Meneladani Akhlak Rasulullah, Kunci Sukses Kehidupan di Dunia dan Akhirat
- 24 Agt 2026 16:02 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID Purwokerto – Dalam menyambut Maulid Nabi kecintaan kepada Rasulullah adalah kunci utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana diampaikan Ustaz Dr. Shofiyulloh, M.H.I., dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto bertajuk "Membangun Semangat dalam Islam Bagian 4", segmen ini menekankan pentingnya menjaga semangat dalam beragama dengan meneladani sosok Nabi Muhammad SAW.
"Kalau kita mau masuk surga, itu dekati yang punya surga yaitu Allah. Kalau tidak bisa mendekati pemilik surga, maka kita dekati orang terdekatnya. Siapa orang terdekatnya? Yaitu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam," ujar Ustaz Shofiyulloh, Minggu (23/8/2026).
Nabi Muhammad SAW diibaratkan sebagai "orang dalam" yang terdekat dengan Allah Swt, mengikuti sunahnya jalan bagi umat untuk mendapatkan rahmat-Nya. Semangat ini harus melampaui kecintaan pada harta, keluarga, atau lainnya. Hal ini menjadi pengingat iman sempurna memerlukan prioritas yang benar, yakni menempatkan Allah dan Rasul-Nya di atas segala kenikmatan duniawi.
Implementasi nyata dari rasa cinta ini adalah ittiba, atau mengikuti jejak Rasulullah. Ustaz Shofiyulloh menjelaskan bahwa mengikuti Nabi bukan berarti meniru segala hal secara membabi buta, melainkan memahami batasan antara perilaku manusiawi (al-af'al al-jibiliyah) dan syariat.
"Jadi, cinta kepada Rasul itu merupakan bagian dari kesempurnaan iman. Hal ini kemudian disebutkan di dalam ayat Al-Qur'an, di mana jika harta, keluarga, dan perdagangan lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan," lanjutnya.
Perbuatan manusiawi seperti cara berpakaian atau pola makan tidak selalu wajib diikuti, kecuali jika ada perintah spesifik. Beliau memberikan contoh bahwa menggunakan jubah tidak otomatis menjadikan seseorang islami jika akhlaknya tidak mencerminkan sifat Rasulullah, seperti sikap sombong atau suka menghina orang lain.
"Nabi Muhammad itu sosok yang begitu luar biasa yang seharusnya kita dalam kehidupan kita ini semangat untuk ittiba, untuk mengikuti pola Nabi. Perbuatan Nabi itu ada tiga, salah satunya adalah perbuatan yang muncul karena Kanjeng Nabi sebagai manusia biasa," tegasnya.
Dianalogikan, manusia bisa memiliki potensi kecintaan yang luar biasa pada hal duniawi, seperti halnya seseorang yang sangat bersemangat merespons panggilan dari kekasihnya. Perlu ditekankan bahwa potensi "jatuh cinta" yang sama seharusnya bisa dialihkan kepada Rasulullah SAW, di mana rasa cinta tersebut akan menjadi bahan bakar yang jauh lebih kuat untuk meneladani sifat-sifat mulia-Nya dikehidupan sehari-hari.
Nabi Muhammad SAW merupakan uswatun hasanah, atau teladan utama bagi seluruh umat manusia, yang dipuji oleh Allah SWT dalam QS. Al-Qalam ayat 4, penggalan "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung". Pujian ini bukan ditujukan pada kecerdasan intelektualnya, melainkan kemuliaan akhlaknya yang luar biasa, menjadi bukti karakter dan budi pekerti mulia adalah kunci utama keberhasilan dakwah beliau.
"Allah tidak memuji kepintaran Kanjeng Nabi, tapi justru akhlakmu keren. Ini menandakan bahwa kesuksesan Kanjeng Nabi dalam berdakwah dalam semua hal itu adalah akhlak. Maka melalui Maulid Nabi, kita semangat untuk membenahi akhlak," lanjutnya.
Dalam pertanyaan mengenai cara menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah. Ustaz Shofiyulloh menjelaskan bahwa kita memiliki potensi untuk mencintai sesuatu secara mendalam, dan kita harus mengalihkan rasa cinta tersebut untuk mengikuti perjuangan dan kasih sayang Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Terutama hal ini menyentuh pentingnya menjaga kebersihan hati agar tetap peka terhadap kebaikan dan keburukan. Kesalahan kecil harus segera diakui dan disesali agar hati tidak menjadi gelap oleh tumpukan dosa yang diabaikan.
Maka perlu ditekankan bahwa menjalankan kewajiban adalah prioritas utama. Meskipun amalan sunah sangat baik untuk membangun semangat, jangan sampai kita meremehkan hal wajib, karena ketaatan pada perintah Allah adalah fondasi utama dalam beragama. (Fattah Zakaria)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....