Cinta sebagai Asas dalam Beragama: Relevansinya di tengah Polaritas Sosial

  • 18 Mei 2026 08:44 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Semakin seseorang mendalami agamanya, seharusnya semakin dalam pula rasa cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia serta alam semesta. Sebab, Tuhan menciptakan kehidupan berdasarkan cinta. Oleh karena itu, beragama seharusnya tidak menjadikan seseorang kasar, keras, atau malah menghakimi orang lain.

Dalam segmen SPADA Selamat Pagi Teman Pro 2 RRI Purwokerto bersama Muhammad Zainur Rakhman, M.Ag. – Ketua PD IPARI (Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia) Banyumas yang membahas tema “Cinta sebagai Asas dalam Beragama”.

Dalam menghadapi perbedaan, Ketua PD IPARI Banyumas tersebut menyarankan untuk mengubah sudut pandang dari “perbedaan” menjadi “keragaman”. Keberagaman adalah kehendak Tuhan yang menunjukkan keagungan-Nya, sehingga perbedaan seharusnya menjadi kesempatan untuk saling mengenal, saling asah, saling asuh, dan saling asih, bukan menjadi alasan untuk konflik.

“Kalau kita itu beragama kok malah jadi kasar, jadi keras, jadi mudah menghakimi, itu berarti ada yang salah dengan cara kita beragama,” tutur Zainur.

Ia juga menyoroti pentingnya memilih sumber belajar agama yang kredibel atau memiliki sanad keilmuan yang jelas. Mempelajari agama tidak hanya mengandalkan informasi yang belum terverifikasi di media sosial, karena karakter dan akhlak guru yang diikuti akan sangat memengaruhi pola pikir muridnya.

Dengan demikian, beragama seharusnya menumbuhkan cinta kasih kepada sesama dan alam. Perbedaan perlu dipandang sebagai keragaman yang membawa kebaikan, bukan konflik. Selain itu, belajar agama pun harus dari sumber yang kredibel agar melahirkan akhlak yang baik. (Helmalia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....