Mari Menjaga Bumi, Mulai Pilah Sampah Dari Rumah

  • 23 Jul 2026 12:57 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Sampah masih menjadi tantangan utama dilingkungan sekitar hingga saat ini, isu tersebut yang menjadi pemantik dalam pembahasan mengenai pemilahan sampah dari rumah. Berawal dari keprihatinan akan darurat sampah yang sempat terjadi, para ibu rumah tangga memiliki ide kreatif untuk membentuk bank sampah.

Dalam program nya Bank Sampah Ramah mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan pemilahan sampah dari rumah sebagai langkah sederhana dalam menjaga lingkungan sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Ajakan tersebut disampaikan dalam program Green Radio Pro 1 RRI Purwokerto yang mengangkat tema "Mari Menjaga Bumi, Mulai Pilah Sampah dari Rumah".

Wakil ketua Bank Sampah Ramah, Ana Heni Purwanti, mengungkapkan bagaimana berdirinya Bank Sampah Ramah yang bermula dari kondisi darurat sampah di Kabupaten Banyumas pada 2018-2019. Penumpukkan sampah yang terjadi pada saat itu akibat penutupan TPA kaliori yang menyebabkan sampah tidak dapat diangkut selama beberapa hari bahkan berminggu-minggu hingga menyebabkan keresahan bagi para warga sekitar, khususnya komunitas ibu-ibu PKK.

"Kami sebagai komunitas ibu-ibu PKK mencoba melakukan aksi nyata dengan mendirikan bank sampah. Tujuannya agar volume sampah yang dibuang bisa berkurang melalui pemilahan sampah sejak dari rumah," ujarnya.

Kebiasaan memilah sampah bisa menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang dapat dilakukan oleh setiap keluarga tanpa memerlukan tindakan yang besar namun berdampak cukup efektif. Memisahkan sampah organik dan anorganik yang dimulai dari rumah menjadikan masyarakat turut andil dalam membantu mengurangi beban pengelolaan sampah.

Selain meringankan petugas PDU (Pusat Daur Ulang) dalam mengelola sampah, pemilahan sampah anorganik seperti kardus, kertas HVS, botol plastik, kaleng, hingga sampah rumah tangga dapat menjadi nilai ekonomi yang cukup menguntungkan. etiap nasabah yang menyetorkan sampah akan memperoleh tabungan sesuai berat dan jenis sampah yang disetorkan.

"Banyak anggota yang tabungannya sudah mencapai jutaan rupiah karena rutin menabung sampah. Namun yang paling utama bukan nilai ekonominya, melainkan kesadaran untuk menjaga lingkungan," ungkapnya. Sampah yang tadinya dianggap tidak bernilai, ternyata setelah dipilah dengan baik dapat memiliki nilai yang cukup fantastis.

Selain dengan manfaat ekonomi nya, kegiatan pemilahan sampah juga menjadi sarana pendidikan lingkungan bagi anak-anak. Dengan dibiasakan mengenali jenis sampah dan memahami pentingnya menjaga kebersihan sejak usia dini, diharapkan anak-anak akan memiliki awarness terhadap lingkungannya.

Bank Sampah Ramah telah memiliki sekitar 120 nasabah dari satu wilayah RW dan secara rutin melaksanakan penimbangan sampah setiap bulan. Dalah satu kali penimbangan, sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar 600 hingga 700 kilogram. Selain itu, Bank Sampah Ramah aktif dalam Kerjasama dengan berbagai pihak, seperti Universitas Jenderal Soedirman, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, serta Bank Indonesia melalui berbagai program pembinaan, pelatihan, dan bantuan sarana pendukung.

Kedepannya, Bank Sampah Ramah berencana mengembangkan program edukasi bertajuk Sekolah Sampah yang menyasar anak-anak usia dini di PAUD, TK, hingga TPQ. Program tersebut bertujuan menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dini agar menjadi budaya di tengah masyarakat.

Melalui program tersebut, Bank Sampah Ramah berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya memilah sampah dari rumah sebagai upaya bersama menjaga lingkungan dan menciptakan Banyumas yang lebih bersih dan berkelanjutan. (Safira)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....