Duta Wisata Banyumas Kenalkan Nilai dan Tradisi Grebeg Suran
- 22 Jul 2026 14:52 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman agama, suku, budaya, adat, dan istiadat. Setiap daerah memiliki ciri khas yang menjadi identitas wilayahnya masing-masing. Di Pulau Jawa, khususnya Banyumas, terdapat sebuah tradisi budaya yang unik dan dilaksanakan setiap bulan Suro atau Muharam. Suro atau Muharam merupakan sebutan untuk tahun baru dalam penanggalan Jawa dan Islam. Pada bulan tersebut, masyarakat Jawa memiliki berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, salah satunya adalah Grebeg Suran.
Grebeg Suran merupakan tradisi syukuran atau selametan atas hasil panen masyarakat dalam bulan Suro. Tradisi ini bertujuan untuk memanjatkan doa agar dijauhkan dari segala musibah dalam mengawali tahun yang baru atau yang dalam istilah Jawa dikenal dengan tolak bala. Grebeg Suran rutin dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Slamet. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk senantiasa bersyukur atas hasil bumi yang telah diberikan Tuhan dengan mewujudkannya dalam bentuk sedekah serta doa bersama.
Pembahasan mengenai Grebeg Suran turut diulas oleh Moh. Alfaruq Abdulloh dan Alysia Hemas Ivana Putri, Kakang Mbekayu Banyumas 2025, dalam program SPADA (Selamat Pagi Teman Pro 2), yang membahas kembali tradisi Grebeg Suran yang dilaksanakan di wilayah Rempoah, Baturraden.
Sebagai Kakang dan Mbekayu Banyumas, mereka menyampaikan bahwa tradisi ini mengandung banyak nilai positif, seperti nilai gotong royong, religius, dan ekologis yang mampu menumbuhkan rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
Keunikan Grebeg Suran terlihat dari rangkaian acaranya yang diawali dengan kirab gunungan hasil panen. Para peserta kirab mengenakan pakaian adat Banyumas berupa jarik dan blangkon. Selain itu, terdapat pula pertunjukan kesenian khas Banyumas seperti lengger banyumasan, ebeg, dan calung. Bahkan, masyarakat dari mancanegara juga turut meramaikan perayaan ini. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan makan bersama secara sederhana bersama warga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Sebagai duta wisata Banyumas, mereka menilai bahwa tradisi ini sangat penting untuk terus dilestarikan, terutama oleh generasi muda, agar budaya dan kesenian Banyumas tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Bagi generasi muda untuk melestarikan budaya ini, mungkin dapat dengan mempelajari filosofinya terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap anggapan yang menyimpang dalam budaya ini. Sehingga, kita dapat bersama-sama melestarikannya,” ujar Alfaruq.
Sementara itu, Alysia menilai bahwa media sosial dapat menjadi salah satu sarana yang efektif untuk memperkenalkan Grebeg Suran kepada generasi muda.
“Agar budaya Grebeg Suran diminati oleh Generasi Z, mungkin dapat dilakukan dengan mengunggah konten-konten yang dekat dengan generasi muda di media sosial sehingga lebih menarik perhatian mereka,” ungkap Alysia.
Melalui pelestarian dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi budaya, Grebeg Suran diharapkan dapat terus dikenal oleh berbagai kalangan. Tidak hanya menjadi warisan budaya masyarakat Banyumas, tradisi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya rasa syukur, kebersamaan, serta kepedulian terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. (Fauziyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....