Jaga Mulutmu, Kata-Kata Bisa Menjadi Pedang yang Melukai Orang Lain

  • 11 Mei 2026 09:33 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak -Sore itu langit di tepian Sungai Kapuas berwarna jingga keemasan. Angin sungai bertiup pelan membawa aroma kopi hitam dari sebuah warkop kayu yang berdiri tak jauh dari dermaga kecil. Bunyi sendok beradu dengan gelas kopi bercampur suara mesin kelotok yang lalu-lalang di sungai.

Di sudut warkop, dua orang sahabat lama, Udin dan Senol, duduk berhadapan. Di meja mereka hanya ada kopi susu, pisang goreng, dan sebungkus kacang yang dari tadi belum juga dibuka karena terlalu sibuk mengobrol.

Udin terkenal ceplas-ceplos. Mulutnya kadang lebih cepat daripada pikirannya. Sementara Senol lebih santai, tetapi kalau sudah tersinggung, mukanya bisa kusut seperti baju tidak disetrika.

“Senol, kau ni makin hari makin gemuk saja. Duduk pun kursi sampai bunyi minta tolong,” kata Udin sambil tertawa terbahak-bahak.

Senol melirik tajam.

“Mulutmu itu, Din. Dari dulu tak ada remnya.”

“Eh, aku cuma bercanda. Kawan sendiri kok baper.”

Senol menyeruput kopi pelan.

“Bercanda itu ada batasnya. Kemarin kau bilang rambutku macam sarang burung kena badai. Sekarang badan pula yang kau ejek.”

Udin tertawa lagi.

“Memang kenyataan begitu.”

“Kalau aku bilang mukamu macam sandal hanyut di Sungai Kapuas, mau kau?”

Udin langsung terdiam dua detik.

“Eh… jangan kasar begitu juga.”

Senol terkekeh.

“Nah, rasa juga kau.”

Di meja sebelah, beberapa pengunjung mulai mencuri dengar sambil menahan senyum.

Udin mencoba mengalihkan suasana.

“Sudahlah, jangan serius benar. Minum kopi dulu.”

Senol mengangguk.

“Makanya jaga mulut. Kadang kata-kata itu lebih tajam dari parang.”

“Parang siapa?”

“Parang Wak Jali. Tajam kali. Sekali ayun semak langsung pensiun.”

Mereka tertawa bersama.

Tak lama kemudian, pelayan warkop datang membawa sepiring pisang goreng tambahan.

“Ini siapa yang pesan?” tanya pelayan.

Udin langsung menunjuk Senol.

“Dia. Dari tadi lapar, malu mengaku.”

Senol membelalak.

“Aku tak pesan!”

Pelayan bingung.

“Jadi siapa?”

Udin nyengir.

“Aku cuma bercanda.”

Pelayan menghela napas panjang.

“Bang, lain kali jangan bercanda begitu. Aku sampai dimarahi kasir tadi.”

Senol langsung menepuk meja sambil tertawa keras.

“Nah! Kena lagi mulutmu itu.”

Udin garuk kepala.

“Iya juga ya…”

Senol lalu mencondongkan badan.

“Din, bercanda itu boleh. Tapi jangan sampai bikin orang malu, sakit hati, atau susah.”

Udin mengangguk pelan.

“Kadang aku tak sadar.”

“Itulah. Luka kena pisau mungkin sembuh. Tapi luka karena ucapan kadang lama hilangnya.”

Udin tersenyum kecil.

“Berat juga nasihatmu sore ini. Macam ustaz habis minum tiga gelas kopi.”

“Kalau aku ustaz, kau cocok jadi alarm azan rusak. Bunyi terus tak kenal waktu.”

Mereka kembali tertawa hingga pengunjung lain ikut tersenyum mendengarnya.

Matahari mulai tenggelam di balik aliran Sungai Kapuas. Lampu-lampu warkop perlahan menyala, memantulkan cahaya di permukaan air yang tenang. Udin menatap sungai sambil mengaduk sisa kopinya.

Sore itu ia sadar, lidah memang tidak bertulang, tetapi kata-kata yang keluar darinya bisa menusuk hati lebih dalam daripada pedang. Sejak saat itu, Udin mulai belajar satu hal sederhana: sebelum berbicara, pikirkan dulu apakah ucapan itu akan membuat orang tertawa bersama atau justru terluka diam-diam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....