
- 28 Apr 2026 10:20 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Stres menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dalam pekerjaan, keluarga, keuangan, maupun lingkungan sosial. Jika tidak dikelola dengan baik, stres dapat berkembang menjadi kecemasan bahkan depresi. Namun, stres tidak selalu bermakna negatif dan justru bisa menjadi dorongan untuk berkembang.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Dr. Ugung Dwi Ario Wibowo, M.Psi. menyebutkan stres merupakan respons tubuh terhadap tekanan, tuntutan, maupun situasi yang membuat seseorang keluar dari zona nyaman. Dalam Dialog Ruang Psikologi Pro 1 RRI Purwokerto, ia menjelaskan bahwa stres dapat menjadi hal positif jika dipandang sebagai tantangan.
“Jadi stres itu adalah respons atau reaksi kita terhadap faktor eksternal yang mengancam, memberi tekanan, atau membuat kita tidak berada di zona nyaman. Selama stress itu kita anggap tantangan, sebenarnya stres itu menjadi hal yang positif. Nah, ada memang stres yang masih dalam kendali yang kita masih mampu menanganinya,” ujar Ugung.
Ia menjelaskan dalam psikologi stres dibagi menjadi dua yakni eustress dan distress. Eustress merupakan stres positif yang masih bisa dikendalikan dan justru mendorong seseorang untuk berkembang, sedangkan distress adalah kondisi ketika tekanan sudah melebihi kemampuan atau ketidakmampuan dalam mengendalikan stres.
Menurutnya, pengelolaan stres dapat dimulai dari kondisi fisik. “ Yang pertama adalah kita kelola fisik dulu. Dari mulai hidup tenang yang bergantung pada 3 hal yaitu pola tidur, pola makan, dan pola olahraga. Pola tidur cukup dan berkualitas dilakukan selama 6-7 jam. Selain itu, bisa olahraga pernapasan dengan rumus 4 7 8. 4 detik tarik napas, 7 detik tahan dan dikeluarkan 8 detik karena oksigan akan menyuplai sampai ke otak sehingga otak kita bisa berpikir jernih,” jelasnya.
Selain fisik, Ugung juga menekankan pentingnya mengatur pola pikir, membangun support system, dan berani bersikap asertif. Ia menyebut orang yang terlalu sering memendam perasaan atau sulit mengatakan tidak cenderung lebih mudah stres. Dengan dukungan orang terdekat dan sudut pandang yang lebih sehat, stres dapat dikelola agar tidak berkembang menjadi kecemasan hingga depresi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....