Pelajaran Hidup dalam Shalat: Cara Islam Mengatur Emosi, Fokus, dan Tujuan

  • 13 Jun 2026 12:10 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Shalat adalah salah satu rukun Islam yang paling penting dan memiliki peran besar dalam membentuk karakter seorang Muslim. Shalat bukan hanya sekedar ritual ibadah, tapi juga merupakan sarana untuk meningkatkan kesadaran diri, memperbaiki akhlak, dan membentuk karakter yang baik.

Pada siaran dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto bersama Ustaz Enjang Burhanudin Yusuf Sya'roni yang menjelaskan bahwa shalat bukan hanya gerakan semata. Mulai dari takbiratul ihram hingga salam memiliki makna kehidupan yang membentuk ketenangan dan kedewasaan seseorang.

Diawali dengan takbiratul ihram menjadi bentuk dari pengakuan atas kebesaran Allah Swt. Rukuk menjadi simbol dari ketundukan dan kerendahan hati. I’tidal memiliki arti kembali dengan tenang. Artinya setelah menunduk akan kembali tegak tanpa kesombongan. Sedangkan sujud sebagai puncak penghambaan, yang menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah swt lahir dari kerendahan hati.

Gerakan duduk diantara dua sujud menunjukkan bahwa hidup terus berputar. Ketika manusia jatuh, maka dapat bangkit kembali dengan pertolongan Allah swt. Sehingga, ketika kita menjalankan shalat dapat menjadi energi bagi kita agar dapat bangkit dari keterpurukan. Duduk tasyahud menjadi simbol kedewasaan dan stabilitas emosi.

Semakin bertambah usia, maka seseorang sebaiknya dapat mengelola emosi dengan lebih tenang. Salam sebagai penutup dari shalat yang mengajarkan keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas. Artinya, salam sebagai keseimbangan antara hubungan antara Allah swt dan hubungan dengan sesama manusia.

Ustaz Enjang juga menjelaskan adab ketika shalat berjamaah. Salam ke sebelah kanan hukumnya wajib, sedangkan salam ke kiri hukumnya sunnah. Imam dianjurkan untuk mengambil sunah dari kedua salam agar makmum mengetahui bahwa shalat telah selesai. Bagi jamaah yang terlambat, ketika shaf kanan dan kiri imam kosong, maka shaf sebelah kanan lebih diutamakan. Namun, pada jamaah perempuan disunnahkan berada di saf belakang sebelah kiri imam.

Terkait shalat malam, Ustaz Enjang memaparkan pembagian waktu sepertiga malam untuk shalat tahajud. Sepertiga malam pertama berlangsung pada pukul 18.00 hingga 22.00 WIB. Sepertiga kedua pukul 22.00 hingga 02.00 WIB. Sepertiga malam ketiga pukul 02.00 hingga menjelang subuh. Sedangkan waktu paling utama untuk melaksanakan shalat tahajud yaitu pada sepertiga malam terakhir. Tahajud dapat dilakukan setelah shalat isya.

“Hadist nabi menjelaskan “la firlli” artinya tidak ada dua witir dalam satu malam artinya, shalat witir tidak diperbolehkan dilakukan dua kali dalam satu malam. Saat bulan Ramadhan, apabila witir dilakukan setelah shalat tarawih, maka ketika tahajud tidak perlu mengulang witir,” jelasnya.

Selain itu, Ustaz Enjang menjelaskan doa istifah menjadi bacaan sunah setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah. Makmum dianjurkan membaca doa tersebut ketika imam diam. Doa istiftah memiliki beberapa versi yang dikenal di kalangan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Namun, keduanya memiliki dasar yang kuat.

Ustaz Enjang menjelaskan bahwa seseorang tidak akan merasakan kenikmatan dalam sholat apabila ia belum memahami maknanya. Sholat yang dilakukan dengan terburu-buru hanya menjadi kewajiban, bukan kebutuhan. Sholat sejatinya merupakan bentuk kasih sayang Allah Swt agar manusia merasakan ketenangan dalam kehidupan.

“Ketika melakukan shalat berjamaah, saf terdepan memiliki keutamaan pahala yang lebih besar. Namun, saf belakang tetap mendapatkan pahala. Balasan atau pahala seseorang tergantung pada tingkat semangatnya, Makmum yang berada di shaf terdepan mencerminkan semangat dan kesungguhan dalam beribadah,” ungkapnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....