Dagelan Calung "Asmara Suta" Hidupkan Banyumas Culture Festival 2026

  • 16 Feb 2026 21:25 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Rintik hujan sempat turun sesaat sebelum pentas dagelan calung dimulai di Hetero Space, Minggu malam (15/2/2026). Meski cuaca kurang bersahabat, antusiasme warga tak surut. Pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum terus berdatangan dan memadati area pertunjukan yang menjadi bagian dari rangkaian Banyumas Culture Festival.

Kisah dibuka dengan adegan sederhana: Suta pulang mencari rumput lalu bergegas ke kandang kuda. Dari pembuka itu, alur berkembang menjadi dagelan yang jenaka, menyentil, sekaligus sarat makna. Dialog-dialog bernuansa Banyumasan yang kental berulang kali memantik tepuk tangan penonton dan membuat suasana terasa semakin hidup.

Bagi penonton generasi 90-an, nuansa komedi panggung ini mengingatkan pada tayangan lenong bocah di televisi dengan tokoh-tokoh seperti Oky Lukman. Sementara generasi 2000-an lebih akrab dengan komedi modern bergaya Opera Van Java yang dibawakan figur seperti Sule, Parto, dan Aziz Gagap.

Di tengah perkembangan hiburan, dagelan calung Banyumas tetap menonjol lewat ciri khasnya sendiri. Guyonan lokal, logat ngapak, dan ritme dialog yang dinamis membuat penonton mudah larut.

Salah satu bagian yang mencuri perhatian adalah perjumpaan Adipati Kutaliman dengan Suta. Humor yang dilontarkan terasa dekat dengan keseharian, sehingga tawa mengalir alami tanpa kesan dibuat-buat.

Ketegangan bercampur kelucuan memuncak saat tokoh Ular Rangon muncul dan mengancam putri Adipati Kutaliman. Adegan yang dibalut komedi itu sukses menggiring emosi penonton—dari tegang lalu pecah oleh tawa. Pertunjukan ini menunjukkan dagelan calung masih memiliki basis penonton kuat, meski kini publik dibanjiri konten media sosial bernada keras dan penuh polemik.

Sejumlah penonton mengaku puas. Dian, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto, menilai pentas “Asmara Suta” bukan sekadar menghibur.

“Ini bukan cuma hiburan, tapi ada pesan positif yang bisa kita ambil,” ujarnya.

Seniman senior Tejo dari Susukan, Banjarnegara, turut mengapresiasi pementasan tersebut dengan beberapa masukan. Ia menilai bagian awal masih bisa diperkuat dari sisi tempo, jeda, dan intonasi agar punchline terasa lebih mengena.

Meski demikian, ia melihat pertunjukan ini menghadirkan warna segar, dan Sanggar Seni Samudra dinilai berpotensi berkembang dalam khazanah seni Banyumasan.

Pentas dagelan calung ini dimainkan delapan pemain dengan durasi sekitar satu jam. Ceritanya berangkat dari legenda asal-usul Baturraden—kisah cinta putri Adipati Kutaliman dengan seorang abdi yang kemudian pergi dan membuka cikal bakal wilayah tersebut.

Iringan musiknya pun tidak semata calung tradisional. Pertunjukan memadukan instrumen modern, disebut sebagai terobosan pertama di Banyumas. Komedi dikemas dengan pendekatan kekinian—memasukkan nuansa stand-up dan gaya opera—namun tetap menjaga ruh Banyumasan. Hasilnya terasa segar, relevan, dan tetap membumi.

Di bawah gerimis yang sempat turun, dagelan calung “Asmara Suta” menegaskan bahwa seni tradisi Banyumas masih terus bernapas panjang: menjadi ruang pertemuan antara hiburan, pesan moral, dan identitas lokal yang terus beradaptasi dengan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....