Prof. Roqib Dorong Mahasiswa UIN SAIZU Go International
- 03 Okt 2026 14:16 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Eurasia International Lecture Public Service Series gelaran ke-5 kembali dilaksanakan di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto, Sabtu 03 Oktober 2026 pagi. Kegiatan yang diikuti ratusan mahasiswa strata satu dan pascasarjana tersebut mengangkat tema “Rekonstruksi Keilmuan Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)” dengan menghadirkan Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag sebagai narasumber.
Direktur Pascasarjana UIN SAIZU Purwokerto, Prof. Dr. H. Moh. Roqib, M.Ag mengatakan, keterlibatan mahasiswa dalam forum internasional menjadi bagian dari upaya membangun pengalaman dan jejaring global sejak dini.
“Tidak semua kelas dilibatkan dalam kegiatan ini. Mahasiswa yang dilibatkan adalah pilihan. Ini menjadi bagian dari upaya kita untuk membuka ruang agar mahasiswa sejak dini memiliki pengalaman dan wawasan internasional,” kata Prof. Roqib.
Ia menjelaskan, Eurasia International Lecture secara konsisten menghadirkan kajian mengenai multikulturalisme dan migrasi dengan tema yang beragam, mulai dari gender, lintas agama dan lintas iman, hingga pendidikan anak.
“Untuk kali ini kaitannya dengan pendidikan anak. Sebelumnya ada kajian tentang gender, kemudian lintas agama dan lintas iman. Ke depan akan ada berbagai pakar dari sejumlah negara yang dihadirkan dalam forum ini,” ujarnya.
Prof. Roqib menegaskan, semangat go international harus diwujudkan melalui aksi nyata dan kerja sama yang berkelanjutan, termasuk dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Kita berharap dengan kajian-kajian seperti ini kita benar-benar bisa go international. Bukan hanya mengatakan go international, tetapi ada aksi nyata bahwa kita bisa melakukan sesuatu bersama-sama,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar mempersiapkan kemampuan bahasa dan literasi sebagai modal untuk memasuki lingkungan akademik internasional.
“Yang harus disiapkan dari sekarang adalah bahasa dan kemampuan menulis, literasi. Bagaimana gagasan dan pikiran kita bisa dibaca oleh orang lain,” tuturnya.
Menurutnya, mahasiswa setidaknya perlu menguasai bahasa Arab atau bahasa Inggris agar mampu berkomunikasi dan menyerap pengetahuan dari lingkungan global.
“Kalau tidak bisa bahasa Arab, bahasa Inggris. Atau kalau tidak bisa bahasa Inggris, bahasa Arab. Itu pilihan. Jangan sampai tidak bisa sama sekali,” tegas Prof. Roqib.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....