Karhutla Kalbar Ancam Kelangsungan Hidup dan Ekosistem Satwa Liar
- 01 Okt 2026 14:23 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kabar) tidak hanya memicu masalah kesehatan dan lingkungan bagi manusia, tetapi juga memberikan ancaman serius terhadap kelangsungan hidup satwa liar. Hilangnya ekosistem memaksa berbagai pihak bekerja ekstra untuk mengevakuasi, merehabilitasi, serta melindungi satwa dari ancaman kematian dan konflik dengan warga.
Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar, Dian Setyaningsih mengungkapkan, satwa yang dievakuasi akibat karhutla umumnya menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dehidrasi, malnutrisi, hingga luka bakar. Satwa seperti orangutan, kukang, dan trenggiling membutuhkan penanganan medis menyeluruh sebelum dapat dilepasliarkan kembali ke kawasan konservasi atau cagar alam yang aman dari titik api.
"Jadi, memang perlindungan habitat itu sangat penting. Ketika habitatnya rusak atau hilang, hilang pula harapan hidup mereka," kata Dian Setyaningsih dalam dialog Ruang Terbuka di RRI Pontianak, Kamis, 1 Oktober 2026.
Kerusakan habitat akibat karhutla juga menyisakan masalah jangka panjang terkait perilaku satwa. Arabela Landscape Program Manager WWF-Indonesia, Albertus Tjiu menjelaskan bahwa satwa yang terdampak tidak hanya kehilangan pohon pakan dan sarang, tetapi juga rentan mengalami trauma batin. Rehabilitasi pascakarhutla mengharuskan adanya pemetaan kawasan serta penanaman ulang pohon yang spesifik sebagai sumber pakan, bukan sekadar penghijauan biasa.
"Di balik cerita karhutla itu banyak spesies yang ikut terbakar, mulai dari ular, landak, trenggiling, hingga orangutan. Kita bisa melihat betapa dahsyatnya dampak bencana ini terhadap populasi dan rumah mereka," ucap Albertus Tjiu.
Di sisi lain, upaya pencegahan agar habitat satwa tidak semakin meluas terbakar terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Saat ini, operasi pemadaman dan pendinginan lahan terus digencarkan secara terpadu. Kendala geografis di kawasan gambut menjadi tantangan terberat bagi petugas gabungan di lapangan.
"Kendala terbesar kita di lapangan saat ini adalah ketiadaan sumber air. Personel ada, alat lengkap, tetapi airnya tidak ada. Ketika sumber air sulit, mau tidak mau kita lakukan operasi udara dengan metode water bombing," ujar Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel.
Hingga awal Oktober 2026, dari sepuluh kabupaten yang terdampak karhutla di Kalimantan Barat, delapan di antaranya sudah memasuki tahap pendinginan. Tersisa wilayah Ketapang dan Kayong Utara yang masih dalam tahap operasi pemadaman intensif. Kerja sama lintas sektoral, dari pemerintah, lembaga konservasi, hingga masyarakat, menjadi kunci utama untuk memastikan sisa bentang alam Kalimantan Barat tetap bisa menjadi rumah yang aman bagi satwa endemiknya.
Ryan Ivander Aldino, MagangHub II 2026
Baca juga: Menhan RI Berikan Anugerah Satyalencana Dharma Samudera kepada 361 Personel JSDF
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....