Hasil Pembelajaran Berbasis AI: Kunci Rebranding Citra ASN

  • 12 Agt 2026 15:55 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai diarahkan untuk memperkuat citra Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui hasil pembelajaran yang lebih nyata dan bermanfaat bagi masyarakat. Hal itu dibahas dalam Forum Eksekutif Pengembangan Kompetensi ASN 2026 bertema “Rebranding ASN melalui Transformasi Hasil Pembelajaran Berbasis Artificial Intelligence”, Rabu (12/8/2026).

Forum ini membahas pemanfaatan AI dalam pembelajaran ASN agar tidak hanya membantu menyelesaikan tugas, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi dan solusi yang berdampak pada kinerja serta pelayanan publik.

Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), Muhammad Taufik, mengatakan persoalan ASN saat ini juga berkaitan dengan bagaimana kerja dan inovasi mereka dilihat masyarakat. Menurutnya, banyak ASN yang sudah bekerja keras, tetapi hasilnya belum selalu tersampaikan dengan baik.

“Ini yang problemnya adalah problem branding,” ujarnya. Ia menilai lembaga pelatihan berperan strategis dalam meningkatkan kompetensi dan publikasi karya ASN. Komunikasi perlu bergeser dari kegiatan seremonial menuju konten yang berorientasi masyarakat, dengan komposisi 70% masyarakat, 20% karya ASN, dan 10% institusional, mencakup aspek learn, problem solving, impact, people, dan future.

Direktur Pembelajaran Manajerial Kepemimpinan LAN, Giri Sato Adji, kemudian menjelaskan bahwa AI dapat digunakan sebagai co-pilot dalam proses pembelajaran. AI tidak dimaksudkan menggantikan peserta, melainkan membantu meningkatkan produktivitas, kualitas berpikir, dan kemampuan menyajikan gagasan perubahan.

“Pilotnya adalah AI, bukan untuk menggantikan peserta pelatihan, melainkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas berpikir serta menyajikan gagasan perubahan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pengguna AI tetap memegang kendali, mulai dari menentukan ide, menyusun prompt, mengolah, hingga mengkurasi hasil. AI dapat mendukung penyusunan dan visualisasi produk pembelajaran kepemimpinan yang kemudian dipublikasikan agar manfaatnya berkelanjutan.

Deni Junanto menekankan bahwa pemanfaatan AI dalam pelatihan dasar CPNS harus berorientasi pada public value. Laporan aktualisasi tidak cukup menjadi dokumentasi, tetapi harus menunjukkan solusi, manfaat, dan dampak yang terukur.

“Fokus barunya adalah bagaimana AI itu bisa membuat CPNS berpikir lebih baik, menghasilkan solusi lebih baik dan menunjukkan dampak nyata,” kata Deni.

Ia juga menyatakan bahwa AI dapat membantu ASN mengeksplorasi isu, melakukan brainstorming, merangkum dokumen nonrahasia, dan menganalisis data, sementara observasi serta validasi tetap dilakukan manusia. Keberhasilan dinilai dari keaslian masalah, kualitas bukti, ketepatan solusi, manfaat, dampak, etika penggunaan AI, serta kemampuan menjelaskan proses berpikir.

Dalam penutup diskusi dikemukakan bahwa hasil pembelajaran perlu dikembangkan menjadi aset pengetahuan yang dapat digunakan kembali, seperti SOP, service journey, prototipe layanan, dan dashboard sederhana, melalui repository atau learning product gallery. Produk tersebut juga perlu terus diperbarui berdasarkan dampaknya agar publik dapat melihat keterkaitan antara kompetensi ASN, inovasi, kinerja, dan kualitas pelayanan. Forum ini diharapkan mendorong kolaborasi antarlembaga pelatihan dan memperkuat ekosistem pembelajaran ASN yang adaptif, inovatif, profesional, serta berdampak nyata bagi masyarakat. (Fauziyah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....