Alumni UIN Saizu Raih Dana Indonesiana, Dokumentasikan Angguk-Aplang Klampok
- 11 Agt 2026 11:49 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Alumni Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, M. Umar Ibnu Malik, berhasil memperoleh dukungan Dana Indonesiana melalui program pemajuan kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Dukungan tersebut diperoleh melalui proposal berjudul “Ali Isrofi dan Memori Angguk-Aplang” dalam kategori Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro atau Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Rawan Punah.
Melalui program tersebut, Malik akan mendokumentasikan kesenian Angguk dan Aplang yang berkembang di Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara. Dokumentasi akan mengangkat sosok Ali Isrofi, maestro Angguk dan Aplang yang hingga kini masih aktif mempertahankan kesenian tradisional tersebut.
Malik mengatakan, Ali Isrofi memiliki pengetahuan penting mengenai bentuk tradisional Angguk dan Aplang yang semakin sulit ditemukan akibat terbatasnya regenerasi pelaku kesenian rakyat.
“Ali Isrofi merupakan salah satu sedikit pelaku seni yang masih memahami bentuk asli Angguk dan Aplang. Pengetahuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan, tetapi juga mencakup lagu-lagu pakem, pola gerak, instrumen tradisional, pembacaan Barzanji, hingga tata ritual yang menyertainya,” kata Malik.
Ia menjelaskan, dokumentasi akan dilakukan melalui video yang merekam perjalanan Ali Isrofi dalam mempelajari kesenian rakyat Banyumasan, keterlibatannya dalam kelompok pertunjukan, hingga upayanya mempertahankan Angguk dan Aplang sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Klampok.
Selain video dokumenter, program tersebut juga akan menghasilkan buku berjudul “Angguk-Aplang Klampok: Tradisi, Dakwah, dan Konservasi”.
Buku tersebut akan mengulas sejarah perkembangan Angguk dan Aplang di Klampok, kaitannya dengan perkembangan Islam lokal, struktur pertunjukan, filosofi lagu dan gerak tari, penggunaan instrumen tradisional, hingga tata ritual dalam pertunjukan.
Malik menilai dokumentasi tersebut penting untuk menyelamatkan pengetahuan budaya yang selama ini tersimpan dalam ingatan dan pengalaman para pelaku seni.
Menurutnya, tantangan regenerasi dan kevakuman pertunjukan membuat keberlangsungan Angguk dan Aplang semakin bergantung pada sejumlah maestro yang masih bertahan.
Jika tidak segera didokumentasikan dan diwariskan, sebagian unsur penting kesenian tersebut dikhawatirkan ikut hilang seiring berkurangnya pelaku yang menguasainya.
Dosen UIN Saizu yang membimbing Malik dalam penyusunan proposal, Dr. Dimas Indianto Sastronagoro, mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Malik memperoleh dukungan Dana Indonesiana menunjukkan peran alumni perguruan tinggi dalam pemajuan kebudayaan.
“Ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan. Malik tidak hanya mengajukan sebuah proposal, tetapi membawa persoalan penting mengenai bagaimana pengetahuan maestro dan kesenian yang rawan punah dapat diselamatkan melalui dokumentasi,” ujar Dimas.
Ia mengatakan, pengetahuan tradisional tidak selalu tersimpan dalam bentuk arsip tertulis. Sebagian besar justru hidup melalui praktik, ingatan, pengalaman, dan proses pewarisan langsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, dokumentasi maestro dinilai tidak sekadar merekam perjalanan seorang seniman, tetapi juga menjadi upaya menyelamatkan pengetahuan budaya masyarakat.
Bagi UIN Saizu, capaian tersebut sekaligus menunjukkan kontribusi alumni dalam menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan kebudayaan di masyarakat.
Dokumentasi Angguk dan Aplang diharapkan dapat menjadi arsip kebudayaan sekaligus sumber pengetahuan bagi generasi mendatang, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan meneruskan kesenian tradisional dari Klampok.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....