Birrul Walidain, Keseimbangan Bakti dan Kesehatan Mental
- 03 Mar 2026 08:12 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Berbakti kepada orang tua atau birul walidain di era modern, di mana batasan antara bakti dan kesehatan mental sering kali menjadi sebuah perdebatan. Birul walidain merupakan salah satu amalan yang paling dicintai Allah, kunci masuk surga, dan penyebab keberkahan rezeki.
Astika N. Hidayah, S.H., M.H., hadir sebagai narasumber dalam Cafe Ramadan Pro 2, menyampaikan bahwa dalam Islam dan hukum positif (UU Perkawinan No. 1/1974), anak memang wajib menghormati dan merawat orang tua. Namun, ketaatan ini ada batasan-batasannya.
Secara hukum, kewajiban anak kepada orang tua pun dibatasi menurut kemampuannya, sehingga tidak seharusnya mematikan hak anak untuk terus berkembang. Secara syariat, anak juga berhak menolak perintah yang membawa kemudaratan atau segala hal yang dilarang agama.
Seiring berkembangnya zaman, istilah toxic parent dan sandwich generation juga menjadi sorotan. Beliau menegaskan bahwa orang tua adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Luka batin masa kecil (inner child) yang belum selesai, sering kali membuat orang tua tidak sadar mewariskan pola asuh yang menyakiti dan mengekang anak.
“Menikah dan menjadi orang tua bukan sekadar modal cinta, tapi modal ilmu. Jangan sampai kita mewariskan rantai luka batin (inner child) kepada anak,” tegas Astika.
Di bulan Ramadan ini, dapat dijadikan sebagai momen untuk merefleksikan dua sisi, memastikan hak-hak anak terpenuhi tanpa adanya tekanan yang menyakitinya. Memuliakan orang tua tanpa harus mengorbankan kewarasan diri merupakan sebuah bakti yang sempurna. (Khofifah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....