KKN Selesai, Warga Mandiraja Kulon Ingin Lanjutkan Gerakan Sampah Bernilai
- 31 Agt 2026 07:59 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banjarnegara- Program Gerakan Sampah Bernilai yang dikenalkan mahasiswa KKN UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto di Desa Mandiraja Kulon, Kabupaten Banjarnegara, mendapat respons positif dari masyarakat.
Program tersebut memberikan pemahaman kepada warga bahwa pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan membuangnya, tetapi perlu dilakukan sejak dari rumah melalui pemilahan, pengumpulan, hingga pemanfaatan kembali.
Bagi sebagian warga, sosialisasi tersebut menjadi pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sampah organik dan anorganik mulai dipandang sebagai dua jenis sampah yang membutuhkan penanganan berbeda.
Agista, salah satu kader PKK Desa Mandiraja Kulon saat pertemuan rutin warga pada Minggu, (30/08/2026) sere mengatakan, pengetahuan mengenai pemilahan sampah menjadi hal yang penting karena sebagian besar sampah berasal dari aktivitas rumah tangga.
"Selama ini sampah memang biasanya langsung dibuang. Setelah mendapat penjelasan, kami jadi lebih memahami bahwa sampah dari rumah bisa dipilah terlebih dahulu. Kalau dilakukan bersama-sama, tentu lingkungan juga menjadi lebih bersih," ujarnya.
| Baca juga: KKN UIN Saizu Bentuk IRMAS di Penaruban |
Sementara Indah warga lainnya menilai, keberadaan bank sampah dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjaga agar kebiasaan memilah sampah tidak berhenti setelah mahasiswa KKN meninggalkan desa.
"Harapannya kegiatan seperti ini tidak hanya berjalan ketika ada mahasiswa KKN. Kalau masyarakat sudah memahami caranya, kami bisa melanjutkan bersama pemerintah desa dan Karang Taruna," katanya.
Hal senada disampaikan salah seorang ketua RT yang menilai keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program. Menurutnya, kebiasaan baru akan lebih mudah terbentuk apabila dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.
"Yang paling penting sebenarnya membiasakan dari rumah. Kalau setiap keluarga sudah memilah sampah, nantinya akan lebih mudah ketika dikumpulkan atau dikelola bersama. Jadi programnya bisa terus berjalan meskipun KKN sudah selesai," tuturnya.
Sementara itu, dari kalangan pemuda, Gerakan Sampah Bernilai dinilai dapat menjadi ruang bagi Karang Taruna untuk ikut berperan dalam kegiatan lingkungan sekaligus mengembangkan kreativitas masyarakat.
"Anak-anak muda juga bisa dilibatkan. Sampah yang masih memiliki nilai bisa dikumpulkan dan dikelola. Selain menjaga lingkungan, kalau dikelola dengan baik juga bisa memberikan manfaat ekonomi," ujar salah seorang anggota Karang Taruna.
Warga lainnya berharap pengelolaan sampah dapat dilakukan secara bertahap dan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Menurutnya, masyarakat membutuhkan pendampingan dan pengorganisasian agar kebiasaan memilah sampah dapat benar-benar menjadi budaya di lingkungan desa.
"Kami berharap ada kelanjutan. Tidak harus langsung besar, yang penting mulai dari rumah, kemudian dikumpulkan secara rutin. Kalau sudah menjadi kebiasaan, masyarakat akan lebih mudah menjalankannya," katanya.
Eko dari Dinas Perlindungan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Banjarnegara mengatakan, konsistensi dan partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam menjalankan bank sampah.
"Yang paling penting dalam menjalankan bank sampah adalah konsistensi dan partisipasi masyarakat. Kalau masyarakat sudah terbiasa memilah sampah dari rumah dan rutin menyetorkannya, sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna bisa menjadi sesuatu yang bernilai. Jadi, bank sampah memberikan manfaat untuk lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat," kata Eko.
Sementara itu, mahasiswa KKN UIN SAIZU berharap pengetahuan yang telah diberikan dapat terus diterapkan masyarakat setelah masa pengabdian berakhir.
Keberlanjutan program menjadi bagian penting dari dampak KKN. Masyarakat dapat mengambil peran sebagai penggerak utama, sedangkan pemerintah desa, PKK, RT, dan Karang Taruna dapat memperkuat koordinasi agar gerakan pengelolaan sampah tetap berjalan.
Dengan demikian, keberadaan mahasiswa KKN tidak hanya meninggalkan kegiatan, tetapi juga pengetahuan dan kebiasaan yang dapat dikembangkan masyarakat secara mandiri.
Gerakan Sampah Bernilai diharapkan mampu membangun kesadaran bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Jika dilakukan secara konsisten mulai dari rumah, sampah dapat dikurangi sekaligus dimanfaatkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.
Bagi Desa Mandiraja Kulon, keberlanjutan gerakan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana program KKN dapat memberikan dampak jangka panjang. Ketika mahasiswa telah kembali ke kampus, masyarakat tetap dapat melanjutkan apa yang telah dipelajari untuk menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....