Apa Saja Aktivitas yang Bisa Dilakukan Jamaah Haji di Madinah
- 07 Mei 2025 15:28 WIB
- Purwokerto
KBRN, Banjarnegara: Ada sebuah pepatah bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Namun hal itu tidak berlaku bagi para jamaah haji yang saat ini sedang berada di Madinah.
Sembari menunggu saat prosesi haji yang berpusat di Mekah, mereka dapat melakukan banyak hal dan memiliki nilai ibadah yang tinggi. Pembimbing Haji Daerah Banjarnegara Afit Juliet Nurcholis, Rabu (7/5/2025) mengungkapkan, berbagai aktivitas dapat dilaksanakan oleh para jamaah haji.
“Hal pertama yang dapat dilakukan tentu saja Arbain. Arbain adalah praktik salat wajib berjamaah di Masjid Nabawi selama empat puluh waktu berturut-turut. Salat ini dilakukan secara berjamaah dan merupakan amalan sunnah yang banyak diusahakan oleh jemaah haji dan umroh selama berada di Madinah,” jelas Pengasuh Ponpes Mumtaza Prapas Banjarnegara ini. .
Kedua, tambah Afit, adalah mengambil sanad surat al fatihah di area masjid Nabawi. “Ini kesempatan yang langka dan berharga, untuk mengambil sanad al fatihah dan mentashih bacaan kita. Hal ini penting karena alfatihah adalah rukun sholat. Jangan malu-malu menghadap syaikh antara maghrib dan isya di tiang-tiang masjid Nabawi,” ajak Afit.
Para syaikh tersebut biasa menghadapi 10-12 orang yang sedang belajar memperbaiki bacaan al fatihah. Ketiga, city tour. Aneka tempat wisata bersejarah terdapat di Madinah. Mulai dari Kawasan Masjid Nabawi yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki, sampai wilayah lain yang bisa ditempuh menggunakan bus.
Jamaah Haji KBIH Miftahul Jannah Banjarnegara misalnya, mereka sudah melakukan kunjungan ke Saqifah Bani Sa'idah, Makam Rasulullah SAW, Ziarah ke Maqbarah Baqi', mengunjungi Masjid Sayyidina Ali, mengunjungi Masjid Abu Bakar, Masjid Kuba dan mengunjungi Masjid Ghamamah. Para jamaah juga dapat mengunjungi bukit Uhud yang terkenal sebagai tempat perang Rosululloh, mengunjungi Jabal Magnet hingga kebun kurma Abu Ali.
Afit berpesan agar selama menjalankan ibadah haji, para jamaah berlaku sebagai tamu yang baik di negeri orang. “Tamu itu seperti mayyit. Nurut kepada tuan rumahnya. Apapun yang diberikan di terima dengan senang hati. Kita menjadi tamu Allah, dhuyyufurrohman, di dua tanah suci. Maka apapun yang Allah berikan kepada kita, hanya syukur dan tahmid yang kita lakukan,” pesan Afit.
Afit juga berharap agar jamaah juga senantiasa waspada, karena meskipun di tanah suci, bukan berarti modus kejahatan tidak ada. Misalnya beberapa hari yang lalu ada orang yang menaiki bus jamaah haji Indonesia, lalu mengaku petugas Maktab, dan kemudian meminta sumbangan untuk wakaf Quran senilai 300 ribu rupiah atau 70 Real. Afit menegaskan, nanti petugas haji Indonesialah yang akan mengakomodir infaq untuk wakaf Quran. Bahkan para jamaah sendiri yang nantinya akan meletakkan Quran wakaf di masjid Nabawi. Jangan memberikan kepada orang asing yang tidak jelas,
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....