Menjadi Hamba yang Bertaqwa: Jalan Pulang yang Paling Indah
- 22 Sep 2026 12:57 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Ketaqwaan dapat terwujud dengan baik ketika seseorang malaksanakan hukum syariat dan hukum alam secara bersamaan. Menjalankan segala hukum syariat akan mendatangkan pahala di akhirat, bentuk dari syariat tersebut seperti sholat, puasa, bersedekah, menolong. Sebaliknya perbuatan jahat dan maksiat akan mendatangkan dosa di akhirat.
Hal ini dibahas dalam dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto bersama Ustaz Drs. Daliman, M.Pd. yang menjelaskan bahwa pentingnya memupuk diri sebagai bentuk ketaqwaan umat islam. Menjalankan segala yang diperintahkan oleh Allah SWT dan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT merupakan pokok dari definisi ketaqwaan.
Ustaz Daliman menjelaskan dalam program mutiara pagi bahwa terdapat dua perintah dan larangan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Pertama terdapat perintah dan larangan yang bersangkutan dengan agama disebutkan syariah. Kedua terdapat perintah dan larangan berkaitan dengan hukum alam yang disebut Sunatulloh. Hukum alam pada konteks ini berkaitan dengan hukum sebab-akibat.
Melaksanakan perintah atau larangan Allah SWT yang sifatnya hukum alam, akan mendapatkan hukuman langsung dialam dunia. Contoh sederhana dari bentuk hukum alam yaitu orang yang rajin belajar akan mendapat pahala langsung dan yang rajin bekerja dia akan kaya. Demikian pula sebaliknya apabila ketika didunia melaksanakan kejahatan maka akan mendapatkan siksa secara langsung, contohnya ketika seseorang tidak belajar makan akan merasakan kebodohan.
“Orang bertakwa bukan hanya yang tekun berdzikir dan sholat tapi juga pegawai yang kerja di kantor dengan tekun dan disiplin, dokter yang berdedikasi mengobati pasien dengam teliti dan sepenuh hati, guru yang dengan sabar dan kasih sayang mendidik murid-muridnya termasuk juga pegawai RRI yang bekerja penuh semangat menemani dan mengisnpirasi ini juga meruoakan bentuk taqwa,” Ustaz Daliman.
Dengan demikian takwa yang sebenarnya lahir dari keseimbangan antara pengamalan hukum syariat agama dan pengamalan hukum alam. Melalui pengalaman kedua hukum tersebut seseorang dapat tergolong menjadi umat Allah SWT yang memiliki ketaqwaan.
Program Mutiara Pagi juga menyinggung soal kemusyikan yang berhubungan dengan ketaqwaan kepada Allah SWT melalui pertanyaan dari Sum di Sumbang.
“Ada orang beribadah rajin, namun masih memilihara benda-bemda keris misalnya, katanya itu datang sendiri, mungkin dia mempercayai hal itu sakti, hal yang demikian bagaimana menurut islam, apakah orang tersebut termasuk berbuat syirik dan belum betul-betul taqwa,” tanya Sum di Sumbang.
Ustaz Daliman menjelaskan bahwa kemusyiran datang ketika seseorang menyamakan kekuatan Allah SWT dengan kekuatan lain yang dianggap sama. Sehingga seseorang yang memiliki benda-benda seperti keris diiringi dengan keyakinan dalam diri dan mempercayai benda tersebut memiliki kekuatan maka disebut sebagai kemusyikan.
Namun apabila kepemilikan benda-benda tersebut kemudian tidak dibersamai dengan meyakini dan mempercayainya sebagai benda yang memiliki kesaktian maka bukan suatu larangan. Apabila ibadah yang dijalankan tidak disertai dengan kemusyirikan maka seseorang masih dapat dikatakan taqwa. (Dini)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....