Moderasi Beragama Sebagai Fondasi Pembentukan Karakter Anak

  • 07 Okt 2026 14:08 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Pendidikan moderasi beragama dinilai penting ditanamkan sejak usia dini sebagai bagian dari pembentukan karakter anak. Pemahaman mengenai toleransi, keberagaman, dan sikap menghargai perbedaan perlu diberikan melalui lingkungan keluarga, sekolah, serta masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Dosen Hukum Syariah Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, Imam Labib Hibaurrohman, Lc., M.S.I., dalam program Moderasi Beragama Pro1 RRI Purwokerto, Selasa (6/10/2026). Menurutnya, pemahaman moderasi beragama pada anak dan remaja tidak dapat disamaratakan karena setiap anak memiliki latar belakang keilmuan dan lingkungan yang berbeda.

“Tidak bisa kemudian kita gebyah uyah, karena kembali lagi kepada keilmuan dan pemahamannya orang itu berbeda-beda. Kita harus mengukur keilmuannya anak itu mesti berbeda-beda, pemahaman dan cara penangkapannya juga berbeda-beda,” ujar Gus Imam Labib.

Ia menjelaskan, moderasi beragama berkaitan erat dengan pembentukan karakter sehingga perlu dibiasakan sejak dini. Menurutnya, karakter anak banyak dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan dilakukan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Sikap toleran, keterbukaan, serta penggunaan bahasa yang baik perlu dicontohkan agar dapat menjadi kebiasaan anak.

Gus Imam Labib menekankan dua metode yang dinilai efektif dalam mengenalkan moderasi beragama kepada anak, yakni dialog dan keteladanan atau qudwah. Orang tua tidak cukup hanya memberikan perintah, tetapi juga perlu menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai yang diajarkan.

“Yang paling efektif itu menurut saya dua, dialog sama teladan. Kemudian membentuk lingkungan yang baik, karena seorang anak akan terbentuk karakternya disebabkan karena lingkungannya, entah lingkungan masyarakat, sekolah, maupun lingkungan bermain,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan pendidikan moderasi beragama idealnya dimulai sejak lingkungan keluarga, bahkan menurut pandangannya sejak masa kehamilan. Setelah anak lahir, pemahaman tersebut perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan berpikir anak. Orang tua juga perlu memiliki bekal ilmu agar mampu memberikan penjelasan yang dapat dipahami anak.

Menurut Gus Imam Labib, perkembangan teknologi dan media sosial menjadi tantangan tersendiri dalam pendidikan karakter. Anak saat ini semakin mudah memperoleh berbagai informasi, termasuk konten keagamaan dengan pemahaman yang keras. Karena itu, orang tua dinilai perlu mendampingi anak melalui komunikasi dan dialog, bukan hanya memberikan larangan.

Ia menambahkan, lingkungan sekolah dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak. Guru, orang tua, dan tokoh masyarakat perlu bekerja sama dalam memberikan pemahaman serta keteladanan. Dengan demikian, nilai moderasi beragama tidak berhenti pada pengajaran secara teori, tetapi dapat diterapkan dalam perilaku sehari-hari.

“Pendidikan itu lebih baik daripada pengajaran. Kalau pengajaran itu memasukkan ilmu, siapa saja bisa. Tapi kalau tarbiah tidak semua orang bisa mendidik. Kita sebagai pendidik mau tidak mau harus membentuk karakter siswa,” pungkasnya. (Dwi Anis)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....