Lebaran: Momentum Istikamah, Bukan Sekadar Perayaan Sesaat
- 28 Mar 2026 12:41 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Masih dalam suasana Lebaran, banyak masyarakat yang merayakan hari raya Idul Fitri yang identik dengan berbagai tradisi komunal. Namun, di balik keriuhan mudik dan perayaan fisik, terdapat esensi spiritual mendalam yang seringkali terabaikan oleh hiruk-pikuk tradisi.
Dalam dialog di Pro 2 FM, akademisi dari UIN Saizu Purwokerto, Kurnia Sari, menekankan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, melainkan momentum untuk kembali ke fitrah atau kesucian jiwa. Kurnia menjelaskan bahwa kata "Fitri" memiliki dua dimensi makna.
Pertama, berasal dari kata fathoro yang berarti "berbuka" atau kembali makan pagi, menandakan berakhirnya kewajiban puasa. Kedua, bermakna "fitrah" atau kesucian asal manusia saat dilahirkan.
Perayaan ini merupakan bentuk syukur atas keberhasilan manusia dalam menggembleng diri dan menyucikan jiwa selama Ramadan. Salah satu poin penting dalam diskusi tersebut adalah mengenai indikator apakah seseorang benar-benar telah meraih "hati yang bersih" pasca ramadhan karena salah satu aspek yang menandakan keberhasilan itu terlihat dari aspek istiqamah.
"Indikator kita sudah meraih fitrah adalah ketika kebiasaan positif selama Ramadhan, seperti menahan emosi dan intensitas ibadah, tetap berjalan di sebelas bulan berikutnya, bukan hanya menjadi edisi terbatas di bulan suci saja," paparnya.
Diskusi juga menyoroti fenomena sosial yang sering muncul saat Lebaran, seperti budaya konsumtif yang berlebihan dan perilaku flexing atau pamer di media sosial. Ibu Kurnia mengingatkan bahwa tradisi mengenakan pakaian terbaik adalah sunnah yang dianjurkan, namun hal tersebut menjadi salah ketika dipaksakan atau memicu penyakit hati seperti iri dan hasad.
Selain itu, munculnya kecemasan di kalangan generasi muda terkait pertanyaan-pertanyaan pribadi saat kumpul keluarga juga menjadi perhatian. Fenomena ini dikhawatirkan dapat mengikis kebahagiaan Idul Fitri.
Beliau menyarankan agar momen silaturahmi diisi dengan dialog yang membangun dan niat tulus untuk menyambung persaudaraan, bukan sekadar formalitas. Sebagai penutup, masyarakat diajak untuk memanfaatkan malam takbiran sebagai momen muhasabah atau dialog dengan diri sendiri.
Idul Fitri diharapkan menjadi titik awal perubahan hidup yang lebih baik melalui kesadaran diri akan kekurangan dan komitmen untuk mempertahankan nilai-nilai ketakwaan yang telah dibentuk selama bulan Ramadhan.
"Jangan sampai sibuk mudik tapi lupa memperbaiki hati, dan jangan sampai sibuk kumpul tapi tidak benar-benar menyambung hubungan," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....