Aku dan Angkatan 45, Renungan 81 Tahun Kemerdekaan Indonesia
- 04 Agt 2026 09:48 WIB
- Pontianak
Catatan Syafaruddin DaEng Usman
Dari para mentor saya yang rata-rata Angkatan 45 dan mereka adalah pemimpin perjuangan, saya yakini bahwa mereka adalah generasi pembebas. Mereka inilah yang kita kenal sebagai Angkatan 45.
Angkatan 45 ini bisa dikatakan sebagai "the best generation of Indonesia".
Sebagai anak muda, saya merasa beruntung sempat berinteraksi dengan banyak tokoh dari Angkatan 45. Bahkan keluarga kami sendiri adalah keluarga pejuang, bagian dari Angkatan 45.
Suasana inilah, secara tidak sadar, menjadi bagian penerusan atau pewarisan nilai-nilai dari Angkatan 45 kepada angkatan penerusanya, termasuk kepada saya.
Keluarga kami adalah keluarga Angkatan 45 dan Legiun Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia. Lingkungan saya adalah lingkungan keluarga pejuang kemerdekaan. Lingkungan republikein kalau merujuk istilah pada waktu itu.
Angkatan 45 terbentuk dan bangkit karena mereka tidak mau diperlakukan lebih hina oleh penjajah. Dulu mereka sering mendengar kalimat "verboden voor Honden en Inlanders" (anjing dan pribumi dilarang masuk) dan melihat tulisan-tulisannya di dinding-dinding.
Selain tumbuh dan besar dalam keluarga pejuang kemerdekaan, aku juga beruntung sering berinteraksi langsung dengan tokoh-tokoh Angkatan 45 di Kalimantan Barat.
Saya sering berkunjung ke Haji Abang Achmad Noor, Haji Gusti Mohammad Appandie Ranie, Ya' Syarif Umar, Haji Uray Ibrahim Saleh, Haji Achmad Mawardi Djafar, Syarif Mazwar Alhinduan, Kadaruddin Mundit, Syarif Alwi AMS, SH Marpaung, M Yanis dan yang lainnya.
Hal-hal yang menonjol dari mereka yang saya lihat dan rasakan adalah pertama sekali, patriotik. Kecintaan terhadap tanah air tidak pernah surut walaupun usia mereka bertambah.

Kedua, percaya diri. Dari sorotan mata terlihat rasa percaya diri mereka, rasa bangga menjadi orang Indonesia, dan rasa optimisme yang tinggi.
Benarlah sebuah adagium yang menyebutkan, seorang guru sejati akan bangga melihat muridnya melampaui dia, seorang guru akan memastikan anak muridnya dan bahkan anak buahnya sukses melebihi dirinya, bahkan tak sungkan untuk ikut memanggul mengantar kepada pintu pengabdian tertinggi untuk kepentingan bangsa dan negara.
Saya merasa mendapat kesempatan yang luar biasa, yang belum tentu bisa didapat oleh banyak orang di negeri ini. Yakni bisa langsung berdialog dan mengikuti langsung tokoh-tokoh Angkatan 45, tokoh kunci dalam revolusi kemerdekaan di daerah ini.
Saya merasa menjadi murid dari seorang pelaku sejarah. Utamanya Almarhum-almahum Haji Abang Achmad Noor dan Haji Uray Ibrahim Saleh serta Ya' Syarif Umar dan Haji Achmad Mawardi Djafar. Beliau-beliau sering bercerita tentang pengalamannya, pendapatnya, dan lain sebagainya.
Mereka juga sangat menguasai sejarah, jamaknya generasi Angkatan 45, mengasyikkan ketika mendengar mereka menyampaikan berbagai hal. Dari sikap nan elok budi itulah saya sangat hormat kepada beliau-beliau.
Sebagaimana umumnya Angkatan 45, beliau-beliau sangat patriotik. Bahkan meski sudah berusia senja, mereka tetap konsen terhadap masalah keutuhan bangsa, kedaulatan, NKRI, dan pentingnya Pancasila sebagai dasar negara sangat besar.
Pada umumnya para tokoh Angkatan 45, sebagaimana juga Almarhum Bapakku, mereka juga orang yang humble, rendah hati, tidak pernah mau menjelekkan orang, sangat bijak dan sangat ingin merangkul dan mempersatukan.
Hidup mereka sangat bersahaja. Mereka ingin mandiri, berdiri di atas kaki sendiri.
Terutama dari Almarhum Bapakku, beliau adalah seorang teladan yang banyak mempengaruhiku. Ajaran atau nasehatnya mempengaruhi pribadi saya. Selain patriotisme yang menjadi ciri khas Angkatan 45, adalah harus selalu berpikir, berbuat, bertutur kata yang baik. Jangan izinkan berpikir buruk terhadap orang lain. Itu ajaran Bapakku yang selalu melekat dalam hatiku.
Sampai sekarang, saya anggap nilai-nilai yang beliau-beliau ajarkan sangat bermanfaat dan sangat sesuai dengan budaya Indonesia. Bapakku mengajarkan juga orang berani itu harus gembira.
Dari para tokoh Angkatan 45, terutama Almarhum Haji Abang Achmad Noor, aku mendapatkan juga, bahwa disiplin adalah napas, kesetiaan adalah jiwa, dan kehormatan adalah segalanya.
Begitulah. Saya dibesarkan oleh Angkatan 45. Angkatan 45 sangat percaya diri, sangat bangga, dan mereka sensitif. Kepercayaan diri Angkatan 45 banyak didasari dari kebesaran sejarah masa lalunya.
We have repeatedly beaten the odds ...
*] Syafaruddin DaEng Usman, Ketua Umum Dewan Harian Daerah Badan Pembudaya Kejuangan 45 [DHD 45] Kalimantan Barat, anggota Dewan Paripurna Nasional 45 Republik Indonesia (***)
Baca juga: Bonjour, Au Revoir, Ibukota Belanja Dunia
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....