Gizi dan Literasi Jadi Kunci Wujudkan Indonesia Emas 2045
- 27 Jul 2026 13:43 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Pemenuhan gizi yang seimbang dan penguatan literasi menjadi dua faktor penting dalam mempersiapkan generasi penerus menuju Indonesia Emas 2045. Selain kesehatan fisik, generasi muda juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, mental yang tangguh, serta kecakapan menghadapi tantangan di era digital.
Anggota Komisi I DPR RI, Dr. H. Jefri Romdoni, menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya berfokus pada aspek fisik.Menurutnya, pembentukan karakter dan kesiapan mental harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan gizi sejak dini.
"Untuk mempersiapkan generasi penerus, kita tidak hanya fokus pada sisi fisik, tetapi juga perlu mempersiapkan mentalnya. Gizi yang cukup menjadi pondasi penting untuk mendukung perkembangan otak dan kesehatan fisik anak," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Promosi dan Edukasi Gizi Badan Gizi Nasional, Dr. Gunalan AP, M.Si., menjelaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang untuk memperluas akses gizi yang merata bagi seluruh anak sekolah. Program tersebut diharapkan mampu mengurangi kesenjangan gizi sekaligus mendukung lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
"MBG hadir untuk memperkecil jarak ketimpangan gizi. Tujuan utamanya bukan sekadar membagikan makanan, tetapi untuk mendukung SDM unggul yang sehat, cerdas, dan produktif agar mereka memiliki kesempatan masa depan yang lebih cerah," jelasnya.
Dari sisi pendidikan, Dosen STKIP Melawi, Ahmad Kiri, M.Pd., menekankan bahwa literasi tidak lagi dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta menggunakan teknologi secara bijak. Ia menilai kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam membentuk karakter sekaligus menjaga kesehatan mental anak di tengah derasnya arus informasi digital.
Forum diskusi juga menyoroti pentingnya penyesuaian kebutuhan gizi bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sesuai kondisi masing-masing, serta peran orang tua dalam membangun komunikasi yang hangat di rumah. Kebiasaan makan bersama dan pendampingan orang tua dinilai mampu membantu anak membangun pola hidup sehat sekaligus menyaring pengaruh negatif dari lingkungan.
Di akhir kegiatan, Ahmad Kiri menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan generasi unggul merupakan tanggung jawab bersama. "Keberhasilan pembangunan generasi mendatang adalah tanggung jawab kolektif. Pemerintah menyediakan akses gizi dan sarana pendidikan, namun pondasi utamanya tetap dimulai dari keluarga melalui komunikasi yang hangat dan pola makan sehat di rumah," pungkasnya. (Kartika)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....