Makna Filosofis Tenun Corak Insang Pontianak
- 17 Sep 2025 17:36 WIB
- Pontianak
Dalam kehidupan sehari-hari, budaya suatu masyarakat akan melatarbelakangi dalam aktivitas anggota masyarakatnya. Di samping itu, untuk menunjukkan jati diri dari suatu masyarakat, memiliki kecenderungan menonjolkan salah satu dari hasil budayanya yang sifatnya spesifik yang dapat digunakan untuk membedakan dengan budaya kelompok masyarakat lainnya.
Demikian pula halnya dengan kelompok masyarakat Melayu di Nusantara yang memiliki ciri umum dalam bidang tenun, utamanya tenun songket. Untuk membedakan kelompok masyarakat Melayu Pontianak dengan kelompok masyarakat Melayu lainnya di bidang tenunan ini, masyarakat Melayu Pontianak secara khusus memiliki kerajinan tenun yang turun temurun dinamakan dengan Tenun Corak Insang atau hasil tenunannya dikenal dengan Kain Tenun Corak Insang.
Jenis tenunan ini pada umumnya tidak menggunakan bahan baku benang emas. Ini antara lain yang membedakannya dengan tenunan Melayu Kalimantan Barat lainnya, seperti hasil tenunan Melayu Sambas, Mempawah, Sanggau, Sintang dan Ketapang ataupun daerah lainnya.
Disinggung di bagian terdahulu, mulanya kain corak insang hanya dipergunakan sebagai pakaian kalangan bangsawan, khususnya di lingkungan kerabat Istana Kadriyah Pontianak, atau di lingkungan tembok Istana Kerajaan Pontianak.
| Baca juga: Makna Petasan di Tahun Baru Imlek |
Namun dalam perkembangan berikutnya, hasil tenun berupa kain corak insang menjadi pakaian sehari-hari masyarakat Melayu Pontianak dan sekitarnya. Dalam periode itu pula kemudian muncul beberapa motif tenun corak insang, yang dikenal luas, antara lain Corak Insang Berantai, Corak Insang Bertangkup, Corak Insang Delima, Corak Insang Awan, Corak Insang Berombak, Corak Insang Bertapak Besar dan lain sebagainya. Dari motif-motif tenun corak insang itu, para penenun kebanyakan lebih menyukai motif tumbuh-tumbuhan dan keadaan alam di sekitarnya.
Sebetulnya, tenun corak insang sebagai salah satu hasil tenun tradisional masyarakat Melayu Kalimantan Barat, dalam perjalanan sejarah dan perkembangan budayanya, tenun corak insang adalah menggambarkan peradaban masyarakat Melayu Pontianak yang pada khususnya bermukim di sepanjang aliran Sungai Kapuas di Kota Pontianak. Kehidupan mereka yang dominan berhubungan dengan sungai, tercermin pada tenunan corak insang yang merupakan salah satu hasil tenunan tradisional masyarakat Melayu Pontianak.
Di awal perkembangannya, kain tenun corak insang dihasilkan dari pengaruh kehidupan dan budaya masyarakat Melayu Pontianak yang mendiami kawasan sepanjang Sungai Kapuas.
Kehidupan sebagai nelayan yang menjadi profesi masyarakat ini menjadikan ikan sebagai salah satu media pengungkapan atau diwujudkan sebagai ekspresi seni yang dijabarkan sebagai motif atau corak dari hasil tenunan yang dihasilkannya. Ikan yang dimaksudkan tersebut bukanlah gambar seekor ikan secara utuh, tetapi salah satu bagian terpenting dari anatomi ikan yaitu yang paling vital yang oleh masyarakat Melayu Pontianak dinamakan dengan insang ikan. Inilah yang dijadikan sebagai obyek manifestasi apresiasi masyarakat penghasil kain tenun tersebut.
Dalam pertumbuhan dan kemudian perkembangan budayanya apresiasi akan insang tersebut menjadi suatu kesepakatan budaya masyarakat Melayu Pontianak untuk mengidentifikasikan hasil tenun mereka dengan sebutan Kain Tenun Corak Insang.
Meski demikian sebetulnya pada masa yang bersamaan di awal pertumbuhan dan mula perkembangan tenun corak insang tersebut, masyarakat Melayu Pontianak juga menghasilkan hasil tenun tradisional yang dikenal dengan nama Tenun Sisip dan Tenun Celup atau Tenun Ikat.
Untuk membedakan antara kain tenun corak insang dengan dua jenis disebutkan terakhir kali, di mana Tenun Sisip adalah penenunan yang khusus untuk mengerjakan kain bersulamkan kelingkang, seperti kain tabir, selendang, bahan baju dan kain untuk pengantin.
Biasanya kain Tenun Sisip ini diperkenalkan dengan nama Kain Belande atau juga Tenun Tumpu. Sedangkan Tenun Celup atau Tenun Ikat adalah tenunan khusus untuk mengerjakan kain insang dan juga kain pelekat. Ukurannya lebih panjang sehingga dinamakan dengan Tenun Gantung.
Sebetulnya, penamaan corak insang untuk hasil tenunan tradisional masyarakat Melayu Pontianak ini terinspirasikan dari insang ikan juga mengandung makna filosofis di dalamnya. Makna filosofis tersebut antara lain menggambarkan alat kehidupan, yaitu pernapasan pada ikan. Ini mengandung makna sebagai hasil akal-budi untuk menunjang kehidupan.
Kemudian mengandung pengertian sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pesisir yang mendiami sepanjang aliran Sungai Kapuas yang dikenal luas sebagai nelayan.
Selain kedua hal itu, adalah sebagai ungkapan rasa cinta kepada alam dan lingkungan serta menunjukkan semangat kebaharian.
Dari kesemuanya, mengandung suatu simpulan yang memberikan dorongan dan semangat untuk terus memacu dalam gerak kehidupan atau dalam hal ini aktivitas untuk membangun. Dengan demikian, arti dan makna dari Kain Tenun Corak Insang adalah simbol dari napas, hidup dan bergerak.
Penulis: Peminat kajian sejarah kontemporer Kalimantan Barat, Syafaruddin DaEng Usman
Baca juga: Lomba Desain Motif Corak Insang Hadiahnya Puluhan Juta
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....