Jelang Dua Setengah Abad Pontianak
- 20 Sep 2025 11:11 WIB
- Pontianak
Catatan Syafaruddin DaEng Usman
Pontianak adalah sebuah kota yang cukup unik. Kota ini terbagi menjadi tiga bagian, mengikuti terbelahnya Sungai Kapuas menjadi dua anak sungai, Sungai Landak dan Sungai Kapuas Kecil. Pemukim pertama kota menempati bagian percabangan atau bagian sisi timur, yang lebih dikenal dengan daerah Tanjung.
Pada bagian Tanjung inilah terletak pusat Kesultanan Pontianak, kerabat penguasa yang membuka kota ini. Bagian kedua kota ini berada di sisi utara yang menyatu dengan Pulau Kalimantan dan dikenal sebagai Siantan.
Bagian terakhir, yang merupakan bagian sisi Selatan dan Barat kota, di mana pusat kota sekarang berada, dahulu lebih dikenal dengan nama Tanah Seribu atau Tanah Satu Pal atau Verkendepaal.
Penamaan ini disebabkan adanya perjanjian antara Sultan Pontianak dan kolonialis Belanda pada 1779, yang bersepakat menjadikan wilayah ini sebagai pusat aktivitas kolonialis. Perjanjian ini menyatakan luasan wilayah yang dapat digunakan tersebut adalah seribu depa atau satu pal. Istilah depa dan pal sudah tak populer lagi digunakan saat sekarang ini.
Tanah Seribu yang dimaksud diukur dar sisi Sungai Kapuas, karena pada masa itu baru transportasi sungai yang digunakan, atau wilayah yang dibatasi Parit Besar hingga ke Parit (Sungai) Jawi pada masa kemudian dikenal juga sebagai Geretak Satu. Kawasan ini tak memiliki batas ke sisi dalamnya, karena pada masa itu dapat saja masih berupa hutan belantara.
Di kawasan Verkendepaal ini kemudian dibangun beragam infrastruktur pelaksanaan administratur kolonial dan pendukungnya. Pergudangan dan pertokoan kemudian bertumbuh di dalamnya, selain perumahan-perumahan bagi pegawai kolonial. Termasuk membangun sebuah reservoir luas yang digunakan untuk menghalau air asin yang akan masuk ke jaringan parit di dalam kota.
Reservoir besar yang pernah ada, kini tak lagi tampak bersisa. Kini, telah hilang ditimbun tanah dan menjadi Kawasan Pertokoan Nusa Indah. Reservoir ini multi fungsi, karena di atas dan sekitarnya juga dibangun tangsi militer, yang setelah 1950-an dinamai Asrama Soedirman.
Tak heran, jika kini ada orang-orang tua yang masih menyebut Pasar Nusa Indah dengan sebutan Pasar Sudirman.
Tanah Seribu pun telah semakin melebar dan membesar. Pembangunan tak hanya berlangsung di kawasan aluvial. Kini, kawasan-kawasan bertanah gambut pun juga digunakan.
Sebagian besar wilayah Pontianak atau Tanah Seribu dulu merupakan kawasan rawa masih bertanah aluvial. Kondisi rawa sangatlah dipengaruhi pasang surut air laut, karenanya tak dikenal istilah banjir, meskipun genangan yang terjadi sudah lumayan tinggi.
Masyarakat lebih menyebutnya acap. Air pasang di musim kemarau terkadang mengakibatkan dorongan yang lebih jauh masuknya air asin ke wilayah rawa. Air di Sungai Kapuas dan parit-parit pun berubah rasa menjadi payau.
Masa lalu, rumah-rumah dibangun wajib beradaptasi dengan kondisi pasang ini. Rumah dibangun berkolong tinggi, setinggi perkiraan air pasang yang mungkin terjadi. Jalan-jalan penghubung pun menggunakan gertak, sehingga mobilitas tak terganggu saat pasang.
Kehidupan masyarakat di Tanah Seribu tidak lepas dari aktivitas masyarakat sekitar di bagian lain wilayah Pontianak.
Pelayaran dan perdagangan merupakan aktivitas utama yang memberi pengaruh pada perkembangan Pontianak secara keseluruhan. Pengaruh nyata pada fisik kota adalah munculnya kampung-kampung para pendatang yang berorientasi pada nama daerah asal.
Hingga abad XIX, permukiman sekitar wilayah ibukota semakin bertambah. Pembangunan jalan darat terbatas di wilayah Tanah Seribu. Sungai tetap menjadi jalan utama, main road, disebabkan aliran sunga bercabang-cabang menyebar. Wilayah daratan belum banyak dibuka. Oleh karena itu, sungai menjadi satu-satunya akses yang bisa digunakan.
Transportasi sungai dikembangkan oleh pemerintah kolonialis Belanda, baik untuk wilayah di dalam ibukota maupun antara ibukota dengan daerah-daerah pedalaman. Transportasi di wilayah ibukota khususnya di wilayah perkembangan inti kota Pontianak bagian selatan dilakukan dengan membangun kanal-kanal.
Pembangunan kanal atau parit selain sebagai sarana transportasi juga berfungsi dalam kegiatan ekonomi yang menghubungkan permukiman penduduk dengan daerah pertanian dan daerah pemasaran.
Fungsi parit sebagai penghubung antar kampung dan sarana transaksi perdagangan, di mana pedagang keliling menjajakan dagangannya, melalui parit menggunakan sampan menjadi jalan utama. Parit-parit diberi barau (berm) sebagai dinding sisi kanan-kirinya menjaga terjadinya longsor. Pembuatan dan perluasan parit yang mengelilingi kota dimanfaatkan penduduk dengan mendirikan permukiman sepanjang parit.
Baca juga: Kota Pontianak Masa Kolonial Hindia Belanda
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....