Fenomena "Cowok Bingung" Viral, Psikolog Ungkap Penyebab di Baliknya
- 27 Jul 2026 07:46 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Istilah "cowok bingung" belakangan ini tengah menjadi fenomena yang marak diperbincangkan di berbagai platform media sosial anak muda. Istilah tersebut merujuk pada fenomena relasi asmara masa kini di mana seorang laki-laki gencar memberikan atensi yang intens, namun enggan berkomitmen atau enggan memberikan kepastian status hubungan.
Menanggapi hal tersebut, Yoza Okta Saputra, M.Psi. Dosen Fakultas Psikologi UMP., mengupas tuntas fenomena tersebut dari sudut pandang ilmu psikologis dalam program Curhatnya Pro 2, pada Selasa (15/7/2026) malam. Ia memaparkan, secara psikologis, perilaku plin plan atau keraguan tersebut dapat berakar dari kepribadian kelekatan menghindar (avoidant attachment style).
Seseorang dengan gaya ini cenderung menarik diri ketika relasi interpersonal mulai mengarah ke tahap yang lebih serius. Faktor pemicu lainnya meliputi ketidakmatangan emosional, kecemasan finansial pada fase dewasa awal, hingga trauma masa lalu akibat hubungan toksik atau perceraian orang tua.
"Fenomena cowok bingung ini merujuk pada laki-laki yang memberikan perhatian kepada perempuan layaknya pasangan, tapi menghindari kepastian dalam hubungan," ujar Yoza.
| Baca juga: Bijak Bermedia Sosial demi Kesehatan Mental |
Kondisi sosiokultural di Indonesia turut memberi pengaruh, di mana pola asuh patriarki sering kali menuntut laki-laki untuk selalu tampak kuat, mandiri, dan pantang memperlihatkan kerentanan emosi. Hal ini memicu hambatan dalam berkomunikasi secara terbuka mengenai perasaan mereka yang sesungguhnya.
Fenomena ketidakpastian ini jika dibiarkan berlarut-larut dinilai dapat berdampak buruk pada kesehatan mental pihak perempuan, mulai dari memicu overthinking, kecemasan, kelelahan emosional, hingga kecenderungan menyalahkan diri sendiri (self-blaming). Hadirnya aplikasi kencan (dating apps) di era digital saat ini pun ditengarai ikut andil meningkatkan eskalasi kebingungan tersebut karena menawarkan opsi pilihan yang terlalu banyak.
Yoza menyarankan untuk mulai melatih ketegasan emosional, belajar berani menanggung konsekuensi keputusan, serta menyelesaikan luka masa lalu secara profesional melalui sesi konseling dengan psikolog jika diperlukan. Sebagai penutup, ia berpesan tentang pentingnya kejelasan dan tanggung jawab dalam membangun sebuah relasi percintaan yang sehat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....