Perilaku Munafik Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain

  • 09 Sep 2026 17:43 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID. , Purwokerto - Perilaku munafik tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga dapat merusak hubungan sosial dan menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Sifat tersebut tercermin ketika perkataan, perbuatan, dan isi hati seseorang tidak berjalan selaras.

Hal itu disampaikan Ustaz Drs. Daliman, M.Pd. dalam Dialog Mutiara Pagi RRI Purwokerto dengan tema “Perilaku Munafik, Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain”. Ia menjelaskan, terdapat tiga ciri utama perilaku munafik, yakni berdusta ketika berbicara, ingkar ketika berjanji, dan berkhianat ketika mendapat amanah.“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, apabila berkata ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanat ia berkhianat.”

Menurutnya perilaku munafik dapat menghilangkan kepercayaan orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat, kebiasaan berdusta, mengingkari janji, maupun menyalahgunakan amanah dapat memicu konflik dan permusuhan.

Ia menambahkan, dampak perilaku tersebut juga dirasakan oleh pelakunya sendiri. Hilangnya kepercayaan dari lingkungan dapat membuat seseorang dijauhi, sementara kebiasaan berbohong dapat menimbulkan ketidaktenangan karena terus dihantui kekhawatiran kebohongannya terbongkar.“Antara perkataan, hati, dan perbuatan hendaknya senantiasa selaras dan sinkron.”

Untuk menghindari sifat munafik, Ia mengingatkan masyarakat agar memperkuat keikhlasan, menjaga lisan dan perbuatan, membiasakan diri berkata jujur, serta rutin melakukan introspeksi dan memperbanyak istigfar. Lingkungan pergaulan juga perlu diperhatikan agar seseorang tidak mudah terpengaruh kebiasaan buruk.

Sementara ketika menghadapi orang yang memiliki perilaku tersebut, masyarakat diminta tidak terburu-buru memberikan penilaian. Klarifikasi atau tabayyun perlu dilakukan sebelum mempercayai informasi maupun menuduh seseorang.

“Kita harus melakukan tabayyun, jangan sampai informasi yang kita terima langsung dipercaya tanpa ada klarifikasi.” Ucapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa sifat munafik bukan merupakan faktor keturunan. Manusia lahir dalam keadaan fitrah, sedangkan perilaku buruk dapat berkembang karena pengaruh lingkungan, pendidikan, pergaulan, maupun kepentingan pribadi.

Ia menegaskan, pintu pertobatan tetap terbuka bagi seseorang yang ingin meninggalkan perilaku munafik. Pertobatan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, disertai perubahan perilaku dan memperbanyak amal saleh.

Menurutnya, masyarakat juga perlu membedakan antara ghibah, fitnah, dan sifat munafik. Ghibah terjadi ketika seseorang membicarakan keburukan orang lain yang memang benar terjadi tetapi dapat menyakiti yang bersangkutan. Sementara fitnah berkaitan dengan perkataan yang tidak sesuai kenyataan. Keduanya tetap merupakan perbuatan tercela yang harus dihindari.

Daliman mengajak masyarakat menjadikan kejujuran dan amanah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan menjaga keselarasan antara ucapan, hati, dan perbuatan, hubungan antarmanusia dapat terpelihara dan kehidupan sosial menjadi lebih harmonis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....