Riwayat Lengkap Sultan Hamid II: Kronologi Kehidupan, Peran Nasional, dan Pelurusan
- 13 Jul 2026 18:21 WIB
- Pontianak
Disusun dengan menggabungkan: Sumber Adat Resmi J.U. Lontaan (1975), Arsip Keraton, Penelitian Ilmiah Tervalidasi, DAN KETERANGAN LANGSUNG DARI SAKSI PELAKU SEJARAH YANG HIDUP BERSAMA BELIAU
CATATAN KHUSUS TENTANG SUMBER SEJARAH YANG SESUNGGUHNYA
Berdasarkan keterangan langsung dari lingkungan dalam Keraton Kesultanan Qadriah Pontianak:
Satu‑satunya orang yang mengetahui seluk‑beluk sejarah Sultan Hamid II secara paling lengkap dan persis adalah Pangeran Bendahara Tua Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri. Beliau adalah ajudan pribadi sekaligus juru bahasa resmi Sultan Hamid II sejak tahun 1958 hingga Sultan wafat tahun 1978.
Fakta Kemampuan Bahasa Sultan Hamid II
Sultan Hamid II menguasai dengan fasih hanya empat bahasa: Bahasa Melayu, Inggris, Belanda, dan Jerman. Untuk bahasa lain seperti Jepang, Mandarin, Arab, serta dialek‑dialek daerah lain, beliau tidak menguasainya. Oleh karena itu, dalam setiap urusan yang memerlukan bahasa tersebut, beliau selalu dibantu oleh Pangeran Bendahara Tua Syarif Ibrahim sebagai penerjemah pribadi.
Dokumen Rahasia & Kewajiban Restu Leluhur
- Seluruh dokumen, foto pribadi, rekaman, dan catatan kehidupan Sultan Hamid II tersimpan sangat rapi dan dirahasiakan di lingkungan keraton hingga kini.
- Dokumen tersebut dilarang keras dibuka dan dipublikasikan sebelum mendapatkan izin mutlak. Semua tulisan, penjelasan, atau “fakta” yang beredar saat ini belum mendapat restu dari Sultan Hamid II sendiri (sesuai pesan beliau sebelum wafat dan pandangan adat yang meyakini ilmu, arwah, dan roh leluhur tetap abadi dan mengawasi setiap goresan yang dibuat atas nama diri beliau).
- Setiap tulisan yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya dianggap sebagai fitnah, dan setiap penulis wajib mempertanggungjawabkan setiap kata yang dituliskan kepada orang yang digambarkan.
- Banyak rekaman video dan foto yang tersebar di media sosial telah dimanipulasi, dikriminialisasi, atau disalahartikan oleh pihak yang membenci Sultan atau memiliki kepentingan sendiri, sehingga menimbulkan pendapat yang simpang siur. Bahkan pengakuan resmi dari lembaga negara sekalipun belum tentu sesuai dengan kenyataan yang diketahui oleh orang kepercayaan beliau sendiri.
Peran Pangeran Syarif Ibrahim Setelah Sultan Wafat
- Setelah Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978, Pangeran Syarif Ibrahim diminta oleh Pangeran Istana Syarif Thaha bin Pangeran Istana Syarif Usman Alkadri (yang pernah menjabat sebagai Sultan Sehari tahun 1944–1945) untuk tetap mendampingi beliau hingga wafat tahun 1984, dengan tugas tambahan sebagai tabib pribadi.
- Atas permintaan Sultan Hamid II sendiri dan Pangeran Syarif Thaha, Pangeran Syarif Ibrahim wajib merahasiakan sebagian besar catatan sejarah, terutama mengenai:
- Penyebab sakit yang diderita Sultan Hamid II
- Kronologi detik‑detik wafat beliau di Jakarta
- Seluruh perjalanan jenazah dari Jakarta hingga tiba dan dimakamkan di Pontianak
- Hingga saat ini, hanya Pangeran Bendahara Tua Syarif Ibrahim yang mengetahui fakta lengkap mengenai penyebab sakit, wafat, dan pengantaran jenazah Sultan Hamid II. Beliau adalah salah satu orang yang secara langsung mengantar jenazah Sultan dari Jakarta ke Pontianak dan memastikan pemakamannya sesuai aturan adat.
- Pangeran Syarif Thaha juga berpesan agar kronologi kehidupan Sultan Hamid II yang penuh lika‑liku, mulai dari pengangkatan, pemenjaraan, hingga pemfitnahan yang dialami, belum boleh dibuka seluas‑luasnya sampai waktu yang tepat tiba.
- IDENTITAS DASAR
- Nama lengkap: Syarif Abdul Hamid Alkadrie, gelar resmi Sultan Hamid II, Sultan ke‑7 Kesultanan Qadriah Pontianak
- Lahir: 12 Juli 1913, Istana Kadriah Pontianak
- Wafat: Kamis, 30 Maret 1978 pukul 18.15 WIB, kediaman Jl. Diponegoro No. 42 Jakarta Pusat, usia 64 tahun. Fakta lengkap penyebab sakit dan wafat hanya diketahui Pangeran Syarif Ibrahim.
- Agama: Islam Sunni Mazhab Syafi’i, pengamal Tarekat Qadiriyah‑Naqsyabandiyah, tidak pernah berpindah agama
- Kemampuan bahasa: Fasih Melayu, Inggris, Belanda, Jerman → untuk bahasa lain dibantu juru bahasa pribadi
- Jabatan penting: Ketua BFO / Majelis Permusyawaratan Federal, Menteri Negara Republik Indonesia Serikat, perancang resmi Lambang Negara Garuda Pancasila, satu‑satunya orang Indonesia yang meraih pangkat Mayor Jenderal KNIL
- KRONOLOGI SEJARAH YANG TELAH DIPASTIKAN
1913 – 1938: Kelahiran & Pendidikan
- Putra sulung Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (Sultan ke‑6) dan Syecha Jamilah Syarwani, berdarah Arab‑Sayyid dan Melayu. Sejak bayi diasuh dua wanita Inggris, sehingga penguasaan bahasa Inggris dan Baratnya sangat mendalam.
- Menempuh pendidikan Eropa di berbagai kota, sempat masuk THS Bandung, lalu lulus Akademi Militer Kerajaan Breda, Belanda tahun 1938 — satu‑satunya orang pribumi yang menamatkan pendidikan perwira penuh di sana.
1938 – 1946: Perang, Tragedi & Fakta Pemakaman Ayah
- Bertugas di berbagai wilayah Hindia Belanda sebelum akhirnya tertawan Jepang tahun 1942 selama 3,5 tahun.
- 28 Juni 1944 – Peristiwa Mandor & Penguburan Darurat: Ayahnya Sultan Syarif Muhammad, tiga saudara kandung, dan ribuan tokoh Kalbar dieksekusi Jepang. Jenazah ayahnya dikubur darurat di sisi timur pagar luar Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak karena teror Jepang.
- Pertengahan 1946 – Penggalian yang Menggemparkan: Saat lokasi digali, jenazah Sultan Syarif Muhammad ditemukan masih utuh sempurna, tidak busuk, pakaian dan tasbih masih rapi, membuat geger seluruh Pontianak. Setelah itu jenazah dipindahkan secara resmi ke Kompleks Makam Kesultanan Qadriah Batu Layang.
- Penting diluruskan: Sultan Hamid II SAMA SEKALI TIDAK PERNAH dikubur, disemayamkan, atau berhubungan dengan lokasi gereja tersebut. Lokasi itu hanya untuk penguburan sementara ayahnya saja, dan sudah dipindahkan 32 tahun sebelum Sultan Hamid II wafat.
1945 – 1950: Naik Takhta, Perjuangan Negara & Garuda Pancasila
- 29 Oktober 1945: Dinobatkan menjadi Sultan Pontianak ke‑7.
- Membentuk Daerah Istimewa Kalimantan Barat, menjadi Ketua BFO, dan tokoh kunci Konferensi Meja Bundar 1949 yang membawa pengakuan kedaulatan Indonesia.
- Memimpin perancangan lambang negara, menghasilkan Garuda Pancasila yang disahkan Keppres No. 4 Tahun 1950.
1950 – 1966: Tuduhan Tidak Berdasar & Pemenjaraan
- Terjerat tuduhan keterlibatan dengan APRA Westerling, namun Putusan Mahkamah Agung No. Krim. 1/1953 secara tegas menyatakan tuduhan makar TIDAK TERBUKTI, vonis lebih bersifat keputusan politik.
- Dipenjara 8 tahun, lalu ditahan lagi tanpa proses hukum selama 4 tahun 4 bulan sejak 1962, baru dibebaskan dan dinyatakan bersih tahun 1966.
1958 – 1978: Masa Pendampingan Pangeran Syarif Ibrahim & Wafat
- Sejak 1958, Pangeran Bendahara Tua Syarif Ibrahim menjadi ajudan pribadi dan juru bahasa Sultan Hamid II hingga hari terakhir. Seluruh urusan penting, percakapan dengan pihak asing, hingga urusan pribadi selalu didampingi beliau.
- Setelah bebas, Sultan mundur dari politik dan tinggal di Jakarta.
- 30 Maret 1978: Wafat di Jakarta. Perjalanan jenazah dari rumah sakit/rumah kediaman, pengantaran ke bandara, hingga tiba di Pontianak dan dimakamkan di Batu Layang disaksikan dan diurus langsung oleh Pangeran Syarif Ibrahim bersama keluarga terdekat. Tidak ada penyimpangan sedikitpun dari aturan adat Kesultanan Qadriah.
KESIMPULAN PENTING
1. Sejarah Sultan Hamid II yang utuh dan mutlak kebenarannya masih tersimpan rapi dan belum boleh dibuka karena belum mendapat restu sesuai pesan beliau sendiri.
2. Sumber paling valid adalah keterangan dari orang yang hidup berdampingan dengan beliau, bukan sekadar tulisan peneliti luar atau pendapat yang dibuat‑buat di media sosial.
3. Setiap tulisan yang menyimpang dari kenyataan yang diketahui lingkungan dalam keraton dianggap tidak sah dan berpotensi fitnah, dan harus dipertanggungjawabkan.
4. Saat waktu yang tepat tiba dan izin diberikan, akan dibuat blok khusus sejarah yang benar‑benar tervalidasi, lengkap dengan terjemahan dokumen dan foto asli yang selama ini dirahasiakan.

Penulis: Turiman Fachturrahman Nur
Baca juga: Menelusuri Fakta Sejarah Sultan Hamid II Secara Historis
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....