Menghadapi Sakaratul Maut Dengan Memperbanyak Kalimat Syahadat

  • 06 Okt 2026 09:21 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Pondasi utama umat islam dalam era kemerosotan moral adalah kejujuran. Segmen mutiara pagi menyoroti cara menjaga integritas dan kebiasaan baik ditengah maraknya hal negatif berkembang. Sikap konsisten menjadi kunci seseorang untuk tetap berada dijalan yang benar dan diridhoi. Dalam kajian Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto bersama KH. Mintaraga Eman Surya. Lc., M.A yang membahas “Mandep, Mantep, Jejeg Men Uripe Ora Mededeg, pada Senin (5/10/2026).

Segmen sebelumnya telah dibahas mengenai berbagai macam istikamah dalam hidup seorang muslin. Pertama tentang bagaimana istikamah dalam iman dan ketuhanan menghadapi fitnah. Kedua keteguhan di atas prinsip dan jalan hidup, tidak mudah mengikuti perilaku yang negatif dan memiliki prinsip yang kokoh. Ketiga yang akan dibahas sekarang yaitu mengenai keteguhan di saat kematian.

Mengucap kalimat syahadat diakhir ucapan seseorang menjelang kematian akan masuk ke dalam syurga Allah SWT. Namun walaupun demikian, kalimat syahadat tetap harus sering diucapkan dan diulang-ulang sehingga telah tertanam dalam diri seseorang. Sebab yang keluar dari mulu dapat tertanam dalam pikiran dan dalam perbuatan. Sehingga ketika suatu saat Allah SWT menghendaki kehidupan seseorang di dunia telah dicukupkan, sudah terbiasa melafazkan nama Allah SWT.

“Orang yang paling beruntung mendapatkan apa syafaatku, pertolonganku di hari kiamat adalah yang mengucapkan lailaha illallah murni dari hatinya,” kata Ustaz Mintaraga.

Sebaik-baiknya manusia akan tetap memiliki celah dalam berdosa dan kesalahan. Namun Allah mempermudah dengan selalu menerima pintu taubat dan memaafkan umatnya. Puncak dari istikamah adalah tetap berada di atas kebenaran saat kematian menghampiri seseorang. Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa seseorang akan mendapatkan pertolongan dengan mengucap “Laillahailallah” dengan ketulusan hati dan murni.

Ketulusan hati dan murni diartikan bahwa seseorang benar-benar meyakini, bertekad mengamalkan dan teguh kepada Allah SWT dalam kehidupannya hingga meninggal. Seseorang yang mengatakan bahwa rabb nya adalah Allah SWT, kemudian istiqamah, berusaha menerapkan dalam kehidupan, hal tersebut yang kemudian sebut dengan husnul khatimah.

Contohnya beberapa umat Islam terdahulu meninggal dalam keadaan perang, ketika perang memerjuangkan agama dan menghadapi musuh dengan keteguhan membela kebenaran. Hal tersebut disebutkan bahwa keberanian dan keteguhan dalam rangka berjihad adalah suatu bentuk tertinggi dari istikamah. Melalui segmen mutiara pagi pendengar diberikan kesempatan untuk bertanya kepada KH. Mintaraga Eman S. Lc., M.A.

“Saya ini waktu suami saya mau meninggal itu kan mengusap kalimat thayibah. Apakah itu termasuk meninggal yang khusnul khatimah, Pak Ustaz? Matur nuwun,” tanya Rusti, pendengar Pro 1.

Menanggapi pertanyaan tersebut Ustaz Mintaraga menjelaskan bahwa kalimat thayibah merupakan salah satu tanda seseorang meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Karena hal tersebut menunjukan makna bahwa orang meninggalkan dunia dalam keadaan kebaikan, dan kebaikan adalah dimensi keimanan. Namun ketulusan hati seseorang tidak dapat diketahui, dengan demikian yang dapat mementukan hanya Allah SWT. (Dini)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....