Bujang Dare Pontianak Ajak Gen Z Lestarikan Budaya Lokal di Era Digital

  • 24 Sep 2026 23:29 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Di tengah derasnya arus budaya asing dan perkembangan teknologi digital, Bujang Dare Kota Pontianak 2026 mengajak generasi muda untuk tetap mengenal dan menjaga warisan budaya lokal. Upaya tersebut dinilai dapat dilakukan dengan memanfaatkan media sosial serta mengemas budaya melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan Gen Z. Ajakan tersebut disampaikan oleh Bujang dan Dare Pontianak 2026, Jibril Cisse Alindra dan Farras Dila, saat menjadi narasumber dalam program NGOPI (Ngobrolin Prestasi dan Informasi) di Studio Pro 2 RRI Pontianak, Rabu, 2 September 2026.

Farras mengatakan, derasnya budaya luar yang masuk melalui berbagai platform digital membuat sebagian anak muda semakin kurang mengenal budaya daerah sendiri. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Bujang Dare memiliki peran untuk memperkenalkan kembali kebudayaan lokal kepada generasi muda.

"Anak-anak muda kan karena banyaknya budaya luar yang masuk itu jadi kurang mereka mengenal budaya sendiri. Nah, di situlah peran kami Bujang Dare buat mengenalkan ke mereka budaya-budaya, khususnya budaya Kota Pontianak," jelas Farras.

Farras menilai, media sosial dapat menjadi salah satu sarana efektif untuk memperkenalkan budaya lokal dengan cara yang lebih menarik dan tidak kaku. Gaya hidup kekinian juga dapat dikombinasikan dengan unsur budaya sehingga lebih mudah diterima generasi muda.

Sementara itu, Jibril menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara mengikuti perkembangan zaman dan mempertahankan nilai-nilai tradisi. Menurutnya, teknologi dan modernitas tidak harus membuat generasi muda meninggalkan identitas budaya daerah.

"Kita tetap bawa tradisi tapi tetap enggak lupa teknologi, enggak tinggalin modernitas tapi tradisi tetap jangan dilupain, kayak seimbanglah gitu kan. Karena ngikutin perkembangan zaman anak muda zaman sekarang juga," kata Jibril.

Jibril juga melihat sejumlah unsur budaya lokal memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Salah satunya kain bermotif Corak Insang dan pakaian adat Melayu yang dapat dikemas menjadi tren fesyen sehari-hari.

Menurutnya, budaya lokal tidak kalah menarik dibandingkan budaya asing apabila diperkenalkan melalui kemasan yang kreatif, modern, dan sesuai dengan karakter generasi muda.

Jibril dan Farras berkomitmen memanfaatkan berbagai ruang, baik melalui kampanye secara langsung maupun media sosial, untuk memperkenalkan kebudayaan daerah. Upaya tersebut mencakup pengenalan tradisi, tarian Jepin, hingga keunikan kuliner Melayu.

Keduanya berharap peran Bujang Dare Kota Pontianak dapat menjadi bagian dari gerakan generasi muda dalam menjaga keberadaan budaya lokal di tengah perubahan zaman.

Dengan pendekatan yang kreatif dan memanfaatkan perkembangan teknologi, warisan budaya Melayu dan keberagaman budaya Kalimantan Barat diharapkan tetap dikenal, dicintai, dan relevan bagi generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....