Tantangan Kesehatan Mental dan Ketergantungan Media Sosial dalam Sisi Qur'ani
- 28 Jul 2026 17:38 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID Purwokerto – Di era arus kecepatan informasi kian meningkat, media sosial telah menjadi panggung utama bagi banyak individu, terutama generasi muda dalam mencari pengakuan. Dalam dialog Tasbih Pro 2 RRI Purwokerto bersama Muhammad Labib Syauqi, dosen Ilmu Al Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN Saizu Purwokerto, menyoroti fenomena psikologis di balik ketergantngan penggunaan media sosial.
Hal ini seringkali harga dirinya (self-esteem) dipengaruhi sepenuhnya pada jumlah like, komentar, dan validasi dari netizen. Ketergantungan tersebut memicu timbulnnya kecemasan (anxiety) dan Fear of Missing Out (FOMO), yang jika tidak dapat dikelola akan menimbulkan seseorang melakukan tindakan ekstrem demi menjaga citra di dunia maya.
"Media sosial itu bekerja berdasarkan algoritma. Ada like, ada dopamin, ada validasi. Itu kerjaan internet dan media sosial, yang tidak mempedulikan efeknya terhadap pengguna" ujarnya, dalam dialog Tasbih Pro 2 Purwokerto 24 Juli 2026.
Dalam diskusinya menekankan bahwa self-esteem yang positif seharusnya bersumber dari kemampuan intropeksi diri, memahami pontensi kelebihan, dan kekurangan tanpa terjebak standar media sosial. Pandangan Islam di sini sangat sejalan dengan ajaran untuk senantiasa mengevaluasi diri (muhasabah) sebelum menilai orang lain, sebagaimana ungkapan "hasibu anfusakum qobla an tuabu".
Hal ini serupa pada peribahasa Jawa "Wong Kuwi Wang Sinawang" yang diangkat sebagai pengingat kuat bahwa sering kali salah menilai hidup orang lain sebagai "lebih enak", padahal setiap orang memiliki beban dan perjuangannya masing-masing yang tidak terlihat di media sosial. Juga sebagai peringatan tidak menggantungkan kebahagian pada media sosial karena algoritma dan selera netizen terus berubah tanpa henti.
Sebuah konsep menarik di sini, bahwa setiap manusia diciptakan dalam kondisi terbaik dalam perannya masing-masing (fi ahsani takwim). Maka kita tidak perlu menjadi orang lain, karena setiap individu memiliki fungsi unik yang tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, seperti prinsip dalam islam mengenal diri adalah kunci mengenal Tuhan.
"Man arofa nafsah faqod arofa robbah. Ketika kita mengetahui diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya, maka kita juga akan mengetahuin Tuhan" pungkasnya.
Dengan begitu kita harus menerapkan ajakan untuk berdalih dari "validasi netizen" menuju "validasi Ilahi". Al-Qur'an menegaskan bahwa keutamaan seseorang tidak terletak pada aspek fisik atau popularitas, melainkan ketakwaannya. Hal ini dimaknai luas sebagai integritas hubungan baik dengan Allah (ritual), sesama manusia, serta kepedulian terhadap lingkungan. Jangan jadikan media sosial sebagai cermin utama, tapi jadikanlah Al-Qur'an sebagai penuntun utama hidup. (Fattah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....