People Pleaser Picu Kelelahan Emosional dan Hilangnya Jati Diri

  • 19 Mei 2026 12:59 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Fenomena people pleaser dinilai semakin banyak dialami kalangan remaja dan Gen Z. Kondisi ini terjadi ketika seseorang terus-menerus mendahulukan kebutuhan, kenyamanan, dan ekspektasi orang lain dibanding dirinya sendiri demi mendapatkan penerimaan sosial.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Uswatun Hasanah. S.Psi.,M.A, menjelaskan, perilaku people pleaser sering kali terlihat seperti sikap baik hati dan suka menolong. Namun secara psikologis, kondisi tersebut bisa menjadi bentuk mekanisme bertahan hidup akibat tekanan emosional yang dialami sejak kecil.

Menurutnya, banyak people pleaser tumbuh di lingkungan yang penuh tuntutan, konflik, atau pola asuh yang membuat anak terbiasa menghindari penolakan. Akibatnya, seseorang menjadi terlalu peka terhadap penilaian sosial dan takut mengecewakan orang lain.

“Orang yang people pleaser biasanya sulit mengatakan tidak, bahkan untuk hal yang sebenarnya memberatkan dirinya sendiri,” jelas Uswatun dalam dialog Jaga Malam di Pro 2 FM, Selasa (05/05/26).

Ia menambahkan, kondisi people pleaser yang terus berlangsung dalam jangka panjang dapat memicu kelelahan emosional, burnout, hingga munculnya kebiasaan overthinking. Jika hal iu terus dibiarkan, seseorang dapat kehilangan jati dirinya akibat terlalu sering mengabaikan kebutuhan pribadi dan mengikuti keinginan lingkungan sekitarnya.

Uswatun mengingatkan bahwa menjadi pribadi yang baik tidak harus selalu mengorbankan diri sendiri. Menurutnya, menjaga kesehatan mental dan menghargai kapasitas diri merupakan hal penting agar seseorang tetap memiliki keseimbangan emosional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....