Islam Sebagai Aturan Bersumber dari Allah Demi Keselamatan
- 08 Jun 2026 09:16 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Umat Islam diajak untuk memahami karakteristik ajaran agamanya secara mendalam agar dapat menjalankan syariat berdasarkan kesadaran dan pemahaman yang utuh, bukan sekadar mengikuti tradisi turun-temurun dari orang tua atau pengaruh lingkungan. Penegasan tersebut disampaikan oleh Ustaz Hendro Kuncoro, S.Pt., dalam dialog Mutiara Pagi, Sabtu (16/5/2026).
Memasuki kehidupan modern saat ini, esensi Islam hadir bukan hanya sebagai ibadah ritual semata, melainkan sebagai tatanan hidup yang mengatur keadilan, pembentukan akhlak mulia, serta kepedulian sosial yang seimbang. Secara etimologi, Ustaz Hendro menjelaskan bahwa istilah "agama" diserap dari bahasa Sansekerta, di mana kata "a" berarti tidak dan "gama" berarti kacau, yang bermakna sebuah tuntunan agar kehidupan manusia tidak mengalami kekacauan.
Sementara dalam bahasa Arab, kata "din" memiliki ragam makna yang luas. Merujuk pada Surah al-Fatihah, din didefinisikan sebagai hari pembalasan atau pembayaran utang perilaku manusia di akhirat kelak. Selain itu, berdasarkan kontekstualisasi Surah Yusuf ayat 76, istilah din juga merepresentasikan sebuah sistem hukum, aturan, atau undang-undang yang mengikat.
"Berdasarkan istilahnya, din itu berarti aturan dan Islam itu maknanya selamat. Dengan demikian, Dinul Islam merupakan seperangkat aturan yang bersumber langsung dari Allah SWT untuk memastikan manusia mendapatkan keselamatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Jika manusia tidak menggunakan aturan Allah, maka peradaban akan dihadapkan pada berbagai kerusakan dan krisis kemanusiaan." ujar Ustaz Hendro.
Lebih lanjut, Ustadz Hendro menggambarkan proses memilih agama idealnya didasari oleh prinsip kesadaran batin, serupa seperti seseorang yang memilih jodoh atau pasangan hidup. Ketika karakteristik dan kelebihan dari objek yang dipilih telah dipahami dengan matang, maka komitmen untuk menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan agama akan lahir secara tulus tanpa adanya paksaan.
Menanggapi hal tersebut, Ustaz Hendro menekankan pentingnya meneladani metode dakwah Nabi Muhammad SAW yang selalu mengedepankan kesabaran, kelembutan, dan keteguhan emosi. Proses perubahan cara pandang seseorang membutuhkan tahapan waktu yang tidak instan, sehingga setiap ajakan kebaikan harus disampaikan secara konsisten tanpa respons amarah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....