Menemukan Harta Kemuliaan di Balik Keterbatasan dalam Perspektif Islam

  • 10 Agt 2026 10:18 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID Purwokerto - Di tengah hiruk-pikuk media sosial sering kali mendewakan materi dan tren gaya hidup "have", banyak orang merasa rendah diri ketika tidak memiliki pencapaian yang sama secara finansial. Dalam Program Tasbih di Pro 2 RRI Purwokerto bersama Irham M. Azama, LC., M.A, selaku dosen Fakultas Ekonomi Bisnis UMP Purwokerto, menyoroti pentingnya mengubah sudut pandang ini melalui lensa Islam, Jumat (7/8/2026).

Perbedaan rezeki bukanlah penanda derajat kemuliaan seseorang di sisi Tuhan, tetapi bentuk ujian yang berbeda-beda bagi setiap hamba. Secara teologis, Islam memandang setiap kondisi kehidupan sudah ketetapan Allah yang harus dihadapi dengan sikap tepat. Jika seseorang yang berpunya diuji dengan syukur dan kewajiban bersedekah, maka mereka yang berada dalam kondisi kekurangan diuji dengan kesabaran dan keteguhan hati.

"Allah melebihkan sebagian kamu dengan sebagian lain dalam hal rezeki. Ini sudah menjadi ketetapan. Masing-masing diuji dengan keadaannya; yang kekurangan diuji dengan kesabaran, dan yang dengan sabar itu dapat kemuliaan," ujarnya.

Menariknya, sejarah Islam mencatat bahwa para sahabat Nabi, seperti kaum Muhajirin yang hijrah dalam keadaan tidak memiliki harta, sempat merasa iri (dalam arti ghibtoh atau iri yang positif) karena tidak bisa bersedekah materi seperti sahabat lainnya. Rasulullah SAW memberikan jawaban yang menenangkan: bahwa kemuliaan tidak terbatas pada harta. Zikir, ucapan yang baik, tindakan sosial, hingga hubungan rumah tangga yang halal pun memiliki nilai pahala yang setara dengan sedekah harta.

Nabi Muhammad SAW memberikan solusi praktis bagi mereka yang merasa sulit mengejar kemuliaan melalui harta, dengan rutin membaca zikir setelah salat. Akses menuju kemuliaan bersifat universal dan terbuka bagi siapa saja, terlepas dari status ekonomi. Sebagaimana yang disampaikan narasumber:

"Kemuliaan bagi orang yang tidak punya bisa didapatkan dari hatinya yang bersih. Sabar, tetap berusaha, dan tawakal adalah inti kekayaan hati yang melampaui materi," pungkasnya.

Dalam nasihat Imam Syafi'i, menyatakan bahwa derajat kemuliaan tertinggi bagi seseorang yang sedang sulit adalah kemampuan untuk menutupi kekurangannya dan menjaga kehormatan diri (iffah) agar tidak terus-menerus mengeluh atau bergantung pada belas kasihan orang lain.

"Orang yang paling mulia adalah orang yang bisa menutupi kekurangannya sehingga orang lain menyangka dia kaya. Menutupi kemiskinan dengan menjaga kehormatan diri adalah derajat kemuliaan tertinggi," lanjutnya.

Narasumber menyimpulkan penekanannya pada kemuliaan seseorang tidak diukur dari kepemilikan harta (status have atau have-not), melainkan dari sikap hati, kesabaran, dan rasa syukur atas takdir yang ditetapkan. Orang kaya maupun orang yang kekurangan memiliki cara-caranya mencapai derajat kemuliaan orang kaya melalui sedekah dan hartanya, sementara yang kurang mampu melalui kesabaran dan amalan-amalan alternatif yang setara tersebut.

Karena disini Islam sendiri tidak memandang kemiskinan seseorang sebagai aib, melainkan sebagai lahan untuk memupuk karakter. Kemuliaan sejati bukan diukur dari apa yang dimiliki (have), melainkan dari kejernihan hati, ketulusan dalam beribadah, dan kemampuan menjaga martabat di tengah keterbatasan. (Fattah Zakaria)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....