Strategi Komdigi Perkuat Literasi Digital Berbasis 5 Sila

  • 31 Jul 2026 13:54 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID Purwokerto - Ruang digital bukan sekedar sarana komunikasi, melainkan medan pertempuran identitas bangsa yang harus dikelola dengan nilai-nilai luhur pancasila. Bersama Kementerian Komunikasi Digital Republik Indonesia bersama Komisi I DPR RI menggelar Forum Diskusi Publik bertajuk "Penguatan Ideologi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari dan Bermasyarakat", yang dihadiri oleh peserta berbagai kalangan secara daring di kanal Live Streaming Youtube @ditjenkpm pada Kamis (30/7/2026).

Forum ini bertujuan untuk memperkokoh pemahaman nilai-nilai Pancasila di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan ruang digital. Dengan menghadirkan Anggota DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si., beserta para pakar dan praktisi komunikasi publik. Acara dibuka dengan menekankan penguatan Pancasila di era modern tidak lagi sebatas hafalan sila, melainkan tindakan nyata dalam menjaga persatuan, saling menghormati di ruang publik, serta membentengi diri dari pengaruh negatif di dunia maya.

Yang nyatanya tantangan di ruang digital tentunya sangat besar, penetrasi internet di indonesia saja sangat tinggi, mencapai 80,7% dengan durasi penggunaan media sosial setiap harinya, yang menciptakan celah penyebaran konten negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, hingga jeratan judi online yang menyasar kelompok ekonomi rentan. Algoritma tersebut yang sering kali memperburuk keadaan dengan konten yang memecah belah, yang secara langsung bertentangan dengan Sila ke-3, Persatuan Indonesia.

"Kita harus menyebarkan konten positif melawan hoaks yang memevah belah da membangun narasi kebangsaan yang inklusif," ungkap Anton Sukartono. Inilah suatu intruksi untuk bersikap aktif bagi kita, daripada hanya diam atau menjadi korban hoaks, masyarakat juga didorong untuk menjadi kreator konten yang menyebarkan kedamaian dan toleransi.

Pentingnya di sini bahwa implementasi nilai Pancasila di ruang digital dapat diwujudkan melalui prinsip saring sebelum sharing, berpikir kritis terhadap informasi yang diterima, serta tidak mudah tergiur oleh tawaran manis kejahatan digital. Masyarakat diimbau untuk terus mengasah kemampuannya dalam menyaring konten agar tidak terjebak dalam disinformasi.

"Ancaman terbesar saat ini adalah masuknya ideologi dan pemikiran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kita, terutama masuknya lewat ruang digital," ujar Aisyah Ilyas selaku Pegiat Literasi Digital. Ia menyoroti bahwa bahaya masa kini bukan lagi serangan fisik, melainkan paparan ideologi radikal atau nilai asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia yang tersebar secara cepat melalui media sosial.

Pancasila berperan sebagai kompas moral, tidak boleh hanya menjadi hafalan di ruang kelas, melainkan harus diimplementasikan sebagai filter utama dalam berperilaku di dunia maya. Penerapan nilai Pancasila di era digital dapat dijabarkan sebagai berikut:

Sila ke-1, menjaga toleransi dan menolak diskriminasi terhadap perbedaan keyakinan. Sila ke-2, menjunjung etika digital, menolak perundungan siber (cyber bullying), dan menghargai privasi orang lain. Sila ke-3, menjadikan media sosial sebagai wadah pemersatu, bukan alat untuk memprovokasi atau saling menghujat. Sila ke-4, membangun budaya diskusi yang inklusif dan santun, serta mengedepankan musyawarah dalam berpendapat. Dan Sila ke-5, memanfaatkan teknologi untuk menciptakan keadilan sosial dan membantu sesama yang membutuhkan.

"Pancasila merupakan tanggung jawab kita semua, pemerintah, akademisi, DPR RI, anak muda, orang tua, semuanya perlu menjaga nilai Pancasila di ruang digital ataupun di tengah masyarakat," sambung Dr. Rosarita Niken Widiastuti selaku Ketua Komisi Kemitraan, Hubungan Antar Lembaga, dan Infrastruktur Dewan Pers.

Para narasumber menegaskan bahwa pengamalan nilai Pancasila di ruang digital dapat diwujudkan melalui perilaku yang santun, adil, bijaksana, serta produktif. "Di dunia maya kita semua punya cerita, kita semua bisa berkarya. Selama hati masih berdebar, semakin cakap kita beri yang terbaik untuk dunia. Mari berlari bersama menggapai mimpi tanpa perundungan," menjadi pesan penutup yang membakar semangat para peserta untuk menciptakan ekosistem digital Indonesia yang sehat, berintegritas, dan berlandaskan Pancasila. (Fattah Zakaria)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....