Bonjour, Au Revoir, Ibukota Belanja Dunia

  • 27 Jul 2026 08:45 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Pecinta belanja pasti akan menyukai Paris, salah satu pusat mode dunia, di mana apa pun yang sedang naik daun di sana biasanya akan langsung diikuti oleh tempat-tempat lain. Bila melihat peta Paris terdiri, akan tampak 20 distrik atau arrondissements, meliuk bagai spiral. Pembagian distrik tersebut dibentuk semasa Revolusi Prancis dan ketika itu populasi Paris dapat terbagi dalam 12 distrik, dengan distrik 1 hingga 8 berada di utara Sungai Seine.

Saya dapat penjelasan, wajah Paris yang ada sekarang adalah hasil pengaturan yang dibuat Baron von Haussmann akibat pertumbuhan kota yang semakin padat, sehingga dibutuhkan lebih dari 12 distrik.

Bagi masyarakat Prancis, saya pahami menyapa adalah hal yang penting dalam tata krama. Oleh karena itu, agar tidak dikasari atau menerima servis buruk, disarankan sering-seringlah mengucapkan bonjour bila bertemu orang di restoran, bakery, toko, pasar, atau lift. Setelah berbelanja, sebelum keluar toko juga tak ada salahnya mengucapkan au revoir.

Saya mengunjungi tempat ikonik yang didirikan Theophile Bader dan Alpjonse Kahn di Boulevard Haussmann. Ini merupakan bangunan legendaris di kalangan penggemar merek Chanel, Luis Vutton, Dior, dan masih banyak lagi. Saya perhatikan, ditata dengan elegan di sebuah gedung beratapkan kubah yang megah. Galeries Lafayette bukan sekedar tempat belanja, saya kira melainkan juga merupakan simbol kekuatan Paris sebagai kota mode dunia sekaligus surga belanja.

Setelah saya memanjakan mata di high fashion di galeries Lafayette, saya datangi mistigriff. Konon, kemewahan terjangkau di sini. Bagi masyarakat Paris atau Eropa pada umumnya, membeli barang bekas bukanlah hal yang memalukan. Justru dengan cara ini mereka dapat tetap fashionable, namun dengan harga yang terjangkau.

Saya amati, barang bekas yang dibeli tentu saja yang keadaannya masih bagus karena biasanya baru beberapa kali digunakan oleh pemilik sebelumnya dan kondisinya nyaris baru. Mistigriff sejak 1989 mengakomodasi kebutuhan fashion warga Paris dengan berbagai produk desainer ternama untuk pria, wanita, dan anak-anak dengan potongan harga antara 25 hingga 85 persen.

Hanya saja, merek barang di sini memang sengaja dihilangkan agar konsumen tidak mendatangi butik resminya untuk minta perbaikan gratis. Selain busana, saya lihat Mistigriff juga menjual kosmetik, sepatu, barang-barang dari kulit, dan tas, termasuk tas traveling. Di seluruh Prancis, Mistigriff memiliki sedikitnya 34 outlet.

Rasanya, warga Paris menyukai belanja di pasar loak, sehingga banyak perancang busana baru yang memulai debut dengan memperkenalkan karya-karya mereka dengan menjualnya di pasar loak, seperti perancang Roger Ewli yang terkenal dengan motif Afrika warna-warninya. Walaupun merupakan tempat yang populer di kalangan turis, namun banyak barang dengan harga terjangkau di sini, sebutlah seperti sepatu kulit bermutu tinggi buatan Portugis seharga 45 euro.

Bisa jadi terinspirasi dengan Christian Louboutin yang memajang sepatu karyanya di toko bagai benda seni galeri, hal ini jugalah yang dilakukan Andre di gerai-gerainya untuk menarik perhatian para konsumennya. Sepatu nyaman dengan harga terjangkau di sini menggunakan popularitas para perancang busana setempat yang sedang naik daun. Kabarnya, setiap keluar model baru di setiap musim, produk-produk Andre pasti tak luput dari ulasan orang ternama di dunia fashion, seperti Katherine Pradeau dan Bali Baret.

Di Rue Meslay saya telusuri sebagai jalan yang khusus menjual sepatu ini memiliki deretan toko yang menyajikan display tak terlalu atraktif. Beberapa toko khusus melayani pembelian grosir, namun sebagian besarnya melayani ritel bagi pemburu sepatu bermerek dengan diskon besar, seperti toko Dinabrice di Rue Meslay yang menawarkan diskon sepatu Charles Jourdan dan Robert Clergerie hingga 60 persen. Selain itu, saya lihat terdapat Foot Station di seberang Dinabrice yang menjual berbagai model sepatu merek Nike, Adidas dan Converse.

Syafaruddin Daeng Usman dan Istri di Paris dengan latar Menara Eiffel dari bantaran legendaris Sungai Seine yang mengagumkan.

Produk kosmetik bermutu yang kerap digunakan untuk industri fashion dan film Prancis, gerainya berbentuk make-up bar dengan make-up artist bersertifikat yang siap memberikan berbagai tips untuk memilih dan mencoba berbagai produk yang sesuai. Kelihatannya, pengunjung pun dapat menikmati makeover, sekitar 50 euro, maupun kelas make-up kilat selama 90 menit, sekitar 100 euro, agar produk-produk yang dibeli benar-benar bermanfaat.

Saya juga mendatangi Guerrisol. Kabarnya, inilah tempat berbelanja favorit perancang perhiasan ternama, Julie Schmidt. Di Guerrisol dapat ditemukan berbagai produk fashion, mulai dari pakaian kerja hingga gaun malam. Dari trench coat hingga scarf, ada di sini. Harganya pun sangat terjangkau, namun disarankan untuk teliti sebelum membeli, karena beberapa barang masih harus dibawa ke tukang jahit sebelum dapat dikenakan.

Saya mengunjungi Kookai Stock. Terletak di kawasan pabrik garmen, Kookai adalah tempat favorit warga Paris untuk berbelanja pakaian. Dengan butik luas dan staf yang ramah, saya dapati harganya bisa lebih murah antara 30 hingga 70 persen setiap di akhir musim untuk menghabiskan stok. Kabarnya, bila sedang diskon, gaun dapat diperoleh mulai 25 euro, jaket mulai 20 euro, dan T-shirt mulai 10 euro.

Di Gaia, dari luar eksterior ukiran kayu dengan pintu yang baru terbuka setelah memencet bel membuat butik ini terkesan mewah. Namun, begitu memasuki tempat ini, akan ditemukan aneka coat dan gaun. Koleksi pakaian di sini adalah campuran produk baru dan bekas yang kerap berganti dalam hitungan hari, termasuk koleksi baju dalam wanita eksklusif ternama, Princesse Tam-Tam.

Sementara itu, terletak jauh dari jalan utama sehingga biaya sewanya rendah, perancang Maureen Vinot, menawarkan aneka gaun rajut dan tas di butiknya yang luas dan elegan bercat putih. Setiap rancangannya saya perhatikan dibuat dalam jumlah yang terbatas, sehingga siapa pun yang mengenakan rancangannya akan merasa istimewa.

Ada beberapa gapura, arch, di Pars ini. Karena tak hanya Napoleon yang menyukai bentuk simbol kemenangan ini, Raja Louis XIV yang membangun Istana Versailles pun tergila-gila akan konstruksi bangunan tersebut. Selain Arc de Triomple, terdapat I’Arc du Carrousel di pelataran utama Louvre serta arch di Porte Saint Denis, serta Porte Saint Martin di kawasan kota tua Paris. Dua arch yang terakhir dibangun untuk memperingati kemenangan perang dengan Spanyol.

Tugu Bastille adalah tugu setinggi 47 meter di tengah Place de la Bastille. Saya peroleh penjelasan, tidak dibangun untuk memperingati Revolusi Prancis, melainkan untuk mengenang peristiwa Revolusi Juli pada 1830 yang berhasil menggulingkan Raja Charles X. Saya perhatikan pada tugu ini terukir nama-nama korban yang tewas dalam pertempuran tiga hari tersebut, sementara lokasinya sendiri berada di atas bekas kuburan korban perang revolusi pada 1830 dan 1848.

Ketika saya berlayar di sepanjang Seine, di ujung Ile de Cygne dekat Menara Eiffel, terdapat Patung Liberty berukuran kini yang dirancang seniman keturunan Italia-Prancis, Auguste Bartholdi. Selain itu, ketika saya berjalan di Luxembourg Gardens, saya temukan lagi Patung Liberty di sebelah barat taman, serta tiruan Liberty dari kuningan di depan Arts and Metiers.

Di Paris saya kesankan roti dan keju setiap hari. Warga Prancis serius menyikapi roti mereka. Sampai ada aturan untuk membuat baguette, konsistensi bahan yang diperlukan, panjang dan harga. Sebuah tempat baru bisa disebut boulangerie, atau toko roti ala Prancis, kalau semua produk dipanggang di tempat.

Saya peroleh informasi, Paris memiliki lebih dari 1.200 bakery dan setiap area memilki bakery dengan jadwal libur yang berbeda-beda agar warga dapat tetap mendapatkan suplai roti segar setiap hari. Keju saya perhatikan juga makanan sehari-hari, dan justru jarang dikonsumsi sebelum makan malam. Warga Prancis menyantap keju setelah main couce sebagai pengganti hidangan penutup yang manis.

Dan saya pun menikmati roti dan keju untuk beberapa waktu singkat setiap harinya selama di Paris. Bonjour ... Au revoir.

Oleh: Syafaruddin Daeng Usman

Baca juga: Mengunjungi London, Kota Glamor di Dunia

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....