Esensi Karya Sastra: Membuka Mata Lebih Luas Terhadap Ragam Kehidupan
- 24 Jun 2026 08:56 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Dalam dunia yang semakin terkotak-kotak, kemampuan sastra yang mampu menumbuhkan empati dan keragaman perspektif menjadi tak ternilai. Studi menunjukan, para pembaca sastra secara signifikan lebih mampu membuka mata terhadap isu-isu sosial yang kompleks. Inilah esensi mengapa sastra bukan sekedar hiburan, melainkan sebuah latihan intensif yang membuat kita mampu membuka mata lebih luas terhadap ragam kehidupan.
Dalam Siaran Apresiasi Seni dan Sastra Pro 2 RRI Purwokerto yang membahas tema “Sastra Membuka Mata Lebih Luas” menghadirkan dua narasumber, yaitu dosen dan penulis Bayu Sutta Wardianto dan Pegiat literasi Muhammad Umar Ibnu Malik. Mereka menyoroti tentang peran penting sastra dan literasi dalam membuka wawasan dan memperluas perspektif hidup.
Bayu, seorang dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia dan kepenulisan di UIN Saizu dan Universitas Amikom Purwokerto, menjelaskan bahwa sastra bukanlah sekedar hiburan. Ia menceritakan bagaimana pengalaman membaca cerpen sejak awal perkuliahan telah memantik kecintaannya pada sastra.
Menurutnya, karya sastra, meskipun fiksi, menyimpan realitas sosial, sejarah, memori bahkan pembelajaran hidup. Menurutnya sastra juga bersifat multitafsir, setelah karya lahir, pembaca yang kritis memiliki peran besar dalam menemukan makna baru, bahkan yang mungkin tidak disadari oleh penulis aslinya.
Muhammad Umar Ibnu Malik, seorang pegiat literasi, mengakui bahwa keterlibatanya di dunia benyak dipengaruhi oleh karya -karya sastra yang tanpa disadari membentuk proses kehidupannya. Ia menekankan bahwa keterampilan menulis dan bersastra bukanlah bakat lahir, melainkan keterampilan yang dapat diasah melalui Input yang konsisten dengan membaca. Tegasnya
Umar juga menyarankan agar pembaca tidak membatasi diri dan membaca secara komprehensif untuk mendapatkan berbagai sudut pandang kebenaran. Namun, bayu menambahkan pentingnya selektivitas seiring bertambah usia. Ia menyarankan pembaca usia 20-an ke atas untuk memilih bacaan yang lebih selaras dengan perkembangan pola pikir dalam pengambilan keputusan.
Dengan demikian, apresiasi terhadap sastra bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga pintu gerbang untuk memperluas wawasan dan mengasah kepekaan dalam menyikapi kompleksitas kehidupan sehari – hari. Membaca sastra adalah upaya proaktif untuk terus belajar. Melalui karya sastra, kita tidak hanya membaca cerita, tetapi juga membentuk dan mematangkan proses kehidupan itu sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....