Candaan di Tempat Kerja Tidak Selalu Lucu, Kenali Batasnya agar Tetap Profesional

  • 29 Jun 2026 19:16 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kalimat "Ah, cuma bercanda" kerap terdengar di lingkungan kerja. Candaan memang dapat mencairkan suasana, tetapi tidak semua humor membawa dampak positif.

Ketika candaan dilakukan dengan merendahkan seseorang, mengolok penampilan, profesi, gender, atau mempermalukan orang lain di depan rekan kerja, batas antara humor dan perundungan menjadi semakin tipis.

Psikolog organisasi menjelaskan bahwa lingkungan kerja yang sehat tidak hanya dibangun dari kemampuan teknis pegawai, tetapi juga dari rasa aman untuk berbicara dan saling menghargai.

Konsep psychological safety yang diperkenalkan oleh Amy Edmondson menjelaskan bahwa anggota tim akan lebih berani menyampaikan pendapat, mengakui kesalahan, hingga memberikan masukan apabila mereka merasa tidak akan dipermalukan atau diolok oleh rekan kerjanya.

Dalam praktiknya, budaya saling mengejek sering kali dianggap sebagai bentuk keakraban. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa candaan yang merendahkan dapat menimbulkan tekanan psikologis, menurunkan rasa percaya diri, hingga membuat seseorang memilih diam meskipun melihat sesuatu yang perlu diperbaiki. Akibatnya, komunikasi yang sehat di dalam tim menjadi terganggu.

Keberanian menghentikan candaan yang tidak pantas juga bukan berarti menghilangkan humor di tempat kerja. Sebaliknya, hal itu merupakan upaya menjaga agar setiap orang tetap merasa dihargai. Humor yang baik adalah humor yang mengundang tawa bersama, bukan tawa yang dibangun dengan mengorbankan harga diri orang lain.

Budaya kerja yang profesional juga dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memilih kata sebelum berbicara atau mengirim pesan di grup kerja. Menghormati rekan kerja, narasumber, maupun pihak lain yang terlibat dalam pekerjaan merupakan bagian dari etika yang mencerminkan integritas sebuah organisasi.

Tidak semua orang berani mengatakan, "Menurut saya, candaan itu kurang tepat." Namun, keberanian tersebut justru dapat menjadi langkah kecil untuk membangun lingkungan kerja yang lebih aman, saling menghargai, dan profesional. Sebab, tujuan menghentikan candaan yang merendahkan bukan untuk merusak suasana, melainkan memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang harus merasa dipermalukan demi membuat orang lain tertawa.

"Empati bukan berarti kita kehilangan selera humor. Justru empati membantu kita memahami bahwa tawa yang paling baik adalah tawa yang tidak meninggalkan luka bagi orang lain."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....