SMPN 1 Pontianak Perpanjang PJJ, Sekolah Pastikan Interaksi Guru-Murid Berjalan

  • 21 Sep 2026 23:24 WIB
  •  Pontianak
Poin Utama
  • Pembelajaran Jarak Jauh
  • SMPN 1 Pontianak
  • Perpanjangan PJJ

RRI.CO.ID, Pontianak - SMP Negeri 1 Pontianak kembali memperpanjang pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menyusul kondisi kualitas udara di Kota Pontianak yang kembali memburuk akibat kabut asap. Sebelumnya, pihak sekolah sempat mempersiapkan pembelajaran tatap muka setelah kondisi udara dinilai membaik dan indeks kualitas udara berada di bawah batas yang ditetapkan untuk pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

Namun, kondisi udara pada akhir pekan kembali menurun sehingga sekolah melanjutkan pembelajaran secara daring. Kepala SMPN 1 Pontianak, Kiswanti, mengatakan, pihak sekolah sebenarnya telah mempersiapkan pembelajaran tatap muka sejak Jumat. Namun, rencana tersebut kembali berubah setelah mendapat informasi mengenai perpanjangan PJJ.

"Mulai hari Jumat itu kami sebenarnya sudah bersiap bagaimana mempersiapkan pembelajaran tatap muka. Tapi ternyata di hari Sabtu dan Minggu kondisi malah semakin menurun. Sehingga di Minggu itu sudah ada info bahwa kita adalah perpanjangan lagi PJJ," ujar Kiswanti, di ruang kerjanya, Senin, 21 September 2026.

Kiswanti menjelaskan, sekolah kemudian kembali menyampaikan informasi tersebut kepada para orang tua dan melanjutkan sistem pembelajaran daring yang telah diterapkan pada pekan sebelumnya. Kiswanti menambahkan, hingga saat ini, orang tua siswa dapat menerima kebijakan tersebut. Sekolah juga belum menerima keluhan langsung dari orang tua terkait perpanjangan pembelajaran jarak jauh.

Meski demikian, pelaksanaan PJJ yang kini telah memasuki pekan keenam mulai menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah keterbatasan guru dalam memantau secara langsung kondisi dan pemahaman siswa selama mengikuti pembelajaran.

"Kendala itu misalnya konsentrasi anak. Guru tidak bisa memantau langsung kondisi anak karena hanya di ruang virtual. Jadi memastikan bahwa anak ini sudah paham atau mengerjakan atau tidak, itu juga memang tidak bisa maksimal," jelasnya.

Memasuki pekan kelima dan keenam, sejumlah guru mata pelajaran juga mulai menemukan siswa yang terlambat mengumpulkan tugas, bahkan ada yang belum menyelesaikannya.

Pihak sekolah menyadari kondisi tersebut dan memberikan sejumlah keringanan dalam pemberian tugas kepada siswa. Sekolah juga melakukan evaluasi serta mengingatkan siswa melalui guru kelas dan orang tua.

"Karena kita memastikan bahwa pembelajaran tetap bermakna, kemudian juga kami memastikan tidak ada learning loss," kata Kepala Sekolah.

Sementara itu, Wakil Kepala SMPN 1 Pontianak bidang Kurikulum, Astody Gusta, mengatakan pelaksanaan PJJ selama enam pekan membuat perubahan dalam proses belajar mengajar cukup terasa, terutama dari sisi interaksi antara guru dan siswa.

Menurutnya, dalam pembelajaran tatap muka, guru dapat melihat ekspresi serta kondisi siswa secara langsung. Sementara dalam pembelajaran daring, hal tersebut menjadi lebih terbatas.

"Terutama di sini mengenai interaksi. Biasanya kita berinteraksi secara langsung, terus kita bisa melihat secara langsung bagaimana ekspresi anak. Kita bisa menemani, mengetahui bagaimana mood anak di hari itu," ujarnya.

Untuk menjaga interaksi selama PJJ, sekolah memanfaatkan berbagai platform digital, termasuk Zoom dan layanan pertemuan daring lainnya.

"Supaya setidaknya ada interaksi, walaupun terbatas tetapi setidaknya kita bisa meminimalisir kurangnya interaksi antara guru dengan murid," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....