Menapak Jejak Diaspora dan Supremasi Bugis di Kalimantan Barat

  • 25 Agt 2026 15:36 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Pada akhir abad XV, Luwuk masih merupakan kekuatan paling dominan hampir di seluruh wilayah Bugis. Termasuk pesisir Danau Besar TapparEng Karaja, pinggir Sungai WalEnnaE, dataran di sebelah timur dan sepanjang pantai Teluk BonE, Semenanjung Bira, Pulau Selayar dan wilayah di sebelah timur Teluk BantaEng.

Namun, pada saat itu tantangan terhadap kekuasaan Luwuk mulai muncul. Pada awal abad XV, Luwuk masih menguasai Sungai CEnrana, yang dapat dilewati perahu cukup besar untuk mencapai Danau Besar [TapparEng Karaja]. Perkampungan di muara Sungai CEnrana merupakan tempat tinggal kesukuan Datu Luwuk.

Sementara ke arah hulu terdapat sejumlah kerajaan kecil [wanua] pinggir sungai yang tetap mengakui kedaulatannya. Misalnya, Mampu yaitu wilayah yang dulu bernama Cina ri Lau atau Cina Timur, dan Pammana dahulu Cina ri Aja atau Cina Barat di sebelah selatan sungai. Serta Bola dan BabauwE di sebelah utara sungai.

Luwuk berusaha meluaskan wilayahnya lebih jauh ke arah barat, ke jalur trans semenanjung lama yang menghubungkan Sungai CEnrana, melalui Danau Besar, dengan Selat Makassar di Suppa. Hal itu dimaksudkan untuk memperoleh kendali atas daerah barat yang merupakan jalan keluar produk alam dan mineral dari pegunungan Toraja.

Sekaligus merupakan jalan keluar hasil pertanian dari daerah pinggir Sungai WalEnnaE. Akan tetapi, SidenrEng, yang terletak di bagian barat danau, yang mulanya menjadi kerajaan bawahan SoppEng, terus berkembang pesat dan tampaknya tidak ingin jatuh ke bawah kekuasaan Luwuk.

Bersama dengan Sawitto, Alitta, Suppa dan Bacukiki, yang semuanya terletak di pantai barat, serta Rappang yang menguasai daerah hilir Sungai Saddang, SidEnrEng kemudian membentuk persekutuan wilayah barat Danau Aja TapparEng, sebuah persekutuan yang terus menerus dipererat lewat ikatan perkawinan antarkeluarga raja-raja mereka.

Berbagai kerajaan Bugis kecil lainnya pun tidak lagi sepenuhnya setia kepada Luwuk. Di hulu CEnrana sebelah utara Sungai Wajo mulai menunjukkan hasyratnya untuk memisahkan diri dari Luwuk dan mulai memperluas wilayah kekuasaannya terhadap berbagai wilayah pemukiman di sekitarnya.

Raja Wajo pun memakai gelar Arung Matoa, yang berarti Raja Tertua. Sekitar 1490 Masehi, Arung Matoa Wajo La Obbi SettiriwarE membuat suatu perjanjian dengan Luwuk, di mana untuk selanjutnya Wajo akan dianggap sebagai Anak Luwuk [Ana Luwuk] bukan lagi Hamba Luwuk [Ata Luwu].

Arung Matoa sesudahnya La TEnri Umpu tetap melanjutkan ekspansi Wajo dan mengadakan perjanjian persekutuan dengan Bola, di mana kedua belah pihak dianggap bersaudara [silEssurEng]. Sekitar 1498 M, orang-orang Wajo memilih La TaddamparE Puang ri Magalatung menjadi Aruang Matoa baru. Kelak akan menjadi salah satu raja Bugis yang paling dihormati, dan salah seorang yang berhasil mengubah Wajo menjadi salah satu kerajaan besar Bugis.

Di sebelah selatan Wajo, Kerajaan BonE di bawah pimpinan Raja BonE Arung MponE KerrampElua yang cukup lama berkuasa [1433—1483 M] tidak kalah sibuknya. BonE menduduki dataran pertanian penting di bagian tengah semenanjung. Kemudian semakin memperluas kekuasaannya ke daerah-daerah di sekelilingnya. Sehingga semakin memperkuat kekuatan ekonomi, tenaga kerja dan kekuatan militernya.

Pemukiman kecil yang berada di sekeliling wilayahnya dijadikan daerah bawahan. Daerah yang dikuasainya pun semakin lama kian bertambah banyak. Selama dua abad kemudian, wilayah itu tetap menjadi wilayah kerajaannya. Daerah kekuasaan BonE itu dibatasi oleh lembah Sungai WalEnnaE di barat, Sungai Tangka di selatan, Teluk BonE di timur dan Pammana serta Sungai CEnrana di utara.

Ketika ArumponE La Tenrisukki [1483—1505 M] berhasil menaklukkan Mampu, bekas bawahan CEnrana dan tetangganya yang terdekat di sebelah selatan Sungai CEnrana, perluasan wilayah tersebut mulai mencaplok wilayah yang berada langsung di bawah kekuasaan Luwuk. Sehingga konfrontasi dengan Luwuk tidak terhindarkan lagi.

Periode antara 1500 dan 1530 M yang penuh konflik berkepanjangan tampaknya telah mengantar Luwuk mundur dari supremasinya. Pada saat itu, Luwuk berada di bawah pimpinan DEwa Raja To SengErrEng bergelar Datu Kelali atau Datu Berjambul [1505—1530 M] pahlawan perang besar terakhir yang pernah dimiliki Luwuk. Ketika pendahulu DEwaraja, La Busa Tana, meninggal, Wajo menolak ikut berduka cita. Malah menyerang dan memaksa pengikut Luwuk bertekuk lutut di pinggir Danau Besar.

Demikianlah, di pinggir tenggara dan selatan Danau Besar, TempE, Singkang, TampangEng dan WagE dijadikan hamba [ata] Wajo. Di sebelah selatan Sungai CEnrana, Pammana dulu Cina Barat, dijadikan saudara [silEssurEng].

Beberapa tahun kemudian, kerajaan kecil tetangga WagE di sebelah selatan, yaitu Jampu, SompE, Liu dan Ugi, juga ditaklukkan. Hal itu menyebabkan Wajo menguasai wilayah yang sangat strategis yang mengendalikan jalan keluar Sungai WalEnnaE ke Danau Besar, serta jalan keluar dari Danau Besar ke Sungai CEnrana.

Kerajaan-kerajaan Bugis yang disebutkan dalam teks La Galigo, saat itu telah menjadi pengikut kerajaan lebih kuat, yang kadang-kadang lebih muda. Tidak termasuk kerajaan terbesar yang dipimpin oleh seorang Datu, Pammana yang sudah bergabung dengan Wajo, Lamuru di bawah BonE, TEmpE di bawah Wajo dan Suppa di bawah SoppEng.

Kerajaan SoppEng sendiri, yang terperangkap di antara SidEnrEng, Wajo, BonE dan pegunungan di bagian barat dan selatan, sulit membebaskan diri dari kekuasaan Luwuk tanpa jatuh ke dalam cengkeraman kekuatan-kekuatan baru tersebut. Karena satu-satunya jalan keluar untuk hasil-hasil pertanian mereka adalah lewat Suppa di barat laut dan CEnrana di timur laut.

Dalam sebuah pertemuan yang diadakan kira-kira pada 1508 M dengan Puang ri Magalatung, DEwaraja mengakui kekuasaan Wajo atas bekas kerajaan bawahannya di sepanjang sungai. Dia juga menyerahkan wilayah Larompong di sebelah utara Wajo serta memaklumkan Wajo sebagai adik [Anri] Luwuk.

Sebagai gantinya, Luwuk meminta bantuan Wajo untuk memerangi SidEnrEng. Karena dikalahkan oleh sekutu tersebut, SidEnrEng harus menerima status bawahan sebagai Anak Kerajaan Luwuk dan menyerahkan daerah Otting dan BElawa. Masing-masing di sebelah utara dan timur laut danau, kepada Wajo.

Setahun kemudian, pada 1509 M, Luwuk nekat menyerang BonE untuk mengganjal kekuatan. Akan tetapi, kekuatan BonE saat itu terlalu kuat untuk ditandingi. Sehingga bala tentara Luwuk kalah. Meskipun hampir meloloskan diri, DEwaraja tertangkap dan mungkin telah dibunuh seandainya Raja BonE La TEnrisukki tidak melarang pasukannya menyentuh raja tersebut.

Payung keramat Luwuk yang berwarna merah dan merupakan lambang kekuasaan tertinggi, diambil oleh raja BonE. Dan tetap memegangnya hingga perjanjian perdamaian diputuskan. Secara simbolis, hal itu menandai akhir supremasi Luwuk atas kerajaan-kerajaan Bugis lainnya.

Meskipun sudah hampir tidak memiliki lagi kekuasaan duniawi, Kerajaan Luwuk tetap dimuliakan dan sampai abad XX M, Datu Luwuk tetap dianggap oleh raja lainnya sebagai yang paling terhormat dan paling tinggi derajatnya. Menyusul mangkatnya Datu Luwuk RajadEwa, sekitar 1530 M, terjadi pula perselisihan di antara keturunannya.

Dua orang, Sanggaria to Appaiyo dan Opu DaEng LEbba, saling bersaing untuk menjadi pengganti RajadEwa. Pada mulanya, mereka saling berbagi kekuasaan. Setahun kemudian, DaEng LEbba dimakzulkan dan melarikan diri ke Goa. Pada 1533 M, DaEng MatanrE mengirim bala tentara Makassar di bawah pimpinan putranya, Manrio Gau, membantu Raja BonE La TEnrisukki menyerang, dan berhasil menguasai CEnrana yang saat itu dikuasai Sanggaria.

Di tengah perjalanan, bala tentara Makassar mengobrak-abrik SoppEng. Sekitar 1535 M, Sanggaria akhirnya digulingkan dan mencari tempat perlindungan di Wajo. Di BonE, La Ulio BottE-E, pengganti La TEnrisukki, memanfaatkan kesempatan itu.

Sekali lagi dengan bantuan Goa, untuk melancarkan serangan menentukan ke Luwuk dengan menyerbu tepat di jantungnya, WarE. Dan mengalihkan persekutuan dari Luwuk ke Goa. Luwuk terpaksa menandatangani perjanjian dengan Goa dan mengaku kalah. Sebagai bukti, Luwuk kemudian bergabung dengan BonE, SoppEng dan Goa untuk menyerang Wajo sebagai hukuman atas sikap netralnya selama berlangsungnya perang melawan Luwuk. Sebagai kerajaan bawahan, Wajo seharusnya membantu Luwuk atau menyatakan secara tegas peralihan persekutuannya kepada pihak lain.

Akibatnya, dalam perjanjian TopacEddo [1539 M], Wajo harus berubah haluan dan mengganti persekutuannya dari Luwuk ke Goa. Dengan demikian, ia memperoleh batu loncatan untuk memasuki tanah Bugis. Sanggaria kemudian didudukkan kembali di atas singgasananya.

Namun, meskipun sebagai Pajung-E ri Luwuk dia secara simbolis tetap merupakan raja yang paling tinggi kedudukannya. Dia tidak lagi mempunyai kekuatan untuk memulihkan kekuasaan Luwuk sebagaimana jauh sebelumnya. Pengislaman penguasa Luwuk terutama merupakan wujud kepiawaian Datok ri Paktimang yang mampu menghubungkan dogma teologis [ajaran Tauhid atau Keesaan Allah Swt] dengan kepercayaan Bugis tentang SawErigading.

Artinya dengan sengaja dipilih sinkretisme sebagai satu-satunya pilihan yang memungkinkan agama Islam diterima oleh penguasa Bugis [dan Makassar]. Hal itu agar dalam jangka panjang, kepercayaan dan praktik-praktik yang tidak sesuai dengan ajaran Islam bisa dihapus oleh para ulama penerus.

Antara akhir abad XVII M [dan hingga awal abad XIX M], masyarakat Sulawesi Selatan mengalami serangkaian perubahan politik. Termasuk jatuhnya Makassar ke tangan Belanda, perpecahan politik, pergolakan internal, dan meningkatnya pengaruh tidak langsung budaya bendawi Barat.

Pada paruh pertama abad XVII M, perkawinan campuran antara bangsawan Makassar dan Bugis menyebabkan semakin banyak orang Bugis menetap di Goa.

Pada 1637 hingga 1653 M, dicapai gencatan senjata yang rapuh antara Belanda dan Makassar. Sementara di darat, Makassar berperang melawan BonE. Pada 1655 M, Belanda melakukan sejumlah serangan kecil ke Makassar, namun tidak banyak memberi hasil. Perjanjian perdamaian tidak bertahan lama.

Perseteruan mulai lagi pada 1660 M, saat serangan Belanda ke Makassar berhasil dan mereka pun menghancurkan perahu-perahu Portugis yang sedang berlabuh. Konstelasi kekuatan pun berubah, dengan kerugian di pihak Makassar, karena Bugis BonE di bawah pimpinan Arung Palakka mulai terlibat dalam peperangan.

Peperangan yang berlangsung selanjutnya tidak terlalu berarti. Hingga 1666 M ketika pasukan gabungan Belanda-BonE di bawah pimpinan Admiral Speelman dengan bantuan tentara TernatE, Ambon dan Buton, mengepung Makassar. Belanda dari laut dan BonE dari darat.

Setelah melalui perang yang dahsyat dan berlarut-larut, di mana sekutu sejati Makassar hanya komunitas Wajo dan Melayu, Sultan Hasanuddin akhirnya menandatangani Perjanjian Bongaya 18 November 1667 M. Perjanjian ini mewajibkan Makassar membongkar sebagian besar benteng, menyerahkan seluruh perdagangan rempah, menghentikan semua impor dari sumber-sumber lain selain VOC Belanda, mengusir orang-orang Portugis, dan melepaskan negara bawahan, baik di pulau lain maupun di tanah Bugis. Pada 1669 M, Hasanuddin turun tahta.

Dampak dari jatuhnya Makassar adalah perubahan pola pelayaran dan perantauan orang-orang Bugis dan Makassar. Sejumlah bangsawan Makassar berangkat ke Jawa untuk bergabung melawan Belanda yang dibantu orang BonE.

Orang Makassar lainnya merantau ke Sumatra hingga Thailand. Demikian pula Bugis merantau ke Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Termasuk Opu DaEng Menambun bersama keempat orang saudaranya. Di Kota Makassar, peran komunitas Bugis, tidak hanya Wajo tetapi juga BonE yang pemimpinnya waktu itu bermukim di Kampung Bontoala, kian menonjol.

Maka, Makassar menjadi titik pemberangkatan utama bukan hanya bagi armadanya sendiri tapi juga untuk armada Bugis dan perantau Bugis yang berangkat mencari kekayaan dan kejayaan ke wilayah Barat Nusantara, karena akses ke wilayah timur ditutup oleh Belanda.

Di Kepulauan Riau Negeri Segantang Lada, banyak dari mereka menetap di titik strategis pada persimpangan jalur perdagangan se-Nusantara dengan jalur perdagangan antar-benua yang menghubungkan Cina ke Timur Tengah melalui India. Mereka memperluas kegiatan ke berbagai arah, termasuk ke Tanah Melayu, hal ini sebagaimana ditempuh Opu DaEng Menambon lima bersaudara.

Di sana mereka mendirikan perkampungan strategis di muara-muara sungai, bersaing dengan Belanda memperebutkan kendali atas ekspor timah yang diperoleh di hulu. Mereka juga melibatkan diri dalam perseteruan di kalangan penguasa Melayu, dan melalui peperangan dan perkawinan mereka berhasil menjadi salah satu kekuatan politik utama, khususnya di Kesultanan Riau, Johor dan Tanah Melayu pada umumnya.

Dan ini pula yang ditempuh Opu DaEng Menambon bersama saudaranya yang mengantarkan mereka pada posisi yang menentukan.

(Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat kajian sejarah dan budaya kontemporer)

Baca juga: Sureq I La Galigo Maqnum Opus Sastra Bugis yang Mendunia

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....