Siasat Unik Warung Purwokerto Pertahankan Harga Rp 1.000

  • 29 Jul 2026 08:35 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Sebuah warung jajanan pasar di kawasan Purwokerto berhasil mempertahankan harga jual Rp1.000 per potong selama tujuh tahun terakhir. Di tengah kenaikan harga bahan baku seperti tepung, warung ini memilih jalan berbeda dari kebanyakan pedagang lain. Mereka tidak menaikkan harga jajanan, namun memperkecil ukurannya.

Asnawi, salah satu penjual di warung tersebut, sudah bekerja di sana selama enam tahun. Ia menceritakan bahwa harga seribu rupiah berlaku sejak awal warung berdiri dan tidak pernah berubah sampai sekarang.

“Harganya seribu, dari dulu. Semuanya seribu,” kata Asnawi.

Menurutnya, menaikkan harga bukan pilihan mudah. Warung ini lebih memilih menyesuaikan porsi setiap kali harga bahan baku naik.

“Emang dari dulu kayak gitu. Harganya seribu. Kalau mau dinaikkan juga susah. Yang penting seribu itu udah cukup, ada lebihnya,” ujar Asnawi.

Strategi ini menjaga margin keuntungan tanpa membebani konsumen. Setiap kali biaya produksi naik, ukuran jajanan menyusut sedikit. Harga tetap sama.

Asnawi mengungkapkan penjualan jajanan tidak merata sepanjang minggu. Hari Senin hingga Jumat cenderung sepi. Akhir pekan menjadi waktu paling ramai.

“Kalau dari Senin sampai Jumat, buat pemasukan itu agak kurang. Tapi dari Sabtu-Minggu itu lumayan. Rame,” katanya.

Warung ini juga punya cara khusus mengatasi risiko jajanan yang tidak terjual habis. Sisa jajanan tidak dibuang. Sisa jajanan diberikan sebagai pakan ikan, karena pemilik warung juga menjalankan usaha peternakan ikan.

“Buat makan ikan. Bosnya juga peternak ikan,” kata Asnawi.

Cara ini menekan kerugian akibat jajanan yang tidak laku sekaligus memanfaatkan sisa produksi secara lebih efisien.

Semua jajanan di warung ini dibuat sendiri di lokasi yang sama. Pekerja bergantian menjaga warung siang dan malam, meski warung tidak beroperasi selama 24 jam penuh. Pemilik warung sendiri tidak menetap di lokasi dan hanya sesekali datang untuk memantau usaha.

Maryono, warga Purwasari, menjadi salah satu pelanggan tetap warung jajanan serba seribu ini. Menurutnya, jajanan dengan harga seribu rupiah terjual cukup cepat, terutama saat konsumen membeli dalam jumlah banyak untuk kebutuhan acara.

“Kalau yang serba seribu itu penjualannya lumayan agak cepat. Kalau orang beli biasanya paketan,” ujar Maryono.

Ramainya penjualan di akhir pekan turut selaras dengan kebiasaan konsumen yang kerap membeli jajanan dalam jumlah besar untuk kebutuhan acara warga. Maryono menyebut ada sekitar tiga orang yang bekerja memproduksi jajanan ini. Sebagian jajanan kering dibuat di rumah, sementara jajanan basah diproduksi langsung di lokasi warung.

Ia menilai keberadaan jajanan murah seperti ini cukup membantu konsumen, terutama di tengah harga jajanan pasaran yang kini banyak menyentuh angka Rp20.000 ke atas.

“Kalau dibilang untuk membantu kita sebagai konsumen, mungkin bisa. Soalnya banyak orang yang borong kalau ada acara,” katanya.

Maryono menyebut jajanan ini kerap dibeli untuk kebutuhan acara di mushola, arisan, hingga pengajian warga sekitar. Selain harganya terjangkau, ia menilai rasa jajanan tetap terjaga meski dijual murah.

“Rasanya juga masih oke. Enggak lembek, meskipun murah,” ujarnya.

Ia mengaku sudah lama menjadi pelanggan warung ini dan kembali membeli setiap kali ada kebutuhan acara di lingkungannya.

Kisah warung jajanan pasar Rp1.000 di Purwokerto ini menggambarkan cara pelaku usaha kecil bertahan di tengah kenaikan harga bahan baku tanpa mengorbankan loyalitas pelanggan. Dengan menyesuaikan porsi, memanfaatkan sisa produksi sebagai pakan ikan, dan mengandalkan pola penjualan mingguan, warung ini tetap menjadi pilihan warga untuk kebutuhan jajanan sehari-hari maupun acara komunitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....