Perempuan Berdaya dan Produktif di Era Globalisasi
- 15 Sep 2026 15:04 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Perkembangan zaman membawa perubahan pada berbagai aspek kehidupan, termasuk memperluas ruang perempuan untuk berperan di tengah masyarakat. Perempuan tidak lagi hanya menjalankan aktivitas di ranah domestic, tetepi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri, bekerja, berorganisasi, hingga memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan perekonomian keluarga.
Hal tersebut disampaikan oleh Sutriyani, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) I Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Kemutug Lor, Baturraden, dalam dialog Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Purwokerto yang membahas tema Peran Perempuan di Era Globalisasi, pada Senin, (14/9/2026).
Menurut Sutriyani, perempuan perlu mampu mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal, tetapi tetap memiliki prinsip dalam menjalankan berbagai perannya.
“Iya, jadi di era yang serba modern ini tentunya sebagai seorang perempuan harus mengimbanginya. Mengimbanginya agar tidak ketinggalan zama tapi tidak juga lepas dari bahwa kodrat kita sebagai perempuan,” ujar Sutriyani.
Menurut Sutriyani, perubahan peran perempuan dapat dilihat dari pergeseran pandangan masyarakat terhadap perempuan. Pada masa lalu, perempuan lebih sering dikaitkan dengan pekerjaan rumah tangga seperti mengurus anak dan memasak namun, seiring perkembangan zaman, perempuan mulai memiliki ruang yang lebih luas untuk menempuh pendidikan, berkarier, serta berkontribusi dalam berbagai bidang.
Ia mencontohkan kiprah tokoh perempuan seperti Dewi Sartika dan Raden Ajeng Kartini sebagai bagian dari perjalanan panjang perjuangan perempuan. Saat ini, perempuan juga telah hadir dalam berbagai profesi, termasuk bidng teknologi dan pekerjaan publik.
“Era sekarang di mana perempuan itu harus multitalenta karena kita harus bisa berada di manapun tempat. Banyak perempuan yang punya profesi yang begitu bagus, perempuan yang punya pekerjaan yang begitu bagus, tidak kalah dengan kaum laki-laki,” katanya.
Perubahan tersebut juga terlihat dalam kehidupan perempuan di Desa Kemutug Lor, Sutriyani melihat semakin banyak perempuan yang menjalankan aktivitas produktif di luar maupun dari rumah. Salah satu contoh sederhana terlihat dari perubahan peran orang tua dala mendampingi anak di pendidikan usai dini. Jika sebelumnya anak lebih banyak ditunggu oleh ibu, kini sebagian ibu bekerja dan pendampingan dilakukan oleh nenek.
Perempuan di lingkungan desa juga mulai mengisi berbagai bidang pekerjaan. Sutriyani menyebutkan bahwa ada perempuan yang berprofesi sebagai guru, polisi, anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas), hingga pelaku usaha. Bahlan, perkembangan teknologi memungkikan perempuan untuk menjalankan usaha tanpa harus meninggalkan rumah.
“Perempuan sekarang sudah sangat maju, di rumah saja juga mereka tetap bisa berkarya. Mereka berjualan di e-commerce secara online, produk-produknya bisa dikenal di mana-mana,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi salah satu sarana bagi perempuan untuk memperoleh panghasilan sekaligus mengembangkan kemampuan.
Perkembangan teknologi juga dimanfaatkan dalam kegiatan pemberdayaan perempuan melalui PKK. Sutriyani menjelaskan bahwa PKK Desa Kemutug Lor bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi untuk memberikan pembelajaran kepada anggotanya mengenai pemasaran digital, fotografi produk, pembuatan video, hingga public speaking.
Pelatihan tersebut diarahkan agar produk lokal, termasuk aneka olahan susu dari Kemutug Lor, dapat dipasarkan lebih luas melalui media digital. Dengan demikian, perempuan tidak hanya menjadi kosumen teknologi, tetapi juga dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk mengembangkan usaha.
“Kalau untuk membantu, membantu sekali,” ujar Sutriyani ketika ditanya mengenai manfaat perkembangan teknologi bagi perempuan.
Namun, ia menilai pemanfaatan teknologi juga perlu diimbangi dengan kemampuan menyaring informasi. Menurutnya, perempuan tidak cukup hanya belajar dari media digital, tetapi juga perlu mendapatkan pendampingan dari orang yang memilii kompetensi agar informasi yang diterima tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Bagi Sutriyani, kegiatan pemberdayaan perempuan seharusnya tidak berhenti ketika pelatihan selesai. Pengetahuan yang telah diperoleh perlu dipraktikkan sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing. Ia mendorong perempuan untuk mengenali passion dan keterampilannya, kemudian mengembangkan kemamapuan tersebut secara bertahap. Pelatihan public speaking, misalnya, akan lebih bermanfaat apabila peserta berani mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita sudah punya ilmu itu, kita sudah dapat ilmu, apapun itu ilmunya, sedikit demi sedikit kita yang harus menggunakan ilmu itu,” kata Sutriyani.
Selain bidang ekonomi, pemberdayaan perempuan melalui PKK juga berkaitan dengan kehidupan sosial dan keluarga. Kegiatan seperti Posyandu Remaja dan pembinaan Karang Taruna turut menjadi ruang untuk memberikan edukasi kepasa generasi muda mengenai pergaulan, penggunaan gawai, waktu belajar, serta kegiatan positif di lingkungan.
Di tengah semakin luasnya ruang perempuan untuk beraktivitas, Sutriyani menekankan pentingnya komunikasi dan kesepakatan dalam keluarga. Menurutnya, perempuan yang aktif di masyarakat maupun memiliki usaha tetap perlu mengatur waktu dan memastikan tanggung jawab keluarga tidak terabaikan.
Ia menilai setiap keluarga memiliki kesepakatan dan pembagian peran masing-masing. Karena itu, keseimbangan antara aktivitas publik dan keluarga perlu dibangun melalui komitmen bersama.
“Lagi-lagi komitmen, komitmen yang berbagi. Di keluarga sebetulnya bisa dibilang sulit tapi juga dibilang mudah. Masing-masing perannya dijalankan dengan bauk,” ungkapnya.
Bagi perempuan yang memiliki usaha dan mulao kewalahan membagi waktu, Sutriyani juga menyarankan adanya pembagian pekerjaan, termasuk mempertimbangkan bantuan tenaga lain ketika usaha sudah berkembang. Dengan begitu, aktivitas ekonomi dan pekerjaan rumah tangga dapat tetap berjalan secara seimbang.
Pada akhirnya, Sutriyani juga mengajak perempuan untuk tidak takut menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, karier, produktivitas, dan keluarga bukanlah hal yang harus selalu dipertentangkan selama perempuan mampu mengatur waktu serta memperoleh dukungan keluarga.
“Ayo kita harus tidak usah merasa takut antara memilih karir atau keluarga, karena ini sebetulnya bisa berjalan beriringan selama kita bisa dan pintar manajemen waktu,” tuturnya.
Ia berharap perempuan, termasuk perempuan di wilayah desa, dapat terus belajar, beradaptasi, dan mengambil kesempatan untuk berkembang. Dengan kemampuan mengelola waktu, memanfaatkan teknologi, serta membangun dukungan keluarga dan lingkungan, perempuan dapat tetap menjalankan tanggung jawabnya sekaligus menjadi pribadi yang produktif di tengah era globalisasi. (Tiara Chelsea)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....