Menghapus Stigma ODGJ: Langkah-langkah untuk Membangun Inklusivitas
- 09 Mar 2026 07:45 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto : ODGJ atau Orang Dengan Gangguan Jiwa kerap menerima diskriminasi karena dianggap berperilaku menyimpang. Padahal dengan penanganan yang tepat, ODGJ tidak meresahkan atau membahayakan orang lain seperti anggapan umum. Bagaimana stigma negatif yang melekat pada ODGJ dapat menghambat proses rehabilitasi mereka, serta pentingnya pemahaman dan dukungan sosial, hal ini dibahas dalam siaran Suara Difabel Pro 1 RRI Purwokerto, bersama Tusino, S.Sos dari Panti Dewanata Cilacap.
Tusino menjelaskan bahwa stigma terhadap ODGJ sering kali berupa pandangan yang menganggap mereka berbahaya, tidak mampu, atau tidak bisa menjalani kehidupan sosial yang normal. Hal ini menyebabkan isolasi sosial, kurangnya akses ke layanan kesehatan mental, dan rendahnya rasa percaya diri pada ODGJ. “Stigma ini harus dihentikan agar ODGJ bisa mendapatkan hak-hak mereka dengan lebih mudah,” ujar Tusino.
Menurutnya, pendekatan empati adalah cara yang efektif untuk membantu ODGJ. Ia menyarankan untuk mendengarkan mereka dengan penuh perhatian, menghindari prasangka, serta menunjukkan dukungan melalui bahasa tubuh yang mendukung. Dengan pemahaman yang lebih mendalam, masyarakat diharapkan bisa lebih terbuka dan tidak menjauhi ODGJ.
Panti Dewanata Cilacap, tempat Tusino bekerja, memberikan pelayanan bagi lansia, termasuk mereka yang mengalami gangguan jiwa. Di panti ini, lansia ODGJ mendapatkan dukungan rutin berupa pengobatan, kontrol ke rumah sakit, dan terapi untuk membantu proses pemulihan mereka. Tusino menekankan bahwa peran keluarga dan masyarakat sangat penting dalam mendukung ODGJ.
Siaran ini juga membahas beberapa mitos yang beredar di masyarakat tentang ODGJ, seperti anggapan bahwa ODGJ berbahaya atau tidak bisa sembuh. Tusino menegaskan bahwa dengan pengobatan yang tepat dan dukungan dari keluarga, ODGJ bisa sembuh dan menjalani kehidupan normal.
Menciptakan lingkungan yang inklusif juga menjadi salah satu fokus dalam diskusi ini. Tusino berharap program-program seperti desa ramah disabilitas dapat membantu ODGJ merasa diterima dan aktif dalam kegiatan sosial. Lingkungan yang ramah bagi ODGJ akan memberi mereka rasa diterima dan memungkinkan mereka untuk berinteraksi lebih bebas dengan masyarakat.
Sebagai langkah ke depan, Tusino berharap adanya kerjasama antara pemerintah, media, dan masyarakat untuk lebih mengedukasi tentang kesehatan mental dan menghapus stigma terhadap ODGJ. “Penyuluhan dan edukasi yang merata akan membantu ODGJ mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan,” tutupnya. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan peduli terhadap kesehatan mental.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....