Mie Ayam NamiRhea: Bangun Usaha dari Nol, Andalkan Kualitas dan Strategi Pemasaran

  • 15 Sep 2026 10:11 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Mie ayam menjadi salah satu makanan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai usaha kuliner. Di balik semangkuk mie ayam, terdapat proses panjang mulai dari keberanian memulai usaha, mengenali kebutuhan pasar, menjaga kualitas rasa, hingga menentukan strategi pemasaran agar produk mampu bertahan di tengah persaingan. Hal tersebut dibahas dalam program UMKM Bicara Pro 1 RRI Purwokerto bersama Lukman Harun selaku Owner Mie Ayam NamiRhea, pada Senin (14/9/2026).

Dengan mengusung tema “Mie Ayam sebagai Pilihan Usaha”, perbincangan tersebut menyoroti pengalaman Lukman dalam membangun usaha mie ayam dari tahap awal hingga berkembang menjadi beberapa outlet. Menurutnya, keberanian untuk memulai menjadi salah satu langkah penting, terutama ketika pelaku usaha belum memiliki modal besar maupun pasar yang luas.

Perjalanan usaha Mie Ayam NamiRhea telah dimulai sejak 2014 ketika dirinya masih merantau di Jakarta. Pada 2018, ia bersama keluarga kemudian pindah ke Solo dan tetap menjalankan usaha mie ayam. Setelah kembali ke kampung halaman karena kondisi keluarga, Lukman memutuskan untuk melanjutkan usaha tersebut di daerah asalnya.

“Awalnya yo karena dari perantauan kami pulang ke kampung ini agak berat. Agak beratnya kenalan belum ada kurang dan sebagainya. Tapi berjalannya waktu alhamdulillah kami banyak kenalan, banyak relasi dan itu mungkin langkah awal kami memberanikan diri untuk membuka mie ayam di kampung,” ujar Lukman.

Nama NamiRhea sendiri berasal dari nama kedua anak perempuan Lukman, yakni Namira dan Rhea. Nama tersebut kemudian digunakan sebagai identitas usaha yang terus dikembangkan hingga saat ini.

Dalam membangun usaha, Lukman tidak langsung membuka warung. Dengan kondisi modal yang terbatas, ia memilih memulai dari skala kecil dengan memanfaatkan peralatan yang tersedia. Ia bahkan meminjam panci milik mertuanya untuk memasak mie ayam.

“Jadi NamiRhea itu berawal dari jualan keliling, Mbak. Jualan keliling itu bukan yang kami dorong gerobak, Mbak. Tapi saya pinjam pancinya mertua waktu itu. Pinjam panci itu untuk ngerebus mie ayamnya, jadi kami berawal dari dapur kecil memang,” jelas Lukman.

Lukman akan menginformasikan kepada calon pelanggan melalui media sosial mengenai mie ayam yang akan dijual keesokan harinya. Setelah ada pesanan, mie ayam dibuat di dapur rumah kemudian diantarkan kepada pelanggan. Dari satu pelanggan, kemudian bertambah menjadi beberapa pelanggan hingga produk mulai dikenal di tingkat desa dan kecamatan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam memulai usaha, pelaku usaha tidak harus langsung memiliki tempat besar. Produk perlu diperkenalkan terlebih dahulu kepada masyarakat agar terbentuk pasar yang dapat menopang perkembangan usaha.

Setelah semakin dikenal, Mie Ayam NamiRhea kemudian mulai memiliki outlet. Saat ini, usaha tersebut telah berkembang dan memiliki empat outlet, yaitu di Legok Pekuncen, Kalikidang Sokaraja, Kalierang Bumiayu, dan Pliken Kembaran.

Lukman menilai tantangan usaha kuliner saat ini tidak hanya berkaitan dengan modal. Persaingan yang semakin banyak membuat pelaku usaha perlu memikirkan bagaimana produknya dikenal oleh masyarakat.

Menurutnya, membuka warung saja tidak cukup jika masyarakat belum mengetahui produk yang ditawarkan. Karena itu, ia memilih membangun pasar terlebih dahulu sebelum memperluas usaha.

“Kalau sekarang saya melihat bagaimana kita itu membangun pasarnya dulu. Orang itu tahu kita dulu. Kita itu basicnya apa? kita jualan mie ayam,” ungkapnya.

Strategi tersebut kemudian diterapkan dengan memperkenalkan produk secara bertahap kepada masyarakat di berbagai wilayah. Ia juga memiliki gagasan untuk memperluas jangkauan pasar dengan menyasar wilayah yang berbeda agar usaha tidak hanya bergantung pada satu daerah.

Lukman menilai keberadaan pelanggan yang kembali membeli menjadi salah satu indikator bahwa produk dapat diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu mengetahui apakah konsumen benar-benar menyukai produknya atau hanya membeli karena penasaran.

Selain membangun pasar, kualitas produk juga menjadi perhatian utama. Lukman mengatakan bahwa dirinya terlebih dahulu belajar membuat mie ayam sebelum akhirnya mampu menjalankan usaha sendiri. Proses tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari mencuci peralatan, melayani pelanggan, membuat bumbu, hingga memahami proses produksi.

Seiring berkembangnya usaha dan bertambahnya outlet, menjaga konsistensi rasa menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengantisipasi perbedaan rasa ketika proses produksi dilakukan oleh orang lain, Lukman bersama istrinya mencatat takaran bahan dan bumbu yang digunakan.

“Secara resep saya benar-benar saya taker dulu, Mbak sebelum rasa itu jatuh ke market itu saya ibaratnya sama istri itu sudah nyatat-nyatat dulu ini takarannya berapa ya, supaya ketika ada yang menggantikan untuk jualan itu bahasa kerennya itu kita sudah punya standar operasional,” jelasnya.

Mie Ayam NamiRhea juga memiliki ciri khas pada warna mie ayam yang cenderung cokelat serta penggunaan kacang sebagai salah satu pelengkap. Menurut Lukman, cita rasa tersebut disesuaikan dengan selera masyarakat di wilayah tempat usahanya berkembang.

Ia menilai pelaku usaha harus mampu mengikuti kebutuhan pasar, bukan memaksakan konsumen untuk mengikuti produk yang dibuat. Hal tersebut menjadi salah satu bentuk penyesuaian usaha terhadap karakteristik konsumen di setiap daerah.

Selain rasa, Lukman juga menekankan pentingnya menjaga pelayanan dan kebersihan. Menurutnya, konsumen tidak hanya mempertimbangkan rasa makanan, tetapi juga pengalaman ketika berada di tempat usaha.

Persaingan menjadi bagian yang tidak dapat dihindari dalam menjalankan usaha kuliner. Lukman mengaku pernah menghadapi kondisi ketika warung mie ayam lain berdiri tidak jauh dari outlet miliknya.

Situasi tersebut mendorongnya untuk mencari keunggulan yang dapat membedakan Mie Ayam NamiRhea dari kompetitor. Salah satunya dilakukan melalui kemasan yang lebih rapi dan penyediaan perlengkapan tambahan seperti sumpit, pangsit, serta saus sambal secara terpisah.

“Saya pernah dikasih tahu gini jadilah seseorang itu yang berbeda. Berbeda dalam artian adalah berbeda yang baik gitu ya, Mbak,” ujar Lukman.

Perbedaan tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar. Memberikan satu nilai lebih dibandingkan usaha lain dapat menjadi alasan bagi konsumen untuk memilih suatu produk.

Untuk mengetahui kebutuhan konsumen sekaligus mempelajari strategi kompetitor, Lukman juga rutin mengunjungi tempat makan lain. Ia mengamati pelayanan, rasa, kebersihan, hingga cara sebuah usaha menarik perhatian pelanggan.

Selain kualitas produk dan pelayanan, pemasaran melalui media sosial menjadi bagian penting dalam perkembangan Mie Ayam NamiRhea. Lukman memanfaatkan TikTok dan Instagram untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat.

Promosi juga dilakukan dengan melibatkan pelanggan. Momen pelanggan menikmati mie ayam dapat didokumentasikan dan diunggah ke media sosial dengan persetujuan mereka. Cara tersebut dinilai dapat membantu memperluas pengenalan produk melalui jaringan keluarga maupun orang-orang yang melihat konten tersebut.

Mie Ayam NamiRhea juga memanfaatkan layanan pesan antar melalui platform digital. Konsumen dapat memesan melalui WhatsApp untuk wilayah tertentu maupun melalui layanan seperti GrabFood dan ShopeeFood.

Bagi Lukman, pemasaran daring memberikan peluang tambahan karena penjualan tidak hanya bergantung pada konsumen yang datang langsung ke outlet. Dengan menggabungkan pemasaran offline dan online, jangkauan konsumen dapat diperluas.

Dalam kesempatan tersebut, Lukman juga memberikan pandangan bagi masyarakat yang ingin memulai usaha mie ayam dengan modal terbatas.

“Kalau saya pribadi itu lebih berpendapat ya kita satu menu dulu tapi memang bisa diterima di masyarakat, Mbak, karena memang kita modal terbatas,” jelas Lukman.

Ketika modal masih terbatas, pengelolaan bahan juga harus dilakukan secara hati-hati. Pelaku usaha perlu menghitung kebutuhan produksi agar tidak terlalu banyak menyediakan bahan yang berisiko tidak terjual atau rusak.

Pengelolaan keuangan usaha juga harus diperhatikan sejak awal. Lukman mengaku pernah mencampurkan uang pribadi dengan uang usaha ketika baru memulai bisnis. Kondisi tersebut membuat pengelolaan keuangan menjadi tidak teratur.

Setelah mengikuti pelatihan pengelolaan keuangan UMKM, ia mulai memisahkan keuangan pribadi dan usaha serta membagi dana berdasarkan kebutuhan masing-masing. Menurutnya, langkah tersebut penting agar perkembangan usaha dapat dipantau dengan lebih jelas.

Ke depan, Lukman tidak hanya menargetkan perkembangan usaha dari sisi jumlah outlet maupun pendapatan. Ia berharap usaha yang dijalankan bersama keluarga dapat memberikan manfaat bagi orang lain, termasuk membuka kesempatan kerja. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....