Jelajah ke Negeri Bekas Penjajah

  • 18 Apr 2026 14:18 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Amsterdam - Melintasi jalur darat dari Belgia meniti waktu sekitar empat jam perjalanan. Dengan kendaraan bus, menuju Negeri Kincir Angin, sepanjang jalan terlihat alam hijau hutan pinus dan batang cemara.

Belanda sebuah negeri tepi lautan besar. Serupa di Pontianak, tak sedikit kanal penyaluran air dari bentangan sungai yang terhampar. Parit, begitu di Pontianak menyebutnya, di sinilah awalnya diadopsi untuk mengendalikan debit air.

Bangsa kulit putih berhidung mancung ini datang ke Pontianak, selain tentu saja untuk invasi kekuasaan berabad lampau, juga membawa pola hidup. Tak heran, sejumlah kuliner khas konon berasal dari sajian keseharian para "Moor Jangkung" itu. Semisal keroket dan semur.

Saya berada di negeri orang kulit putih penyuka rempah ini empat malam lima hari. Waktu yang sangat singkat saya kira untuk memastikan saya akan kembali ke Indonesia dengan membawa pulang banyak dokumen dan arsip sejarah.

Beberapa kota saya datang dan kunjungi. Tentu sekali lebih dulu ke Amsterdam. Lalu Breda, Leiden, Wasenar, Harlem, Den Haag hingga beberapa kota kecil yang mengarah ke Jerman.

Di Breda dan Den Haag tentunya mendatangi museum dunia yang konon tak berhingga banyaknya pusaka Indonesia ada di sini. Jangan katakan tidak untuk barang-barang leluhur Kalimantan Barat. Ada tak sedikit jumlahnya.

Termasuk berlian berukuran 360 karat, sebesar telor burung merpati, berasal dari Landak abad XVII ada di sini. Pun juga benda bertatah emas dan intan dari Kesultanan Pontianak, tak terlewatkan.

Berpose di salah satu sudut Kota Amsterdam. (Foto: Din Osman)

Di Leiden kudapati banyak arsip foto Pontianak masa kolonial. Bukan sedikit jumlahnya peta dan atlas zaman VOC. Pun juga manuskrip lain serta surat yang dibuat beberapa sultan Pontianak kepada gubernur jenderal di Batavia. Semisal dari Syarif Kasim dan Syarif Usman, maupun dari Adinata Krama Umar Kamarudin di Mempawah.

Bukan hanya lembaran lusuh yang tak terbantahkan nilai sejarahnya itu, di Breda kutemui banyak petunjuk masa bahaula Pontianak, Landak dan kekuasaan otonom tradisional pada masanya. Umumnya catatan para pejabat kolonial yang melaporkan tentang keadaan daerah yang diawasinya. Misalnya saja beberapa tanah di Landak yang dicaplok perkongsian Tionghoa selepas matinya Lanfang kongsi.

Harlem, Wasenar, Roterdam hingga Den Haag, sampai juga Breda, Leiden dan Amsterdam dapatlah kudatangi. Dan tentu aku tidak melewatkan menyinggahi tempat di mana dulu Konferensi Meja Bundar, 1949, berlangsung. Dan ketika berdiri di depan Leonardo Hotels, aku membayangkan manakala orang-orang Belanda berada di Pontianak.

Teringat saat van Hallen memimpin HIS di Jalan Tamar sekarang, terpikir bagaimana PJ Veth membaca Pontianak dengan tertibnya, dan meraba catatan usang AB Faber di Ngabang. Itu sedikit dari yang dapat kulihat di deretan etalase yang ada di Rijk Museum Leiden.

Sebelum meninggalkan Negeri Bekas Penjajah ini beralih ke London, kota tujuanku berikutnya, aku sembari merenung bergumam, "adakah yang mau dan peduli menyelamatkan dokumen dan arsip sejarah di sini?"

(Amsterdam, pukul 08.42 pagi, Pontianak pukul 13.45 siang)

Penulis: Syafaruddin Daeng Usman

Baca juga: Seharian Menjalani Kota Belgia

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....