Halaqah Pesantren Putri di Banjarnegara, Menteri PPPA Ajak Wujudkan Ponpes Aman

  • 11 Mei 2026 13:07 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banjarnegara– Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dra. Hj. Arifah Choiri Fauzi, M.Si mengajak seluruh pengasuh pesantren untuk bersama-sama mewujudkan pondok pesantren yang aman, bebas kekerasan, serta menjunjung tinggi nilai pendidikan dan kasih sayang.

“Mari bersama-bersama kita wujudkan pondok pesantren yang aman, bebas kekerasan, menjunjung tinggi nilai pendidikan dan kasih sayang. Santri selama 24 jam berada dalam pengasuhan pesantren, bukan bersama orang tuanya, sehingga menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan aman,” kata Menteri saat membuka Halaqah (diskusi) Interaktif Pengasuh Pesantren Putri se-Jawa Tengah dan Pelatihan Musyrifah se-Karesidenan Banyumas di Pendapa Dipayudha Adigraha, Minggu (10/5/2026).

Menurut Arifah, terdapat empat pilar utama keamanan santri yang harus menjadi perhatian seluruh pengelola pesantren, yakni aman secara jasmani, aman kehormatan, aman perasaan dari perundungan (bullying), serta nyaman dalam belajar.

“Santri harus terlindungi secara fisik, terjaga martabat dan kehormatannya, tidak mengalami tekanan psikis akibat bullying, dan mendapatkan ruang belajar yang nyaman agar tumbuh menjadi generasi unggul,” tegas Arifah.

Kegiatan yang diprakarsai Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Tengah ini diikuti sekitar 350 peserta, terdiri atas 250 pengasuh pesantren putri dari seluruh Jawa Tengah dan 100 musyrifah dari wilayah Karesidenan Banyumas. Forum mengusung tema “Dari Pesantren untuk Pesantren: Membangun Sistem Perlindungan Santri Berbasis Nilai Pesantren di Jawa Tengah.”

Ketua RMI PWNU Jawa Tengah KH Ahmad Fadlullah Turmudzi mengatakan, halaqah ini menjadi langkah konkret memperkuat sistem perlindungan santri dari dalam lingkungan pesantren.

Menurutnya, pengasuh pesantren putri memiliki posisi strategis sebagai penjaga marwah pesantren sekaligus pembuat sistem yang memastikan pendidikan berjalan dalam koridor kasih sayang dan keadilan.

Sementara itu Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana menyampaikan apresiasi atas kepercayaan menjadikan Banjarnegara sebagai tuan rumah kegiatan tersebut.

“Pesantren memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi bangsa. Karena itu, menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan ramah anak adalah investasi masa depan yang sangat penting,” katanya.

Dalam forum tersebut, peserta mendapatkan materi terkait implementasi Peraturan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pesantren Ramah Anak, pemahaman Undang-Undang Perlindungan Anak, pencegahan kekerasan seksual, hingga pelatihan konseling dasar dan deteksi dini persoalan psikologis santri.

Forum juga menghadirkan narasumber dari kalangan pengasuh pesantren, advokat perlindungan anak, dan akademisi psikologi untuk memperkuat kapasitas musyrifah dalam mendampingi santri secara profesional.

Di akhir kegiatan, peserta merumuskan rekomendasi kebijakan dan mendeklarasikan komitmen bersama pembentukan Satuan Tugas Perlindungan Santri di masing-masing pesantren sebagai langkah nyata mewujudkan pesantren ramah anak dan perempuan di Jawa Tengah.

Pada kesempatan tersebut hadir pula Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin, pengurus NU wilayah Jawa Tengah, dan tokoh perempuan dari kabupaten.*** (Tim Kominfo_mjp/send/rif).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....