Psikolog: Memaafkan Adalah Mengubah Emosi Bukan Ingatan

  • 22 Apr 2026 06:10 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Memaafkan sering kali disalahpahami sebagai upaya untuk melupakan luka masa lalu, padahal secara psikologis keduanya adalah hal yang berbeda. Memaafkan sejatinya merupakan proses aktif untuk mengubah emosi negatif menjadi positif, tanpa harus menghapus memori kejadian yang pernah menyakitkan agar seseorang dapat belajar dan mengantisipasi masalah serupa di masa depan.

Imam Faisal Hamzah dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menyampaikan pernyataan tadi dalam sesi Ruang Psikologi Pro 1 FM, Senin (6/4/2026). Ia menjelaskan bahwa memaafkan adalah urusan pribadi yang bertujuan untuk melepaskan beban emosional diri sendiri.

Diibaratkan orang yang tidak memaafkan seperti orang yang terus membiarkan paku menancap di kakinya sambil menunggu penyebar paku tersebut datang mencabutnya. "Memaafkan itu simpelnya merubah emosi negatif ke positif.

Bukan berarti kita menekan atau membuang memori terkait seseorang yang pernah menyakiti kita," ujar Imam Faisal. Ditambahkan bahwa melupakan justru berisiko karena dapat menghilangkan kewaspadaan atau upaya preventif dari kejadian serupa di kemudian hari.

Menurut Imam, tantangan terbesar dalam memaafkan adalah ego yang menuntut orang lain untuk berubah terlebih dahulu. Padahal, memaafkan adalah tindakan sepihak yang tidak selalu berarti harus berdamai sepenuhnya atau kembali menjalin hubungan, terutama pada kasus-kasus berat seperti kekerasan fisik.

Untuk membantu masyarakat menjadi pribadi pemaaf, Imam Faisal memaparkan metode "REACH" yang dikembangkan oleh psikolog Everett Worthington, yang terdiri dari lima tahap:

  1. Recall: Mengingat kembali peristiwa yang menyakitkan secara objektif.
  2. Empathize: Berusaha memahami posisi atau kondisi pelaku saat kejadian.
  3. Altruistic: Memberikan maaf sebagai hadiah tanpa pamrih.
  4. Commit: Berkomitmen untuk tetap pada keputusan memaafkan.
  5. Hold: Menjaga sikap memaafkan meski ada pemicu di masa depan.

Menutup perbincangan, Imam menekankan bahwa memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk tidak lagi terpenjara oleh masa lalu. Proses ini membutuhkan waktu dan latihan yang konsisten agar emosi negatif tidak lagi mendominasi pikiran saat teringat peristiwa pahit tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....