Pentingnya Perempuan Melek Literasi Keuangan Keluarga
- 13 Jul 2026 19:38 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Kualitas generasi masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik semata. Di era modern, kecerdasan finansial atau melek keuangan kini menjadi fondasi krusial yang harus ditanamkan sejak dini dalam lingkungan keluarga, di mana peran perempuan menjadi penggerak utamanya.
Seperti disampaikan Nofiya Dwi Pangesti, S.Pd., M.Pd. peraih penghargaan Duta Baca Provinsi Jawa Tengah saat menjadi narasumber program Indonesia Cerdas Pro 1 FM RRI Purwokerto, Rabu, 1 Juli 2026. Saat ini Nofi juga menjabat Duta Literasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto.
Nofiya menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis sebagai manajer keuangan sekaligus pendidik pertama bagi anak-anak. Dalam struktur keluarga di Indonesia, OJK bahkan memberikan julukan khusus bagi perempuan, yakni sebagai "Menteri Keuangan Keluarga".
Julukan ini disematkan karena mayoritas urusan domestik, mulai dari pengeluaran harian hingga perencanaan masa depan, berada di tangan perempuan. "Katanya kan anak yang cerdas keuangan itu lahir dari ibu yang cerdas keuangan," ujar Nofiya.
"Jadi, nggak cuma Menteri Keuangan Keluarga, tapi juga bertugas mendidik anak-anaknya untuk menjadi generasi yang cerdas keuangan," jelas Nofiya. Menurut Nofiya, mengajarkan literasi keuangan kepada anak tidak bisa dilakukan secara instan atau sekadar lewat perintah lisan.
Orang tua, khususnya ibu, harus mampu memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari demi menghindari fenomena jarkoni (bisa mengajar tapi tidak bisa menjalani). "Hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai ibu, bisa kita mulai dengan hal-hal sederhana contohnya belanja," jelas Nofiya.
Ia menyarankan agar ibu selalu membawa daftar belanjaan untuk mengedukasi anak dalam memprioritaskan kebutuhan pokok di atas keinginan. "Anak secara langsung, akan belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan." lanjut Nofiya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya manajemen arus kas (cash flow management) dengan prinsip "menyisihkan", bukan "menyisakan". Dengan menyisihkan dana di awal untuk tabungan atau investasi, keuangan keluarga akan jauh lebih stabil ketimbang hanya menabung dari uang yang tersisa di akhir bulan.
Sebagai penutup, Nofiya mengingatkan bahwa tindakan nyata dari orang tua memegang kunci keberhasilan dalam membentuk karakter anak yang cerdas finansial. "Seribu kata-kata atau perintah yang kita ucapkan itu bisa runtuh begitu saja ketika satu hal yang kita tunjukkan itu tidak menggambarkan apa yang kita ucapkan," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....