Aksesibilitas adalah Kunci Kemandirian Penyandang Tunanetra

  • 07 Sep 2026 12:29 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Kemandirian merupakan hak setiap orang, termasuk penyandang disabilitas tunanetra. Namun, kemampuan untuk hidup mandiri tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga pada lingkungan yang memberikan akses dan kesempatan yan setara.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Ruang Disabilitas Pro 1 Purwokerto edisi Sabtu, 5 September 2026, dengan tema Aksesibilitas dan Kemandirian Tunanetra. Dalam program tersebut, menghadirkan narasumber Dwi Kurniasih, Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Banyumas.

Dwi menjelaskan bahwa kemandirian bagi penyandang tunanetra bukan berarti harus mampu melakukan seluruh aktivitas tanpa bantuan orang lain. Menurutnya yang lebih penting adalah tidak selalu bergantung kepada orang lain dan memiliki kepercayaan diri untuk melakukan berbagai aktivitas.

“Kalau menurut kemandirian itu kita melakukan semuanya memang enggak murni 100% bisa sendiri ya, karena keterbatasan. Tapi minimal kit aitu enggak gantung, kita enggak mengharapkan bantuan dari orang,” ujar Dwi.

Kemandirian dan aksesibilitas merupakan dua hal yang saling berkaitan. Bagi penyandang tunanetram lingkungan yang tidak aksesibel dapat membuat aktivitas sederhana menjadi lebih sulit dan meningkatkan ketergantungan kepada orang lain.

Dwi membagi aksesibilitas menjadi dua bentuk, yaitu aksesibilitas fisik dan digital. Dalam aspek fisik, salah satu fasilitas yang dibutuhkan adalah guilding block atau jalur pemandu bagi tunanetra. Namun, menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut di sejumlah tempat di Banyumas masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan penyandang tunanetra.

Ia mencontohkan guilding block yang terkadang terhalang oleh pohon maupun aktivitas masyarakat. Selain itu, warning block yang berfungdi memberikan tanda mengenai arah, persimpangan, atau kondisi berbahaya juga dinilai belum tersedia secara optimal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan fasilitas aksesibel tidak cukup hanya dengan menyediakan sarana. Masyarakat juga perlu memahami fungsi fasilitas tersebut agar tidak digunakan atau ditempati secara sembarangan.

Dwi berharap aksesibilitas dapat semakin diwujudkan, baik di ruang public maupun instansi pelayanan masyarakat. Menurutnya, fasilitas yang aksesibel dapat membantu penyandang tunanetra untuk menjalankan aktivitas tanpa harus selalu meminta bantuan.

Selain kondisi lingkungan, faktor dari dalam diri dan dukungan keluarga juga menjadi tantangan dalam membangun kemandirian. Dwi menyebut bahwa seseorang perlu berdamai dengan kondisi dirinya dan memiliki motivasi untuk terus berkembang.

Dukungan keluarga menjadi bagian yang tidak kalah penting. Ia menyoroti masih adanya keluarga yang justru menyembunyikan anggota keluarga penyandang disabilitas karena mearasa malu. Menurut Dwi, sikap tersebut justru dapat membatasu kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkembang.

“Beri kami kesempatan, beri kami kepercayaan, insyaAllah kami bisa mandiri,” tegasnya.

Karena itu, penyandang tunanetra perlu diberikan ruang untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Kesempatan tersebut dapat hadir melalui pendidikan, pekerjaan, kegiatan sosial, maupun pengembangan keterampilan. Dwi sendiri menjadi salah satu contoh bahwa keterbatasan penglihatan tidak menghalangi seseorang untuk beraktivitas. Selain menjalankan tugas sebagai Ketua Pertuni Banyumas, ia juga aktif sebagai atlet lari dan mengikuti kegiatan olahraga.

Dalam perbincangan tersebut, persoalan stigma masyaraat terhadap penyandang tunanetra juga menjadi perhatian. Salah satu pendengar menceritakan pengalaman ketika dirinya sering menerima pemberian uang dari masyarakat karena dianggap sebagai orang yang meminta-minta.

Dwi menyatakan bahwa perubahan pandangan tersebut perlu dilakukan secara bersama-sama. Penyandang tunanetra juga perlu diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki.

Ia mencontohkan keterampilan memijat yang banyak dimiliki oleh penyandang tunanetra. Menurutnya, masyarakat dapat memberikan kesempatan dengan menggunakan jasa tersebut, bukan sekadar memberikan uang.

“Lebih apik mijet kita ngeluarkan duit daripada kita dikasih duit tapi tanpa usaha,” ujar Dwi.

Menurutnya, cara tersebut dapat membantu membuka peluang ekonomi sekaligus mengubah pandangan masyarakat bahwa penyandang tunanetra tidak hanya membutuhkan bantuan, tetapi juga mampu bekerja dan menghasilkan sesuatu.

Pertuni Banyumas juga menjadi salah satu ruang bagi para penyandang tunanetra untuk saling berbagi pengalaman, membangun motivasi, dan mengembangkan kemampuan. Pertemuan rutin yang dilakukan setiap bulan menjadi kesempatan untuk bertukar wawasan sekaligus memperkuat rasa kebersamaan.

Perkembangan teknologi turut memberikan peluang baru bagi penyandang tunanetra untuk meningkatkan kemandirian. Penggunaan telepon pintar dengan fitur aksesibilitas memungkinkan informasi di dalam perangkat dibacakan melalui suara. Dwi menjelaskan bahwa berbagai aktivitas digital dapat dilakukan dengan memanfaatkan fitur dan aplikasi yang tersedia. Mulai dari berikomunikasi, megakses informasi, menggunakan media sosial, hingga memanfaatkan layanan transportasi daring.

Ia bahkan menceritakan pengalamannya ketika berada di sebuah gedung dan harus mencari jalan menuju tribun secara mandiri. Dengan bantuan aplikasi dan layanan relawan melalui telepon, ia dapat memperoleh arahan hingga menemukan lokasi yang dituju.

Menurut Dwi, teknologi memang belum selalu dapat memenuhi seluruh kebutuhan secara sempurna. Namun, apabila dimanfaatkan dengan tepat, teknologi dapat membantu menyelesaikan banyak persoalan sehari-hari.

“Enggak jadi batasan intinya,” ujarnya ketika menjelaskan pemanfaatan teknologi bagi penyandang tunanetra.

Membangun kemandirian penyandang tunanetra pada akhirnya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah memiliki peran dalam menyediakan fasilitas publik yang aksesibel, sementara masyarakat dapat berkontribusi dengan memberikan ruang dan kesempatan yang setara.

Dwi juga berharap kesempatan yang sama dapat diberikan dalam bidang pendidikan dan pekerjaan. Menurutnya, penyandang tunanetra memiliki kemampuan untuk berkembang apabila mendapatkan kesempatan dan kepercayaan.

“Inklusi itu bukan sebuah wacana, tapi realita,” katanya.

Ia menekankan bahwa penyandang tunanetra tidak seharusnya dipandang berdasarkan keterbatasan penglihatan saja. Dengan akses yang memadai, dukungan lingkungan, serta kemampuan untuk berkembang, mereka dapat beraktivitas, bekerja, dan berkontribusi secara mandiri.

Pada akhirnya, aksesibilitas bukan sekadar fasilitas tambahan bagi penyandang disabilitas. Aksesibilitas merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap orang untuk hidup, bergerak, bekerja, dan berkarya secara setara.

Kemandirian penyandang tunanetra tidak hanya lahir dari keberanian individu untuk bergerak, tetapi juga dari lingkungan yang bersedia membuka ruang. Karena itu, memberikan akses dan kesempatan yang setara menjadi langkah penting untuk membangun masyarakat yang semakin inklusif. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....