Takbir Idul Fitri, Wujud Ketakwaan Sejati
- 20 Mar 2026 10:35 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Purwokerto – Umat Islam diajak untuk tidak sekadar mengumandangkan takbir di lisan, tetapi juga menghadirkan makna pengagungan kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disampaikan oleh Ustad Mintaraga Eman Surya saat menjadi imam sekaligus khatib Salat Idul Fitri yang digelar di Alun-alun Purwokerto, Jumat (20/3).
Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Besar, sehingga takbir seharusnya tidak hanya menjadi euforia sesaat. Menurutnya, umat Islam sering kali terjebak pada perayaan tanpa melanjutkan nilai-nilai ibadah setelah Ramadan berakhir.
“Bisa jadi setelah hari ini, malam-malam kita tidak lagi diisi dengan istighfar, salat malam, dzikir, dan doa. Inilah kelemahan kita, merayakan hanya sebatas euforia,” ujarnya.
Ia juga mengutip pandangan Ali bin Abi Talib yang menyebut bahwa setiap hari adalah hari raya selama manusia tidak bermaksiat kepada Allah. Karena itu, momentum Idul Fitri seharusnya menjadi titik awal untuk mempertahankan ketakwaan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Ramadan telah melatih umat dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya adalah spirit questions, yaitu kemampuan untuk terus bertanya dan merefleksikan diri sebagai bentuk evaluasi ketakwaan.
Selain itu, Ramadan juga membentuk kecerdasan dalam menghadapi persoalan hidup, meningkatkan pengendalian diri melalui disiplin ibadah, serta menumbuhkan kepekaan sosial dengan merasakan kondisi sesama, termasuk memahami arti lapar dan kesulitan orang lain.
Dalam konteks yang lebih luas, ia menyoroti pentingnya membangun ketahanan umat di tengah krisis global. Mengacu pada Al-Qur'an khususnya Surah Al-Anfal ayat 60, umat Islam didorong untuk mempersiapkan kekuatan, termasuk dalam aspek ekonomi.
“Krisis global saat ini ditandai ketimpangan distribusi, spekulasi pasar berlebihan, dan lemahnya perlindungan. Islam sejak awal telah mengajarkan inklusi ekonomi, yaitu kesadaran untuk saling membantu dalam membangun kekuatan umat,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kohesi sosial atau ukhuwah Islamiyah sebagai modal utama kekuatan bangsa. Menurutnya, masyarakat yang kuat adalah yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi, solidaritas, serta jaringan kerja sama yang baik.
Sebagai contoh, ia mengapresiasi peran masjid yang telah mempraktikkan nilai tersebut melalui kegiatan sosial seperti penyediaan buka puasa gratis dari dana umat.
Selain itu, ketahanan mental juga menjadi perhatian di era modern. Ia menilai banyak masyarakat, termasuk kalangan ekonomi menengah ke atas, mengalami tekanan mental karena menjadikan keinginan sebagai dasar hidup, bukan kebutuhan.
“Ramadan mengajarkan kita untuk bergantung hanya kepada Allah SWT. Ketika manusia kembali pada ketergantungan itu, maka akan lahir ketenangan dalam menghadapi kehidupan,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....