WHDI Mewujudkan Kesetaraan Gender: Bukan Menyaingi, tapi Bersinergi
- 09 Jun 2026 09:07 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Kesetaraan gender menjadi isu yang tak lekang oleh waktu. Seiring berkembangnya zaman, isu ini terus kembali digaungkan dan diajarkan kepada tiap generasi manusia di dunia ini. Dalam setiap masa kehidupan manusia, akan selalu ada pejuang-pejuang kesetaraan gender yang lahir dari kondisi memilukan tentang peran dan eksistensi perempuan di masyarakat sosial. Ada banyak sekali cara pandang yang dapat digunakan untuk dapat memahami isu kesetaraan gender ini.
Salah satu cara pandang yang dapat kita pakai ialah dengan melihat peran Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) dalam mewujudkan kesetaraan gender. Hal ini dibahas dalam dialog Jelita (Jendela Informasi Kita) Pro 1 RRI Purwokerto bersama 3 perwakilan dari WHDI Kabupaten Banyumas yang membagikan pandangan mereka mengenai isu ini dalam perspektif agama dan ajaran Hindu. Ketiga perwakilan tersebut ialah Sriyanti selaku sekretaris WHDI, Gayuh Tri Munarsih selaku bendahara, dan Sri Wahyuni selaku seksi organisasi.
“Kesetaraan gender adalah suatu konsep yang dikonstruksikan oleh masyarakat, tidak bisa pakem, sehingga akan terus berkembang seiring zaman. Konsep ini bukanlah suatu kodrat, tetapi berkaitan dengan proses keyakinan yang selaras dengan tatanan sosial budaya agar perempuan dapat memproleh kesempatan yang sama dan berperan secara maksimal dalam berkehidupan dan dapat menikmati hasil yang mereka kerjakan,” ungkap Sriyanti.
Ia pun mengungkapkan bahwa adanya sosok Ardhanarishvara — dewa setengah lelaki dan perempuan dalam agama Hindu — menandakan bahwa tidak ada gender yang lebih tinggi daripada yang lainnya.
“Dalam kitab suci, agama Hindu memiliki banyak sosok perempuan panutan yang berilmu, bijak, dan berani. Contohnya ialah Kirgi, yaitu seorang filsuf di zaman Weda yg kerap berdiskusi dengan resi laki-laki tentang hakikat Brahmana atau realitas tertinggi. Lalu ada Maitreyi yang lebih memilih kebijaksanaan spritual daripada harta duniawi. Lalu ada Sita, Kunti, dan Drupadi di epos Ramayana yang memiliki peran sentral dalam perjalanan besar umat manusia,” jelas Gayuh.
“Selain itu, kami juga memiliki banyak sosok dewi yang mewakili kekuatan perempuan, seperti Dewi Saraswati yaitu dewi pengetahuan dan seni, Dewi Laksmi yaitu dewi kemakmuran dan kesejahteraan, dan Dewi Kali yaitu dewi kekuatan dan perlindungan dari ketidakbenaran,” tambahnya.
Lebih dari itu, mereka pun mengungkapkan bahwa keberadaan WHDI di masyarakat memiliki peran yang cukup signifikan untuk dapat memaksimalkan kontribusi perempuan dalam berkegiatan sosial.
“Di Hindu, pelan-pelan perempuan sudah bisa dipercaya menjadi pemangku adat, pemimpin upacara, guru dharma, dan pemimpin komunitas yang berjuang untuk nilai-nilai keadilan dan kasih sayang,” tutur Sri.
Sriyanti melanjutkan, pemberdayaan perempuan Hindu melalui advokasi agama dan budaya serta digitalisasi ekonomi. Di Banyumas sendiri, sudah pernah melakukan pelatihan membuat jahe instan, sabun cuci piring, dan lain-lain.
Gayuh pun menambahkan, “kami berupaya agar mereka mendapatkan pelatihan wirausaha sehingga mandiri. Kemudian di upcara keagamaan pun tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi ikut memainkan peran utama, lalu melakukan dialog publik secara aktif demi hak dan martabat sesama”.
Di akhir sesi, mereka beranggapan bahwa apa yang sedang mereka lakukan bukanlah melawan budaya, melainkan sedang melakukan reformasi budaya dengan nilai yang lebih kontekstual. Dengan memulai gerakan dari akar komunitas, maka transformasi sosial yang lebih baik akan lebih mudah tercapai. Sebab, adanya ajaran agama bukan untuk membelenggu individu, tetapi justru memperjuangkan setiap hak kehidupan manusia di dalamnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....