Unsoed Dorong Regenerasi Petani Melalui Pertanian Modern
- 22 Jul 2026 19:11 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Menuanya usia petani di Indonesia menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan sektor pertanian, termasuk di Kabupaten Banyumas. Untuk menjawab persoalan tersebut, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mendorong generasi muda terjun ke sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi modern dan penguatan jiwa kewirausahaan.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Fakultas Pertanian Unsoed, Khavid Faozi, mengatakan berkurangnya jumlah petani usia produktif harus diimbangi dengan hadirnya generasi muda sebagai penerus sektor pertanian. Menurutnya, regenerasi petani menjadi kunci menjaga keberlanjutan produksi pangan di masa mendatang.
| Baca juga: Stok Beras Bulog Tembus 5 Juta Ton |
"Kalau tidak bisa dilakukan regenerasi dengan baik, manusia akan menjadi ancaman. Karena bagaimanapun, pangan ini akan menjadi kebutuhan dasar semua manusia. Saya kira tidak hanya saat ini, tapi itu dari dulu bahkan mungkin sampai berakhirnya kehidupan di dunia," ujar Khavid.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak lulusan yang tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan di sektor pertanian. Karena itu, Fakultas Pertanian Unsoed telah menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi melalui pengenalan kecerdasan buatan (AI), drone, hingga berbagai teknologi pertanian modern.
Selain pembelajaran di dalam kelas, mahasiswa juga memperoleh pengalaman melalui program kewirausahaan serta kesempatan belajar langsung bersama mitra usaha pertanian. Langkah tersebut diharapkan mampu melahirkan lulusan yang siap mengembangkan usaha pertanian berbasis inovasi dan teknologi.
"Seluruh subsektor pertanian sebenarnya memiliki peluang yang baik. Namun, sektor hortikultura berbasis teknologi seperti smart farming dan Internet of Things (IoT) memiliki daya tarik tersendiri bagi generasi muda karena menawarkan inovasi sekaligus efisiensi dalam budidaya," kata Khavid.
Khavid menambahkan, keberhasilan regenerasi petani tidak dapat dilakukan oleh perguruan tinggi semata, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Kampus berperan menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten, pemerintah menghadirkan kebijakan dan dukungan sarana, dunia usaha menjadi mitra pengembangan, sementara keluarga dan masyarakat diharapkan mampu mengubah stigma negatif terhadap profesi petani.
Melalui kolaborasi tersebut, regenerasi petani diharapkan mampu memperkuat sektor pertanian Indonesia sekaligus meningkatkan ketahanan pangan nasional. Pemanfaatan teknologi oleh generasi muda dinilai menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas pertanian, menciptakan usaha yang berdaya saing, serta memastikan keberlanjutan sektor pertanian di masa depan. (Sofia Almas Meylani)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....