Pantun Seruling Hati Orang Melayu

  • 18 Okt 2025 09:07 WIB
  •  Pontianak

Ada ungkapan yang terus mengalir hingga kini, "Bukan Melayu kalau tak pandai berpantun". Ungkapan demikian tentu bukan semata perkataan yang lepas. Namun berpilin berkelindan pada suatu makna yang sarat dan dalam artinya.

Maka itu, sejauh dan seberapa pentingnya pantun dikenal dan dikekalkan? Dan juga tentunya secara khusus pada orang Melayu sendiri, sesampai mana dia mampu meresapkan pantun dalam lubuk sanubarinya.

Pada yang demikian ini, arti dan makna pantun tidaklah sederhana. Tak ringan tidak pula sederhana. Karena itulah, pantun merupakan suatu kelaziman yang khas pada diri seorang orang Melayu.

Orang Melayu dalam lahir dan batinnya senantiasa digambarkan sebagai kehalusan budi dan kelembutan pekerti. Halus dan lembut inilah nyatanya kekuatan orang Melayu, sebuah kemampuan melebihi tajamnya irisan belati.

Benarkah? Benar. Lahir dan batin orang Melayu adalah kelemahlembutan. Lemah bukan dikonotasikan tiada berdaya, lembut tak ditafsirkan sebagai terinjak terjajah. Tapi, lemah lembut dalam buaian kata dan makna. Serupa dikatakan, tajam belati meluka kulit, tajam kata menusuk hingga liang kalbu terdalam sekali.

Lalu apa lemah lembut Melayu yang konon begitu tajam dan menyayat melebihi sembilu dan belati itu? Inilah pantun. Pantun yang dimaksud adalah seruling hati orang Melayu.

Sebagai seruling serunai syahdu, pantun adalah kata hati ungkapan nurani yang menggetarkan jiwa insani. Karena pula, pantun mampu menembus batas ruang dan masa, menghampiri penjuru dan sudut, sampai pun mencapai menjamah relung tertinggi sekali.

Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu. Begitu ditamsilkan orang. Namun dalam laut dan dalam hati mampu diukur pantun. Pantun sanggup menyelaminya dan kuasa mengukur dan merenanginya.

Pantun dengan begitu adalah seruling hati orang Melayu, maka tepat menjadikan serunai syahdu ini lebih merdu mendayu: mengemas pantun sebagai sebuah pusaka luhur budaya Nusantara.

Bagi banyak orang, dulunya pantun hanya dikuasai para sesepuh. Namun sejalan putaran masa, generasi termuda pun sudah tandas pada pantun. Pantun merupakan budaya Melayu budaya dunia.

Adalah bergelimang kata berjuntai makna memilin mengelindannya dalam suatu kemasan, kemasan pantun yang pantas buat dilestarikan. Seruling hati orang Melayu ini senantiasa dia tiupkan sebagai hentak siulan serunai syahdu yang mendayu.

Tersebab pada itu pulalah, tiada sangkalan untuk menyebut berulang kali, amal pahala sungguh tak terperikan: mengkitabkan pantun dengan muasal dan tamsil rumusannya sebagai pengenalan untuk dikhatamkan terlebih oleh anak dan orang Melayu.

Sudahpun ada Hari Pantun, maka selaksa itulah syukur nikmat dengan riang gembira dan sukacita merayakannya. Upaya membuat pantun semakin syahdu, menjadikannya kian mendayu, pantas buat didoakan dan didaraskan, semoga pantun kian mengekal dan semakin mendayu.

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman (Peminat kajian budaya Nusantara. Sejarawan cum budayawan di Pontianak)

Baca juga: Jelang Dua Setengah Abad Pontianak

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....